Tradisi dan Budaya

[tradisi][threecolumns]

Sosial dan Komunitas

[sosial][list]

Pariwisata dan Rekreasi

[pariwisata][threecolumns]

Ekonomi

[ekonomi][list]

Politik

[politik][twocolumns]

Olahraga

[olahraga][bleft]

Pendidikan

[pendidikan][list]

Kesehatan

[kesehatan][list]

Hiburan

[hiburan][threecolumns]

Lingkungan

[lingkungan][list]

Teknologi

[teknologi][list]

Administrasi Pemerintahan

[pemerintah][twocolumns]

Laporan Otonomi Baru

[pemekaran][list]

Laporan Otonomi Khusus

[otonomi khusus][list]

Hukum dan Kriminal

[hukum][threecolumns]

Kecelakaan

[kecelakaan][list]

Bencana Alam

[bencana][list]

Saturday, 4 July 2015

Masyarakat Suku Moi Bangga Miliki Kain Timor

loading...
JAKARTA  - Kain Timor bagi masyarakat suku di Papua Barat memiliki peran yang sangat besar dalam budaya. Masyarakat Suku Moi, sudah mengenal tradisi barter sejak dulu dengan suku pengembara seperti Biak, Bugis dan Ternate.

Staf Anjungan Daerah Papua Barat Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Sakirin menuturkan Suku Moi mengenal tehnik menenun kain terinspirasi dari kain Timor.

Menurutnya, Suku Moi tidak mengenakan koteka tapi mengenakan cawat yang terbuat dari kulit kayu untuk laki – laki dan rok dan penutup dada bagi kaum perempuan.

”Masyarakat suku Moi pedalaman, kain Timor digunakan sebagai mas kawin, denda dan acara adat lainnya,” ujar Sakirin di Anjungan Papua Barat TMII, Minggu (28/6).

Dia juga mengatakan, kain Timor digunakan pada saat upacara adat sebagai penutup dada atau rok bagi perempuan pengganti kulit kayu. Dikenakan bersama barang keramik seperti piring, porselin Cina yang masuk ke dalam budaya Moi.

Tidak hanya itu, menurutnya kebudayaan Cina juga telah mengubah kebiasaan berpakaian dan pembayaran denda dan mas kawin di suku Moi.

”Bagi suku Moi yang memiliki kain Timor menjadi ’penguasa’. Bahkan tanpa kain Timor, perkawinan tidak dapat dilaksanakan,” ungkapnya.

Dia juga mengungkapkan asal usul kain Timor bermula dari Suku Moi yang berada di daerah Kalawesi. Dimana seorang nelayan bernama Walungke Yam Golus hendak mengail ikan di sungai.

”Saat mengail ia memperoleh kain yang berjumlah 10 helai. Ia meyakini kain milik pendatang dari luar yang terjatuh di sungai yang dilaluinya,” ucapnya.

Dia juga menyatakan, dahulu Suku Moi belum mengenal menenun mereka menggunakan kulit kayu. Saat ini kain Timor digunakan untuk pembayaran denda atau sanksi adat dengan jumlah tertentu.

”Kain Timor sudah sulit untuk diperoleh. Apalagi kain aslinya. Keunikan kain Timor, semakin lama umurnya maka semakin tinggi nilai seni dan harganya,” katanya.

Dia menambahkan, Papua Barat memiliki destinasi pariwisata yang sangat eksotika. Di antaranya wisata bawah laut Raja Ampat, Gunung Botak, Teluk Binduni, Danau Anggi an Teluk Wondama. [Indopos]

Silahkan berkomentar
  • Blogger Berkomentar dengan Blogger
  • Facebook Berkomentar dengan Facebook
  • Disqus Berkomentar dengan Disqus

No comments :


Loading...