-->

Cuaca Panas di Kabupaten Manokwari Bukan Musim Kemarau

MANOKWARI - Kota Manokwari dan sekitarnya beberapa minggu terakhir mengalami cuaca dan suhu yang cukup panas seperti sudah memasuki musim kemarau. Sebab, awan mendung sudah menipis dan siang hari sinar matahari sangat menyengat.

Kepala BMKG Manokwari, Denny Puttiray membenarkan kondisi tersebut. Namun, BMKG Manokwari mencatat bahwa kondisi itu bukan disebabkan karena sudah masuk pada musim kemarau. Sebab, masih ada kemungkinan beberapa hari kedepan akan terjadi hujan.

Meski demikian, BMKG Manokwari mengakui puncak musim kemarau di Indonesia terjadi pada pertengahan tahun 2015. “Di Manokwari belum bisa dikategorikan sebagai musim kemarau karena di Manokwari masih terjadi hujan. Tetapi memang belakangan ini sudah dua sampai tiga minggu tidak hujan,” terang Denny kepada Tabura Pos, di ruang kerjanya, Senin (13/7).

Selain itu, Denny menjelaskan, ada faktor lain dimana matahari sedang berada di kutub utara, yang menyebabkan suhu panas terfokus di kutub utara sedangkan kutub selatan dingin. Dari data itu, tercatat angin lebih banyak bertiup dari arah tenggara hingga selatan dan dikutub selatan dingin. “Sehingga penguapan sangat berkurang dan itu juga menyebabkan pertumbuhan awan akan berkurang. Di Indonesia umumnya memang masuk musim kemarau karena memang dibagian selatan kurang penguapan sementara khusus di Manokwari juga kurang penguapan, tetapi Manokwari belum bisa dikategorikan kemarau karena data yang kita punya masih ada hujannya, sehingga susah dikatakan kemarau,” beber Deny Puttiray.

Denny memastikan, dalam waktu dekat masih akan terjadi hujan di wilayah Manokwari. Sebab Manokwari tidak hanya di wilayah kota, akan tetapi masuk juga wilayah Prafi yang kemungkinan besar masih akan hujan.

Dicecar suhu panas yang terjadi akhir-akhir ini, Deny mengatakan suhu itu juga perlu melihat lingkungan sekitar. Sebab matahari sampai kebumi akan diserap oleh lingkungan dan tumbuhan namun apabila tidak terserap maka akan terpantul ke permukaan bumi.

“Mungkin karena lingkungan kita sudah banyak bangunan maka ketika sudah sampai ke bumi panasnya terserap ke bangunan dan malam tembok masih melepaskan panas. Minimnya pohon juga bisa saja menyebabkan suhu panas,” katanya.

Musim dengan suhu panas, tambah Puttiray juga mempengaruhi gelombang laut yang cukup tinggi. Sehingga para nelayan harus tetap waspada karena gelombang laut tinggi. [PasifikPos]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Iklan Bawah Artikel


Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari  Papua Untuk Semua di Grup Telegram Papua Untuk Semua. Klik link https://t.me/PapuaCom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.

Papua Untuk Semua - Jendela Anak Tanah