Tradisi dan Budaya

[tradisi][threecolumns]

Sosial dan Komunitas

[sosial][list]

Pariwisata dan Rekreasi

[pariwisata][threecolumns]

Ekonomi

[ekonomi][list]

Politik

[politik][twocolumns]

Olahraga

[olahraga][bleft]

Pendidikan

[pendidikan][list]

Kesehatan

[kesehatan][list]

Hiburan

[hiburan][threecolumns]

Lingkungan

[lingkungan][list]

Teknologi

[teknologi][list]

Administrasi Pemerintahan

[pemerintah][twocolumns]

Laporan Otonomi Baru

[pemekaran][list]

Laporan Otonomi Khusus

[otonomi khusus][list]

Hukum dan Kriminal

[hukum][threecolumns]

Kecelakaan

[kecelakaan][list]

Bencana Alam

[bencana][list]

Wednesday, 15 July 2015

Yayasan Somatua dan doctorSHARE Layani Kesehatan Masyarakat di Intan Jaya

JAKARTA - dr Riny Sari Bachtiar (31) telah mengabdikan dirinya untuk dunia kesehatan di Indonesia. Bersama dengan kawan-kawannya dia mencetuskan ide 'dokter terbang' untuk menjangkau masyarakat di pedalaman Papua.

Awal tahun ini adalah pertama kali Riny melayang di langit Papua untuk misi kesehatan. Kini program itu sudah berjalan hampir tiga kali dan dia berharap akan terus berlanjut.

"Kalau halangan tentunya ada, karena kita menuju ke wilayah yang 2.200 dari permukaan laut. Belum lagi soal adat yang berbeda-beda dengan kita. Tapi yang pertama dari itu adalah soal birokrasi," kata Riny saat berbagi kisah inspiratif dengan detikcom, Jumat (10/7).

Riny bercerita betapa sulitnya menembus birokrasi di wilayah yang amat jauh dari ibukota. Belum lagi para tenaga medis yang dibawa bukanlah penduduk asli yang langsung dikenal oleh masyarakat setempat.

Tak cukup satu bulan untuk menyelesaikan urusan birokrasi itu. Padahal Riny dan para dokter dari doctorSHARE yakin bahwa masyarakat yang dituju belum tersentuh pelayanan medis.

"Kita putar otak bagaimana caranya kita bisa masuk ke tempat itu tanpa harus ribet birokrasi," ujar Riny.

Akhirnya para dokter terbang itu menggandeng sebuah yayasan setempat bernama Somatua pimpinan Maximus Tipagau. Kebetulan Maximus pun merupakan pimpinan dari perusahaan pariwisata bernama Adventure Cartensz.

Yayasan Somatua bergerak di bidang sosial yang salah satu sasarannya adalah lokasi yang dituju dr Riny dan kawan-kawan. Setali tiga uang, Maximus pun diajak turut serta. Sangat kebetulan sekali karena Maximus pun punya cita-cita untuk membantu di kampung halamannya, Kabupaten Intan Jaya.

"Halangan pertama terlewati. Kemudian kita ke lokasi dan di sana kita menemukan ada lagi kesulitan. Ternyata masyarakat pedalaman itu tak bisa berbahasa Indonesia. Kita pun tidak bisa bicara bahasa mereka. Tahu sendiri kan kalau di Papua itu sangat kaya bahasa. Ada 300-an bahasa mungkin. Mungkin yang mereka nyambung adalah ketika kita bicara 'ya' atau 'tidak'," tutur Riny.

Untunglah Yayasan Somatua telah digaet oleh doctorSHARE, sehingga mereka juga bisa menjembatani bahasa. Tangis haru tak bisa disembunyikan oleh Riny dan kawan-kawan kemudian ketika masyarakat setempat rupanya amat menyambut gembira kedatangan para 'superhero' itu.

Sudah lama sekali mereka menantikan adanya pelayanan kesehatan yang menghampiri. Mereka rela menembus hutan belantara hanya untuk sekedar diperiksa kesehatannya.

Banyak di antara masyarakat itu yang mengalami patah kaki hingga stroke. Tetapi mereka rela mendatangi posko dokter terbang. Satu-satunya 'alat transportasi' yang bisa mereka gunakan adalah kaki mereka sendiri. Itu pun ketika kaki mereka masih dalam kondisi normal, mengingat tempat mereka tinggal adalah wilayah lereng gunung.

"Tak bisa diungkapkan pokoknya dengan kata-kata. Bagaimana sambutan mereka dan bagaimana mereka minta kita bertahan sewaktu mau pulang," ungkap dia. [Detik]
Silahkan berkomentar
  • Blogger Berkomentar dengan Blogger
  • Facebook Berkomentar dengan Facebook
  • Disqus Berkomentar dengan Disqus

No comments :