Tradisi dan Budaya

[tradisi][threecolumns]

Sosial dan Komunitas

[sosial][list]

Pariwisata dan Rekreasi

[pariwisata][threecolumns]

Ekonomi

[ekonomi][list]

Politik

[politik][twocolumns]

Olahraga

[olahraga][bleft]

Pendidikan

[pendidikan][list]

Kesehatan

[kesehatan][list]

Hiburan

[hiburan][threecolumns]

Lingkungan

[lingkungan][list]

Teknologi

[teknologi][list]

Administrasi Pemerintahan

[pemerintah][twocolumns]

Laporan Otonomi Baru

[pemekaran][list]

Laporan Otonomi Khusus

[otonomi khusus][list]

Hukum dan Kriminal

[hukum][threecolumns]

Kecelakaan

[kecelakaan][list]

Bencana Alam

[bencana][list]

Thursday, 30 July 2015

Noak Kapisa Minta Pemerintah Pusat Fokus Perhatian Bencana di Papua

JAKARTA - Kepala Badan Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Provinsi Papua Noak Kapisa meminta perhatian pemerintah pusat terhadap masalah yang terjadi di wilayahnya. Sebagian masyarakat di Papua saat ini sedang berhadapan dengan masalah ketahanan pangan akibat cuaca ekstrem.

"Jangan terlalu fokus pada bagian barat untuk kekeringan kebakaran hutan. Jangan lupa papua ada aset internasional. Gunung Cartenz esnya sudah mulai habis," kata Noak ketika ditemui di Jakarta, Rabu (29/7).

Perubahan iklim tersebut juga tidak hanya membuat es di Cartenz membeku tapi juga membuat tiga distrik di Kabupaten Lanny Jaya mengalami fenomena embun beku. Hal ini membuat masyarakat yang mayoritas penghasilannya dari berkebun pun tidak dapat melakukan aktivitasnya.

"Di Lanny Jaya embun menutup lahan. Lahan masyarakat yang biasanya berladang ubi-ubian, itu habis. Jangan fokus pada kebakaran hutan dan lahan saja," ujar Noak.

Bencana ini diperkirakan akan melanda Lanny Jaya dalam waktu dua bulan. Baru pada Agustus 2015 nanti bencana diperkirakan berakhir.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan embun beku di Lanny Jaya berkaitan dengan El Nino. Pada tahun-tahun sebelumnya hal ini pun pernah terjadi saat El Nino menguat.

"Biasanya dengan memanaskan perairan di Samudera Pasifik maka di perairan Papua menjadi dingin sehingga terjadi hujan salju (embun beku)," kata Sutopo.

Data dari BNPB menyebutkan, tidak hanya umbi-umbian dan hasil kebun yang tidak bisa dipanen, cuaca dingin juga menyebabkan ternak mati dan sebagian warga sakit.

Bahkan, cuaca dingin ini juga menyebabkan jatuhnya korban jiwa. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Lanny Jaya ada 11 orang meninggal dunia yang terdiri dari lima balita, dua anak-anak dan empat orang dewasa.

Jatuhnya korban jiwa tersebut disebabkan oleh lokasi yang berada di ketinggian 2.700 meter di atas permukaan laut mengalami keterbatasan kebutuhan dasar seperti permakanan, kebutuhan bayi/anak, obat-obatan dan radio komunikasi.

Untuk mengatasi hal tersebut, BNPB berkoordinasi dengan Kementerian Sosial, BPBD Papua dan pemerintah daerah setempat untuk mendistribusikan bantuan. Bantuan makanan sebanyak 13,4 ton yang ada di BPBD Papua dan 15 ton beras dikirim ke Nduga, Lanny Jaya, dan Puncak pada 17-19 Juli 2015. Selain itu, BNPB juga menyiapkan dana siap pakai sebesar Rp 250 juta untuk pengiriman logistik.

Beberapa rincian banguan yang diberikan Kementerian Sosial antara lain 15 ton beras, 600 dus mi instan, 600 paket lauk, 600 paket makanan anak-anak, dan 300 lembar selimut. Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa juga akan mencari tahu bibit tanaman apa yang tetap bisa tumbuh di daerah dengan cuaca dingin ekstrem seperti di Lanny Jaya. [CNN]
Silahkan berkomentar
  • Blogger Berkomentar dengan Blogger
  • Facebook Berkomentar dengan Facebook
  • Disqus Berkomentar dengan Disqus

No comments :