Tradisi dan Budaya

[tradisi][threecolumns]

Sosial dan Komunitas

[sosial][list]

Pariwisata dan Rekreasi

[pariwisata][threecolumns]

Ekonomi

[ekonomi][list]

Politik

[politik][twocolumns]

Olahraga

[olahraga][bleft]

Pendidikan

[pendidikan][list]

Kesehatan

[kesehatan][list]

Hiburan

[hiburan][threecolumns]

Lingkungan

[lingkungan][list]

Teknologi

[teknologi][list]

Administrasi Pemerintahan

[pemerintah][twocolumns]

Laporan Otonomi Baru

[pemekaran][list]

Laporan Otonomi Khusus

[otonomi khusus][list]

Hukum dan Kriminal

[hukum][threecolumns]

Kecelakaan

[kecelakaan][list]

Bencana Alam

[bencana][list]

Thursday, 5 November 2015

'The Age of Stupid', Film Dokumenter tentang Kerusakan Alam yang Memprihatinkan

loading...
KOTA JAYAPURA - Sebuah film dokumenter berjudul 'The Age of Stupid', yang tentang kerusakan alam akibat perubahan iklim dan tangan oknum-oknum tak bertanggungjawab mengurangi umur bumi serta makhluk hidup didalamnya, termasuk manusia di masa mendatang.

Film yang disaksikan oleh ratusan penonton di salah satu hotel berbintang di Kota Jayapura, Selasa (03/11) ini ditanggapi oleh berbagai elemen masyarakat.

Andini, mahasiswi jurusan biologi Universitas Cenderawasih (Uncen)  mengaku, semakin meningkatnya perubahan iklim bumi ini kemungkinan besar es di Kutub Utara lama kelamaan hilang dengan sendirinya.

"Kita sebagai makhluk yang berada di bumi ini, harus terus mengkampanyekan bahaya dari global warning itu, kepada orang yang selama ini tak peduli terhadap lingkungan mereka," kata Dini sapaan akrabnya, Rabu (04/11) malam.

Masyarakat harus tau, lanjutnya apa itu global warning dan kebijakan apa yang seharusnya ditegakkan pemerintah setiap negara.

"Untuk saya sendiri di Papua, lebih memilih gunakan angkutan umum, ketimbang saya gunakan motor, itu yang saya lakukan setiap pergi kuliah. Sangat sedikit memang efek dari yang saya lakukan ini, tetapi jika seluruh orang lakukan ini secara bersama-sama, otomatis kita semua bantu kurangi karbon dioksida dimuka bumi ini," ujarnya.

Senada hal itu, Wehelmina Lahallo dari universitas yang sama mengakui film tersebut mengetuk dirinya untuk selalu sadar akan bahaya rusaknya lingkungan. Dirinya, akui tanpa sadar selama ini ia melakukan hal-hal yang merusak lingkungan.

"Saya yakin pernah merusak lingkungan tanpa sengaja. Kedepan, setelah saya menonton dampak kerusakan akibat dari kita sendiri maupun perubahan iklim secara global. Ini harus segera disosialisasikan terus menerus keseluruh umat manusia," kata Wehelmina.

Dirinya juga turut sedih, ada beberapa perusahaan yang mencari keuntungan tanpa memikirkan dampak kerusakan lingkungan disekitar aktifitas perusahaan mereka.

"Dari pabrik tersebut ada dua hal yaitu keuntungan dan kerugian. Keuntungannya adalah demi kelangsungan hidup manusia untuk berkembang namun disisi lain kerugian yang dihasilkan cukup besar," ujarnya.

Dampak ini sangat luas, menurutnya, apabila dibiarkan terus menerus, maka 10 sampai 20 tahun kedepan banyak tanaman ataupun lainnya yang semakin langka.

"Begitu juga dengan industri-industri rumah tangga yang ada di Jayapura. Tidak adanya peengawasan dari instansi atau badan yang terkait akan menimbulkan polusi udara," ujarnya.

Humas WWF Indonesia regional Papua, Andhani M. Kumalasari mengatakan, program-program semacam itu memang memperkaya program WWF yang sudah ada.

"Jadi macam film yang diputarkan, di WWF kami ada divisi yang menangani hal tersebut. Jadi pendidikan untuk kehidupan berkelanjutan," kata Andhani.

Pendidikan dan kehidupan berkelanjutan bisa melalui jalur formal, lanjutnya, seperti kurikulum yang saat ini tengah digalakkan. "Kami juga biasa diundang untuk memberikan kuliah umum ke universitas di Papua. Ada juga acara-acara memperingati tema lingkungan, hari habitat dan hari kehutanan kita bisa masuk lewat kegiatan seperti itu," ujarnya.

British Embassy Jakarta membidangi Energy Adviser dari Kedutaan Inggris, Rizka Sari mengatakan dampak lingkungan, kini semakin memprihatinkan, sehingga pihaknya bekerjasama dengan WWF Indonesia regional Papua untuk mengkampanyekan isu lingkungan tersebut.

"WWF sendiri sebagai kepanjangan tangan kami untuk terus mensosialisasikan dampak-dampak kerusakan lingkungan ini," kata Rizka.

Acara nonton bareng tentang perubahan iklim dengan judul film The Age og Stupid dan diskusi yang diprakarsai oleh WWF Indonesia Regional Papua melibatkan Universitas Cenderawasih (Uncen) dan Universitas Ottow dan Geislaer (UOG) yang berlangsung pukul 19.00 wit hngga 22.45 wit mendapat antusias dari kalangan mahasiswa dan para undangan LSM setempat. [Cendanaews]

Silahkan berkomentar
  • Blogger Berkomentar dengan Blogger
  • Facebook Berkomentar dengan Facebook
  • Disqus Berkomentar dengan Disqus

No comments :


Loading...