-->

Tak Mampu Hadang Gelombang Laut, Tembok Beton Penahan Arus di Skouw Mabo Rusak

SKOUW (KOTA JAYAPURA) - Proses pengikisan pantai karena kekuatan gelombang dan arus laut merusak bahkan mendorong penahan gelombang yang dibangun Pemerintah Kota Jayapura di Kampung Skouw Mabo. Pembangunan beton-beton guna menahan arus gelombang di sepanjang pasir Kampung Skouw mulai dibangun sekitar tiga tahun lalu.

“Tembok penahan gelombang laut ini kira-kira dibangun 2010 dan sampai sekarang semua sudah rusak atau tak mampu menahan gelombang laut hingga terdampar ke pasir di pantai,”kata Andi Malo kepada tabloidjubi.com di Jayapura, Kamis(18/07/2013). Dia menambahkan kelihatannya penahan arus gelombang itu tak mampu menahan dan mungkin perlu didisain lebih baik agar kuat.

Hal senada juga dikatakan Ondoafi Kampung Skouw Mabo, Jans Malo kalau pengikisan di tepi pantai terus terjadi, bahkan lahan kebun warga semakin hari termakan arus gelombang laut. Memang ada upaya dari pemerintah Kota Jayapura untuk membangun tembok penahan gelombang laut namun lanjutnya dia tak mampu pula untuk menahan terjangan gelombang laut.

Lindong Pangkali, mantan Koordinator Papua Forest Wacht mengatakan abrasi adalah proses pengikisan pantai oleh kekuatan gelombang laut dan arus laut yang bersifat merusak. “Ada yang mengatakan Abrasi sebagai erosi pantai. Kerusakan garis pantai akibat abrasi ini dipengaruhi oleh gejala alami dan tindakan manusia,”katanya.

Menurut dia tindakan manusia yang mendorong terjadinya abrasi adalah pengambilan batu dan pasir di pesisir pantai sebagai bahan bangunan. “Selain itu penebangan pohon-pohon pada hutan pantai atau hutan mangrove memacu terjadinya abrasi pantai lebih cepat,”katanya.

Kampung Skouw Mabo termasuk dalam Distrik Muara Tami Kota Jayapura, selain kampung ini ada juga dua kampungnya yang saling berdekatan yaitu Skou Sae dan Skou Yambe. Pesisir pantai di sini mulai dari Holtekang sampai ke Vanimo, Aitape dan Wewak, Papua New Guinea hampir sama dan langsung berhadapan dengan gelombang laut Samudera Pasifik.

Distrik Muara Tami juga memiliki wilayah administrasi yang lainnya masing-masing Kampung Holtekamp, Kampung Koya Tengah,Kampung Moso. Sedangkan dua wilayah Keluruhan termasuk basis kaum transmigran masing-masing Kelurahan Koya Barat dan Koya Timur.

Letak Distrik Muara Tami sebelah Utara langung berbatasan dengan Samudera Pasifik sehingga tak heran kalau Pantai Holtekamp, Pantai Kampung Skouw Mabo, Slouw Sae dan Skouw Yambe berhadapan dengan gelombang laut. Akibatnya tembok-tembok penahan yang pernah dibangun tak mampu menahan derasnya gelombang laut.

Sedangkan sebelah Selatan berbatasan dengan Distrik Skamto Kabupaten Keerrom. Sebelah Barat berbatasan dengan Distrik Abepura dan sebelah Timur langsung dengan negara tetangga PNG. Kampung Lido, Kampung Wutung, dan warga Vanimo memiliki hubungan kekerabatan dengan warga di kampung-kampung Skouw Mabo, Skouw Yambe dan Skouw Sae.

Saat ini PT PLN (Persero) sedang membangun Pusat Pembangkit Listrik Tenaga Uap(PLTU) tak jauh dari Kampung Holtekamp, Distrik Muara Tami tepatnya di lokasi bekas Log Pond miliki Hanurata. Turbin dari PLTU ini akan digerakan oleh uap air yang memakai tenaga/ energi batu bara. Abrasi air laut yang begitu besar dikhawatirkan juga akan mengikis tepian pantai tempat pembangkit Listrik Tenaga Uap yang direncanakan beroperasi 2014. Proyek Pusat Listrik Tenaga Uap (PLTU) Holtekamp 2 x 10 MW adalah proyek monumental karena merupakan PLTU pertama di wilayah Papua. Progres proyek yang termasuk bagian dari 10.000 Mega Watt (MW) tahap 1 ini telah mencapai 70 persen.  [TabloidJubi| TabloidJubi]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Iklan Bawah Artikel


Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari  Papua Untuk Semua di Grup Telegram Papua Untuk Semua. Klik link https://t.me/PapuaCom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.

Papua Untuk Semua - Jendela Anak Tanah