-->

Randy Enos Hallatu, Musisi Kelahiran Papua yang Mewarnai Australia

MELBOURNE (AUSTRALIA) - Panggil saja dia Enos. Sosok yang ramah, murah senyum, dan tutur katanya tertata dalam intonasi yang terjaga. Nama lengkapnya Randy Enos Hallatu, musisi berbakat kelahiran 2 Maret 1984 di Jayapura.

Melalui Indonesian Melbourne Musician Network (IMMN) yang dipimpinnya, Enos memberi warna Indonesia dalam denyut musik di Melbourne, Australia. Publik di kota paling layak huni di muka bumi ini tak lagi asing dengan komposisi Nusantara garapan Enos dan kawan-kawan. Pagelaran From Dawn To Dusk (FDTD)  I pada 2012 dan FDTD II pada 2013 menjadi pembuktian IMMN.

FDTD adalah ajang kolaborasi alat musik Nusantara dalam kemasan modern. Laiknya segala hal yang dianggap biasa di nusantara, dimulai dari barat ke timur, dari Sabang baru mengarah ke Merauke, demikian pula soal nuansa musik selama ini menurut Enos.

Lewat karya musiknya, Enos mencoba menyampaikan kritik. Ia coba membalik wacana itu. Dari terbit matahari hingga terbenam. Dari timur ke barat. Semoga suatu ketika pun pembangunan melaju seiring perputaran matahari.

“Bahasa saya adalah musik. Aspirasi sebagai warga Papua saya salurkan melalui karya seni. Papua sudah menyatu dan ikut mewarnai budaya Indonesia,” tutur Enos. “Politik bukan bidang saya, tetapi saya menghargai saudara-sadara saya yang memilih jalan itu,” tambahnya terus terang.

Enos mengaku percaya, jalan kebudayaan adalah solusi untuk merawat integrasi Indonesia. "FDTD itu semacam gado-gado. Semua bahan diaduk menghasilkan sajian yang mengandung segala rasa," kata dia.

Dalam FDTD, ada gamelan, angklung, kendang, saluang, seruling, dan aneka alat musik tradisional Indonesia lainya menyatu dengan bebunyian alat-alat musik modern. Hasilnya, musik Nusantara rasa dunia.

FDTD menyajikan musik yang ringan dan dinamis, tetapi tetap menghadirkan kontemplasi pada beberapa bagian. Tak heran jika sambutan penonton selalu meriah dalam pementasan mereka. FDTD juga menjadi sajian multikultural.

Para pemain Indonesia berasal dari berbagai suku dan agama, begitu pula para penampil asal Australia berakar dari berbagai belahan dunia. Sajian ciamik itulah, aransemen seorang putra Papua yang sangat bangga dengan ke-Indonesia-annya.

“Tahun depan kami harus bisa tampil di Melbourne Convention Centre,” tutur Enos optimistis. MCC adalah salah satu gedung untuk pertunjukan musik terbaik di Melbourne. Grup Trio Lestari  - trio beranggotakan Glenn Fredly, Sandhy Sondoro, dan Rio Febrian - pernah merasakan kenyamanan akustik gedung ini dalam penampilan mereka di acara Ecetera 2012.

Penampilan FDTD I dan II memang masih terasa kurang maksimal karena keterbatasan akustik gedung yang digunakan. Karenanya, tampil di MCC menjadi sebuah keinginan yang menyemangati. Enos dan kawan-kawan IMMN juga berambisi untuk memasukkan pagelaran mereka sebagai agenda tahunan City of Melbourne.

Terlahir untuk musik

Menyelesaikan pendidikan dasar hingga menengah di Papua, Enos tak langsung tinggal di Melbourne. Hampir sembilan tahun lamanya ia “menggelandang” sebagai musisi lokal. Ia bergerak dari satu panggung ke lain pagelaran.

Enos menguasai berbagai alat musik. Kadang ia menabuh drum, memetik bass atau menarikan jemarinya di atas tuts keyboard. Beberapa kali ia juga tampil sebagai koordinator musik dalam ajang tertentu.

Dengan bantuan pendeta Jonathan Pattiasiana, pada 2009 Enos menginjakkan kaki di bumi Kangguru. Ia menempuh studi marketing di Carrick Institute (2010), music composition di Box Hill Institute (2012) dan marketing di Holmesglen (2013).

“Saya menyelesaikan pendidikan vokasi marketing dan strata I di bidang musik  itu semua dengan biaya sendiri,” ujar Enos bangga. “Berat sekali memang mengatur waktu untuk belajar, bekerja dan bermusik, tapi saya sangat menikmatinya” sambungnya dengan senyum lebar.

Sikap pantang menyerah dan percaya diri memang terlihat dari raut wajahnya. Kini ia sedang menyiapkan diri untuk mengambil program master dalam bidang komposisi musik.

“Semoga saya bisa diterima di Universitas Melbourne atau Monash,” harap Enos. “Itu pun kalau saya dapat bantuan. Tanpa beasiswa, hampir mustahil saya bisa melanjutkan kuliah. Biayanya mahal sekali.” Anyone?. [Kompas]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Iklan Bawah Artikel


Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari  Papua Untuk Semua di Grup Telegram Papua Untuk Semua. Klik link https://t.me/PapuaCom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.

Papua Untuk Semua - Jendela Anak Tanah