-->

Wartawan Majalah Selangkah, Yohanes Kuayo Ditahan Polisi Nabire karena 'Free West Papua'

NABIRE - Kamis, 30 April 2015, Pukul 11: 00 WIT, wartawan (koresponden) majalahselangkah.com wilayah Nabire dan Dogiyai, Yohanes Kuayo pergi ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Nabire untuk melakukan peliputan tentang Panglima Tentara Pembebasan Nasional-Organisasi Papua Merdeka (TPN-OPM) Devisi II Pemka IV Pembela Keadilan Wilayah Paniai, Leonardus Magai Yogi dan dua temannya yang tertembak dalam kontak tembak dengan Tim Satgas Polda Papua dan Tim Khusus Polres Nabire di Kampung Sanoba Atas Distrik Nabire, Kamis (30/4/2015), Pukul 10:40 waktu setempat.

Ketika tiba di sana (UGD RSUD), beberapa wartawan lain, Rein Windesy dari Metro TV dan Firdaus dari TV One sudah berada di sana. Yohanes meminta keterangan kepada komandan Timsus, tetapi ditolak dengan alasan masih belum bisa berikan keterangan kepada siapa pun. Setelah itu, Yohanes masuk ke UGD untuk mengambil data, tetapi belum boleh masuk ke sana.

Setelah sekitar 30 menit kemudian, Yohanes melihat banyak orang masuk keluar di UGD. Ia juga masuk ke UGD untuk meminta keterangan soal para korban penembakan ini. Di dalam, ia masih belum berhasil mendapatkan data. Ia haus dan keluar UGD untuk membeli minum. Pada saat itu, situasi di depan UGD RSUD Nabire dijaga super ketat.

Yohanes tidak sempat membeli minum dan segera kembali ke UGD karena ia merasa ada yang mengikutinya dari belakang. Setelah masuk ke UGD, Yohanes menemui dokter di bagian rekam medik. Ia duduk di kursi tempat rekam medik dan meminta data, tetapi dokter mengatakan meminta data kepada dokter yang menangani korban. Saat terjadi komunikasi inilah Yohanes Kuayo ditangkap beberapa polisi dan dinaikan di atas mobil polisi.

Saat ia ditangkap (pukul 12: 00),  Yohanes sempat sampaikan bahwa ia adalah wartawan dan sedang melakukan peliputan jurnalistik. Tetapi, polisi tidak merespon. Handphone milik Yohanes diambil polisi. Sementara tas rangsel yang berisi surat tugas peliputan, laptop, flashdisk, dan buku diambil polisi lainnya. Tanpa bicara banyak, Yohanes dibawa ke kantor Tim Khusus Polres Nabire.

Sekitar Pukul 12:30 WIT, kami menemui komandan Tim Khusus Polres Nabire. Kami menyampaikan bahwa Yohanes Kuayo adalah wartawan dan sedang melakukan tugas jurnalistik. Saat kami menemui Yohanes Kuayo di kantor Tim Khusus Polres Nabire, tangan sang wartawan dalam kondisi diborgol. Kami meminta untuk segera dilepaskan. Borgol dilepas dan kami meminta alasan penangkapan.

Komandan Tim Khusus Polres Nabire mengatakan, Yohanes Kuayo ditangkap karena berada di areal steril dengan mengenakan pakaian bertuliskan "Free West Papua". Lalu, kami sampaikan, pakaian, noken, topi yang ada tulisan "Free West Papua" itu banyak di mana-mana, sudah beredar luas di Papua.

Polisi kembali menjelaskan, situasinya tidak tepat. Pada saat itu, wilayah di sana sudah disteril dan ia mengenakan pakaian "Free West Papua", jadi mencurigakan. Karena itu, Yohanes Kuayo diamankan untuk diminta keterangan.

Sekitar Pukul 13:30 WIT, Yohanes diminta membeli pakaian baru untuk mengganti pakaian bertuliskan "Free West Papua". Setelah membeli dan mengganti pakaian, Yohanes Kuayo diperbolehkan pulang ke rumah.  [MajalahSelangkah]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Iklan Bawah Artikel


Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari  Papua Untuk Semua di Grup Telegram Papua Untuk Semua. Klik link https://t.me/PapuaCom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.

Papua Untuk Semua - Jendela Anak Tanah