Tradisi dan Budaya

[tradisi][threecolumns]

Sosial dan Komunitas

[sosial][list]

Pariwisata dan Rekreasi

[pariwisata][threecolumns]

Ekonomi

[ekonomi][list]

Politik

[politik][twocolumns]

Olahraga

[olahraga][bleft]

Pendidikan

[pendidikan][list]

Kesehatan

[kesehatan][list]

Hiburan

[hiburan][threecolumns]

Lingkungan

[lingkungan][list]

Teknologi

[teknologi][list]

Administrasi Pemerintahan

[pemerintah][twocolumns]

Laporan Otonomi Baru

[pemekaran][list]

Laporan Otonomi Khusus

[otonomi khusus][list]

Hukum dan Kriminal

[hukum][threecolumns]

Kecelakaan

[kecelakaan][list]

Bencana Alam

[bencana][list]

Tuesday, 3 March 2015

PT Freeport Indonesia Tetap Berikan Bantuan lewat LPMAK

loading...
TIMIKA (MIMIKA) – PT Freeport Indonesia menyatakan akan konsisten dalam memberikan dana bantuan sosial, ekonomi, pendidikan dan kesehatan kepada masyarakat asli Suku Amungme, Kamoro serta 5 Suku kekerabatan yakni Suku Nduga, Suku Moni, Suku Damal, Suku Mee dan Suku Dani melalui Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme-Kamoro (LPMAK). 

“Tetap, kita tetap memberikan bantuan,” ujar Presiden Direktur PTFI, Maroef Sjamsuddin saat ditanyai Salam Papua di Kuala Kencana pada Jumat (27/2) lalu.

Dijabarkan konsistensi bantuan yang diberikan perusahaan yang dipimpinnya ini merupakan kontribusi nyata yang selama ini dilakukan bersama dengan lembaga mitranya itu. Sehingga ditegaskan bahwa selama perusahaannya masih beroperasi di Papua, bentuk perhatian dan bantuan untuk mengembangkan masyarakat asli Papua disekitar wilayah perusahaan melalui LPMAK akan terus dilakukan.

“Lihat saja ada sekolah, ada rumah sakit, ada pembangunan-pembangunan, [semuanya] melalui LPMAK,” tuturnya.

Sedangkan terkait nilai bantuan yang diberikan, secara singkat Maroef menyatakan bahwa pihaknya tidak pernah menguranginya, namun disesuaikan dengan keuntungan yang didapatkan perusaan. Sebab, jumlah 1 persen dari pendapatan bersih perusahaan dalam setahunnya selalu berubah, dan dalam beberapa tahun terakhir ini mengalami penurunan karena kurangnya produksi yang terhambat oleh masalah pengurusan kontrak karya, pembangunan smelter dan hal-hal yang terkait dengannya.

“Nilainya masih sama, tidak ada pengurangan,” jelasnya dengan menandaskan bahwa pihaknya akan selalu mempercayakan pengelolaan dan penyaluran dana 1 persen kepada masyarakat 7 suku berkerabat itu kepada lembaga yang sudah melayani masyarakat asli sejak tahun 1996. [SalamPapua]

Silahkan berkomentar
  • Blogger Berkomentar dengan Blogger
  • Facebook Berkomentar dengan Facebook
  • Disqus Berkomentar dengan Disqus

No comments :


Loading...