-->

Pertikaian antara Masyarakat Hoarngutru dan Sather di Timika Diselesaikan secara Adat

TIMIKA (MIMIKA) - Kasat Binmas Polres Mimika, Iptu Mika Rumbrapuk mewakili Kapolres Mimika, AKBP Jermias Rontini, SIK MSi, Sabtu (31/08/2013) Pukul 11.00 WIT menghadiri acara adat perdamaian masyarakat Hoarngutru dengan Sather, atas pertikaian yang terjadi beberapa bulan yang lalu. Acara tersebut dilaksanakan di Jalan Pattimura, tepatnya di Gang Nuri, yang kemudian dilanjutkan di kali kabur, lokasi pendulangan di Mile 30.

Prosesi perdamaian ini dilakukan karena pada beberapa waktu yang lalu, tepatnya pada Tanggal 4 Juni 2013, telah terjadi pertikaian serumpun, antara masyarakat Hoarngutru dengan Sather, yang berujung pada korban jiwa dari salah satu suku tersebut.

Pada kesempatan itu, sambutan yang disampaikan oleh Kapolres Mimika melalui Kasat Binmas, menyebutkan bahwa pada akhir bulan yang lalu, tepatnya tanggal 31 juli 2013, dia telah diinformasikan oleh seorang Tokoh Masyarakat (Tomas), Piet Fautngil, supaya pada hari yang akan ditentukan nanti, bisa menjadi penengah pada acara perdamaian yang dimaksud.

"Bahwa, kepada seluruh masyarakat yang melakukan pertikaian dan mengakibatkan korban jiwa pada beberapa bulan yang lalu, supaya setelah melakukan perdamaian, prosesi ritualnya bisa disampaikan juga kepada mereka yang tidak sempat hadir dalam acara ini dan anak-anak yang sudah ada maupun yang hendak datang untuk mencari makan di Tanah Amungsa ini," paparnya.

Kata Kasat Binmas, keamanan harus ada pada diri masyarakat masing-masing. Sebab jika diri sudah merasa aman, maka rasa aman itu akan timbul dan berkembang di tingkat keluarga, kerukunan, kelurahan bahkan bisa sampai ke tingkat kabupaten atau Negara.

"Oleh sebab itu saya sampaikan, berhubungan dengan perdamaian ini, yang dilakukan dengan beberapa ritual keagamaan, agar kedepannya nanti menjadi suatu keseriusan untuk ditindaklanjuti. Sebab jika bicara masalah ritual, itu artinya berbicara masalah agama dan mengatasnamakan Tuhan," tutur Kasat Binmas menyampaikan pesan Kapolres.

Seorang Tomas dari kelompok Hoarngutru, John B. Karubun, SS yang ditunjuk untuk memimpin prosesi ritual tersebut, kepada Radar Timika (Grup Koran Ini) yang ditemui saat acara ramah tamah, menyampaikan, bahwa inisiatif acara tersebut datang dari anak-anak muda sendiri.

"Sebenarnya yang mewujudkan sampai terjadinya acara perdamaian ini, adalah anak-anak kami sendiri yang kemarin bertikai. Mereka mengaku kepada kami bahwa di dalam diri mereka itu sebenarnya merasa sesak tentang pertikaian yang telah terjadi beberapa waktu lalu. Mereka merasa berdosa telah melukai hati dan perasaan saudara mereka sendiri," tutur John.

Kemudian, setelah mendengar kalimat penyesalan itu, lanjut dia, pihaknya selaku orang tua hanya dapat membantu lewat pikiran dan perasaan.

"Semuanya dikembalikan lagi kepada mereka sendiri (pihak korban dan pelaku). Setelah beberapa waktu kemudian, anak-anak ini datang lagi dengan membawa keputusan bahwa perdamaian diantara mereka harus terjadi dan dilaksanakan, bahkan mereka menyampaikan bahwa pada prinsipnya mereka tidak menghendaki pertikaian itu," kata John lagi.

Lanjutnya, dirinya merasa bangga, karena bukan hanya niat saja, tapi acara perdamaian tersebut benar-benar terlaksana, dengan 90 persen biaya yang ada ditanggung oleh anak-anak muda ini Adapun dalam upacara perdamaian itu, mereka sepakat dengan satu pernyataan yang telah dibuat bersama diatas kertas yang bermaterai dan diketahui oleh Kasat Binmas Polres Mimika, Iptu Mika Rumbrapuk.

Acara perdamaian yang berlangsung selama empat jam, yang dimulai sejak Pukul 11.00 WIT sampai Pukul 15.00WIT, masih berlanjut sampai pada acara ritual kedua yang dilakukan di lokasi kejadian di lokasi pendulangan.[RadarSorong]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Iklan Bawah Artikel


Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari  Papua Untuk Semua di Grup Telegram Papua Untuk Semua. Klik link https://t.me/PapuaCom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.

Papua Untuk Semua - Jendela Anak Tanah