-->

KNPB Kesal Tidak Diterima Timotius Murib

KOTA JAYAPURA – Juru bicara KNPB Wim Rock Medlama menyatakan kekesalannya kepada Ketua MRP, Timotius Murib yang menurutnya tidak menerima rakyat.

“Kami ke MRP itu karena kami tahu di sana itu adalah honainya rakyat. MRP ada karena rakyat yang memilih mereka, tidak mungkin kalau rakyat tidak bicara Papua merdeka ada kantor MRP di sana,” ujarnya.

Lanjutnya, tidak mungkin ada orang – orang yang duduk di MRP, ketika mereka menyalurkan aspirasi  malah kompromi dengan pihak aparat keamanan. “Kita rakyat ini melakukan perlawanan, tapi Ketua MRP, wakil dan lain – lain semua menolak kita, mereka meminta hanya perwakilan,” kesalnya.

Padahal sebelumnya, kata dia, Buchtar Tabuni sudah melakukan negosiasi dengan pihak MRR dalam hal ini Ketua MRP namun ketua MRP tidak terima. “Buchtar Tabuni sendiri sudah melakukan negosiasi menghadap Ketua MRP dua kali tapi tida terimah hanya bersikeras untuk perwakilan,” katanya. Ketua MRP tidak mau ketemu massa, hanya mau ketemua perwakilan. “Inikan proses awal yang sudah dikeluarkan oleh ketua MRP sendiri berarti pada prinsipnya ketua MRP tidak mau terima,” sambungnya.

Ia juga mengatakan, terjadinya kekacauan pada demo damai yang dilakukan berawal dari pihak TNI/PORI. Menurut dia,sebelum menuju ke Kantor MRP massa berkumpul di beberapa titik. Salah satunya di Gapura Uncen Perumnas III.

“Pagi jam 6 itu kawan – kawan dari BEM Uncen, kawan – kawan dari Rusunawa unit satu sampai enam sudah turun. Pada pukul 7.30 mereka sudah melakukan pemalangan, teman – teman sudah melakukan orasi politik di tempat ini. Saat kita masih orasi teman – teman sudah kumpul, pihak aparat keamanan mulai datang dan mulai kepung kita di tempat ini dengan diback-up Brimob,” kata dia di Gapura Uncen Perumnas III, Senin (13/05/2013) kemarin.

Jelang beberawa jam melakukan orasi dan berkumpul di Gapura Uncen, mereka negosiasi dengan pihak kepolisian agar massa bisa sampai di kantor MRP. Akhirnya pihak keamanan memberikan dua motor untuk mengawal massa menuju Kantor MRP.

Katanya, setelah negosiasi untuk bagaimana akses bisa sampai di halaman MRP, akhirnya pihak keamanan sediakan beberapa motor untuk kawal ke sana. Motor – motor semua diarahkan di belakang dan itu menurutnya sudah bagus. Kemudian ada motor dari arah lain yang mau gabung, mobil Dalmas yang lihat langsung tabrak motor temannya yang mengendarai motor itu dan langsung jatuh. Lantas aparat turun menginjak, menampar  dan memukul sampai tangan patah, sehingga menjalani pengobatan di Rumah Sakit Abepura.

Lanjut dia, semenjak aksi itu kacau ada empat orang yang ditangkap dianiaya oleh pihak kepolisian. Selain 4 orang ditangkap, mereka juga dipukul. “Kami yang melihat sangat kesal sekali padahal tadi sudah negosiasi bagus, berjalan aman, tiba- tiba ada yang melakukan tindakan di luar kesepakatan,” ujar Medlama.

Menurutnya, yang memulai adalah aparat keamanan, bukan massa. Pihak keamanan katanya menuju ke teman – temannyta yang melakukan aksi dan melakukan pemukulan. Selain empat yang dapat tangkap itu ada yang sempat melarikan diri tapi kena botol pecah kemudian luka – luka dan lari.

Menurut dia, dalam manajemen aksi yang sudah dibuat tidak ada di dalamnya menyebutkan ada tindakan anarkis. ”Tapi kami melihat pihak ketiga sengaja menyusup untuk melakukan pengacauan aksi damai yang dilakukan oleh rakyat Papua pada hari ini (kemarin, red),” ujarnya.

Di tempat yang sama, anggota KNPB Asa Asso mengatakan, ”Kami melakukan demo yang bermartabat namun kalau memang dibatasi, bukan hari ini kekalahan kami untuk melakukan demo. Kami menuntut kepada MRP untuk segera bertanggung jawab atas penahanan Ketua Umum KNPB Viktor Yeimo, Cs agar segera dibebaskan,” tuntutnya. Demo yang mereka gelar itu, antara lain menuntut agar tahanan-tahanan 1 Mei di Sorong, Biak dan Timika dibebaskan. [PapuaPos| PapuaPos]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Iklan Bawah Artikel


Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari  Papua Untuk Semua di Grup Telegram Papua Untuk Semua. Klik link https://t.me/PapuaCom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.

Papua Untuk Semua - Jendela Anak Tanah