-->

Bank Negara Indonesia (BNI) Nilai Kenaikan Suku Bunga Tidak Lemahkan Perekonomian

KOTA JAYAPURA - Bank Negara Indonesia (BNI) meyakini langkah Bank Indonesia (BI) untuk menaikan suku bunga acuan atau BI Rate pada 29 Agustus 2013 lalu sebesar 50 basis poin menjadi 7 persen tidak akan menekan pertumbuhan ekonomi.

Dengan melemahnya rupiah, maka Bank Indonesia akan mengambil kebijakan-kebijakan. Salah satunya kebijakan moneter yang diambil oleh Bank Indonesia ini adalah dengan langkah menaikan suku bunga dana imtek. Dan dari kenaikan suku bunga dana ini, itu adalah salah satu strategi untuk mengerem kenaikan dollar, sehingga dana itu terserap dan banyak yang memilih untuk di investasikannya ke tabungan di Perbankan dan pembelian dollar itu jadi berkurang.

Menurut Ceo Bank BNI Wilayah Papua, Lodewyck, Z.S, Pattihahuan atau yang biasa di sapa dengan Rully, secara perekonomian tidak perlu dikahwatirkan karena kebijakan melemahnya rupiah pernah dialami sebelumnya pada tahun 1999 sampai tahun 2000. Dan rupiah melemah belum dikhawatirkan di Papua.

Dikatakan, dengan BI menaikan suku bunga sebesar 50 basis point menjadi 7 persen, maka akan mampu menekan laju pertumbuhan ekonomi, sehingga dampak negatif tidak terlalu signifikan.

“Jadi Perbankan tidak perlu khawatir karena banyak sektor yang masih dibiayai oleh Perbankan tidak berimbas secara langsung, Namun dengan melemahnya rupiah, itu untuk menekan kenaikan kredit sehingga tidak besar,” kata Ceo Bank BNI Wilayah Papua, Rully kepada sejumlah wartawan ketika ditemui di ruang kerjanya.

 Lebih Lanjut Ia mengatakan untuk menekan lemahnya mata uang rupiah teradap dollar, maka Perbankan di Papua menaikan suku bunganya untuk di investasikan ke tabungan agar pembelian mata uang dollar berkurang.

Menurutnya, langkah konkrit  BI cukup efisien untuk meredam tekanan terhadap nilai tukar yang secara global dan ini memang sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan (QE) Quatative Easing. Dan kalaupun bunga kredit naik, tidak secara serta merta membenai perbankan.

“Kenaikan BI rate adalah langkah bijak dan tepat dilakukan untuk mengendalikan inflasi dan menguatkan rupiah yanpa harus memberikan efek negatif,” tutur rully.

Ketika disinggung dengan adanya kebijakan Bank Indonesia yang menaikan suku bunga per Aguatus 2013, Ceo BNI Wilayah Papua, Rully  mengatakan, dengan adanya kenaikan tersebut, bagi BNI sendiri kenaikan suku bunga BI dampak negatif  tidak terlalu signifikan, laju pertumbuhan nasabah senantiasa terjaga juga transaksi yang terjadi setiap harinya justru mengalami peningkatan yang cukup pesat  pada periode Juli-Agustus.

Sehingga lanjut Rully, langkah BI agar  bisa memberikan efek positif. Dan untuk BNI sendiri salah satunya yaitu dapat mengerem laju inflasi dan ekspetasinya, dan membantu menjaga kurs rupiah agar tidak kembali jatuh, karena suku bunga dalam rupiah menjadi atraktif dan bisa memperkuat  liquiditas atas dollar AS.

“Tapi yang terpenting mengembalikan kepercayaan pasar, juga cadangan devisa akan terjaga dengan baik, karena BI tidak harus mengintervensi pasar secara tidak langsung. Namun demikian BI akan tetap mengawal rupiah agar tetap terjaga,” tandasnya.

Rully menambahkan, perekonomian  Indonesia diperkirakan masih akan tetap tumbuh, meskipun salah satu respon perbankan atas kenaikan  BI Rate tersebut  adalah  menaikan suku bunga dana dan kredit.

Untuk diketahui, mata uang rupiah yang digunakan saat ini memiliki nilai tukar rendah dari harga Rp 11. 753. Maka Bank Indonesia mengambil kebijakan untuk menaikan suku bunganya untuk di investasikan ke tabungan agar pembelian mata uang dollar berkurang jelasnya. [HarianPagiPapua]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Iklan Bawah Artikel


Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari  Papua Untuk Semua di Grup Telegram Papua Untuk Semua. Klik link https://t.me/PapuaCom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.

Papua Untuk Semua - Jendela Anak Tanah