-->

Amole! Ayo Menari di Festival Kamoro


KUALA KENCANA (MIMIKA) - Beraneka suku yang tinggal di Papua, makin memperkaya budaya di sana. Datang saja ke Festival Suku Kamoro. Wisatawan bisa menari bersama, membeli ukiran artistik dan menikmati makanan mulai dari sagu, ikan, sampai ulat dan cacing.

Puas menjelajah Gunung Grasberg setinggi 4.285 mdpl dan terbang di atas salju Puncak Cartenz, tim Dream Destination Papua 2 melanjutkan petualangannya. Kami turun dari gunung kembali ke dataran rendah Timika pada Sabtu (9/3/2013).

Sebuah acara seru sedang kami buru, Festival Kamoro. Ini adalah salah satu festival suku di Papua, selain Festival Asmat, Festival Lembah Baliem dan Festival Raja Ampat. Bedanya, Festival Kamoro bisa diadakan beberapa kali dalam setahun karena digelar dengan skala yang lebih kecil.

Lokasi penyelenggaraan festival bisa berpindah-pindah. Kali ini, festival digelar di Rimba Golf, Kuala Kencana pada 9-10 Maret 2013. Kami berangkat buru-buru dan beruntung bisa sampai di lokasi sebelum festival dimulai. Jadi, kami bisa melihat sekitar 40 warga Suku Kamoro bersiap-siap memakai baju dan latihan menari.

Sekitar pukul 11.00 WIT, festival pun dimulai. Festival ini dibuka dengan Tari Kasuari. Tarian ini melibatkan sekitar 30 orang penari. Ada satu orang memakai kostum anyaman sebesar barongsai yang melambangkan burung kasuari. Ada lagi satu pria yang seluruh tubuhnya dicat hitam putih dengan motif bintik-bintik.

Fotografer sekaligus Antropolog, Kal Muller kepada detikTravel bercerita soal Suku Kamoro ini. Menurut dia, yang mengikuti festival kali ini adalah dari Desa Iwaka. Nah, Tari Kasuari ini berhubungan erat dengan kehidupan manusia di Suku Kamoro.

Dalam tarian ini sekitar 20 pria Kamoro membentuk dua baris panjang. Penari dengan kostum kasuari menari sendiri di barisan paling depan. Di tengah-tengah mereka, pria dengan cat tubuh bintik-bintik dikepung penari lain yang membawa tombak. Pria itu lantas dirangkul dan diarak berkeliling. Begini arti tariannya menurut Kal Muller:

Ada pemuda Kamoro yang jatuh cinta dengan seorang gadis, namun ayah si gadis tidak setuju. Si pemuda lari ke hutan dan menjadi kasuari. Saat dia kembali ke desa, warga tidak mengenalinya dan dia hampir saja diburu. Namun warga akhirnya sadar, inilah pemuda yang lari ke hutan. Pemuda itu kemudian mengajari warga desa Tari Kasuari.

Sungguh tarian yang penuh makna bagi warga Kamoro. Namun Festival Kamoro masih punya banyak hal seru. Para mama alias ibu-ibu membuat sagu, membakar ikan dan ulat sagu, serta menyiapkan cacing tambelo untuk dimakan. Sementara yang laki-laki menabuh tifa dan kita bisa ikut berjoget dengan mereka.

Oh iya, jangan lupa membeli ukiran khas Suku Kamoro. Mereka juga pandai mengukir seperti halnya Suku Asmat. Ucapkanlah 'Amole' alias halo atau selamat datang dan mereka akan tersenyum ramah untuk Anda. [DetikTravel]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Iklan Bawah Artikel


Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari  Papua Untuk Semua di Grup Telegram Papua Untuk Semua. Klik link https://t.me/PapuaCom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.

Papua Untuk Semua - Jendela Anak Tanah