-->

Transportasi Terpadu jadi Kunci Pembuka Isolasi Wilayah Pegunungan Papua

KOTA JAYAPURA – Sebagian wilayah Papua khususnya di Pegunungan masih terisolir dan jauh dari sentuhan pembangunan. Untuk itu, Papua membutuhkan transportasi terpadu guna membuka isolasi tersebut. Hal itu dikatakan Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Papua Yusuf Yambe Yabdi.

“Sebagian besar wilayah Papua lebih khusus di Pegunungan masih terisolir dan jauh dari sentuhan pembangunan, yang berdampak pada rendahnya Indeks Pembangunan Manusia Papua. Jadi untuk mengatasi hal itu, salah satu hal yang perlu dibangun adalah transportasi terpadu,”ujar Yusuf Yambe kepada wartawan usai penutupan Rapat Koordinasi Teknis Perhubungan se-Papua di Merauke, Kamis malam 16 April.

Dengan dibangunnya transportasi terpadu, lanjut Yusuf, diharapkan, kemiskinan yang membelenggu masyarakat Papua khususnya di Pegunungan, akan bisa diurai secara perlahan. “Kami optimis dengan adanya transportasi terpadu, maka tingkat kemahalan barang dan jasa di beberapa wilayah akan bisa ditekan, sehingga pembangunan juga bisa dilaksanakan dengan optimal dan ekonomi masyarakat akan semakin meningkat,”paparnya.

Kata dia, transportasi terpadu yang akan dibangun, harus terkoneksi dengan semua wilayah Papua.”Transportasi harus tersambung dengan semua daerah Papua,” pungkasnya.

Untuk mewujudkannya dan agar lebih efektif serta tepat sasaran, maka pembangunan transportasi terpadu itu akan dilakukan berdasarkan wilayah adat. “Sesuai kebijakan gubernur terkait perhubungan, maka pembangunan transpotasi terpadu dilaksanakan berdasarkan kawasan adat,. Ini dalam rangka optimalisasi manajemen regional dan juga meningkatkan regional marketing karena juga melihat sisi investasi sebagai pintu untuk Papua Bangkit Mandiri dan Sejahtera,”paparnya.

Aspek lain yang jauh lebih penting, sambungnya, bagaimana pembangunan transportasi terpadu ini, mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat Papua. “Kalau kualitas hidup masyarakat Papua meningkatkan maka indeks pembangunan manusia Papua secara nasional juga akan berubah, ini yang jadi fokus utama dan perlu percepatan,”tukasnya.

Namun, Percepatan pembangunan transportasi terpadu akan optimal jika ditunjang berbagai persyaratan. “Harus ada ketersediaan dokumen, studi pemilihan lokasi, sertifikat, dokumen lingkungan, perencanaan teknis, baru kemudian membangun sesuai dengan tahapan yang disepakati serta merujuk kepada kebijakan alokasi anggaran yang muncul untuk setiap kegiatan tersebut. Dan itulah yang kami bahas dalam Rakenis,”ungkapnya.

Setiap kawasan adat akan diminta untuk menyusun program prioritas pembangunannya. “Setiap kawasan adat nanti akan tentukan program-programnya, mana yang jadi prioritas dikawasannya, kemudian menyepakati pembiayaan,”tuturnya.

Pada tahun tertentu, Papua bisa melihat hasil pembangunannya, dan gubernur bisa meresmikan. “Dengan metode pembangunan perkawasan, bisa diukur hasilnya, yang selesai bisa diresmikan yang belum bisa dilanjutkan,”ujarnya.
Dan yang terpenting hasil pembangunannya bisa berdampak pada pengembangan investasi dan IPM Papua.

Yusuf Yambe mengatakan, peran Perhubungan dalam meningkatkan IPM Papua dengan membangun transportasi terpadu sangat strategis, Sehingga ia meminta semua jajarannya baik tingkat provinsi maupun kabupaten/kota bekerja keras mewujudkannya. “Bicara ekonomi berarti ada tigal hal yakni Produksi, komsumsi dan distribusi kalau tidak ada distribusi maka akan mubazir, disinilah letak strategisnya peran perhubungan terkait dalam penyediaan sarana dan prasarana transportasi untuk distribusi,”jelasnya.  Wilayah adat yang menjadi fokus pembangunan infrastruktur Perhubungan adalah La Pago, Mee Pago, Anim Ha, Saireri dan Mamta. [BintangPapua]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Iklan Bawah Artikel


Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari  Papua Untuk Semua di Grup Telegram Papua Untuk Semua. Klik link https://t.me/PapuaCom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.

Papua Untuk Semua - Jendela Anak Tanah