-->

Dinas Kesehatan Tangani Pemulihan Pertusis di Mbua

WAMENA (JAYAWIJAYA) - Dinas Kesehatan Provinsi Papua, terus menangani pemulihan kejadian luar biasa (KLB) penyakit pertusis (batuk rejan) di Distrik Mbua, Kabupaten Nduga secara berkelanjutan.

Koordinator Tim Penanganan Pemulihan KLB Penyakit Pertusis di Distrik Mbua, Yamamoto Sasari, di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Senin, mengemukakan tim turun ke Distrik Mbua, Kabupaten Nduga, Papua dalam rangka untuk penangan kasus yang terjadi di tempat itu sejak tanggal 26 November 2015 hingga kini.

"Kami dari Dinas Kesehatan Provinsi tahap pertama datang tanggal 26 November 2015 lakukan investigasi awal beserta dengan teman-teman dari Dinas Kesehatan Kabupaten Nduga," ujarnya.

Kemudian, lanjut dia, tim kembali kembali sekitar tanggal 31 November 2015, dan tim kedua datang sekitar tanggal 1 Desember 2015 dan itu sudah merupakan tim gabungan antara Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi dan juga Dinas Kesehatan Kabupaten Nduga "Sejak itu, kami berada disini (Distrik Mbua.red) kurang lebih selama lima hari setelah itu kembali lagi. Dan tahap ketiga Pemerintah Provinsi Papua dalam hal ini Kepala Dinas Kesehatan mencoba untuk membuka komunikasi dengan PT Freeport Indonesia dan mereka merespon dengan memberikan bantuan," ujarnya.

Dari komunikasi yang dibangun dengan PT Freeport Indonesia, ada beberapa bantuan berupa barang yang dikirim ke Distrik Mbua tetapi melalui Pemerintah Provinsi Papua yang diterima oleh Kepala Dinas Kesehatan Papua, drg Aloysius Giyai di Wamena, Kabupaten Jayawijaya.

Setelah itu, kata dia, kini tim datang lagi di tahap yang keempat yang diturunkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Papua, drg Aloysius Giyai pada Rabu (20/1).

Dia menjelaskan, tim itu terdiri dari dokter spesialis anak, dr Imakulata, dokter spesialis penyakit dalam, dr Silvester, dokter umum satu orang yaitu dr Indriyani Waridju, Ahmad Yuri selaku penanggung jawab imunisasi Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Yasman selaku penanggung jawab teknis dari pada coulcin, dan satu tenaga analis Sefnat Wally dan Yamamoto Sasarari.

"Kita ketahui bersama bahwa coulcin di Puskesmas Mbua itu lagi rusak itulah sebabnya salah satu tim yang kami bawa ditahap yang keempat ini adalah tim teknis dari coulcin itu sendiri atau alat pendingin vaksin dari pada imunisasi," ujarnya.

Lebih lanjut dia menegaskan, perlu diketahui bahwa kurang lebih sudah dua hari pihaknya berada di Mbua yakni sejak Kamis-Jumat (21-22/1) dan melakukan pelayanan terkait dengan peristiwa kematian yang sudah dikeluarkan oleh ibu Menteri Kesehatan terkait dengan penyakit pertusis.

"Untuk itu, pelayanan di kelompok ini kami temukan ada dua kasus suspek karena ini belum dilalui atau melalui pemeriksaan laboratorium tetapi dari sisi gejala sudah menunjukkan bahwa ada dua anak balita yang terlihat dengan gejala yang menonjol yaitu batuk yang sangat panjang atau batuk rejan," katanya.

Dari hasil pelayanan selama dua hari yakni Kamis-Jumat (21-22/1), tim menjumpai ada 67 pasien balita yang terdiri dari infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sebanyak 47 orang, penyakit gila anjing (GA) sebanyak 8 orang, penyakit franbosya satu orang, penyakit brongko peneumonia empat orang, pertusis sendiri atau pertusis lait sindrum sebanyak dua orang.

"Kita ketahui bersama bahwa di hari ini kita jumpai bayi balita yang agak sedikit prihatin karena pernafasan agak cukup sesak dan juga batuk yang panjang," ujarnya.

Pada Prinsipnya, menurut dia, Pemerintah Provinsi Papua dalam hal ini Dinas Kesehatan Papua dan Dinas Kesehatan Kabupaten Nduga tetap memberikan perhatian untuk penanganan ini kalau bisa sampai selesai.

"Ini menunjukan bahwa memang apa yang terjadi di Mbua, adalah petusis itulah sebabnya Pemerintah Provinsi Papua dalam hal ini Dinas kesehatan Papua bersama-sama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Nduga akan terus memberikan perhatian yang serius kepada masyarakat di Distrik Mbua dan beberapa kampung yang ada disini," ujarnya.

Menurut dia, dari hasil itu, pihaknya akan mencoba membangun komunikasi dengan pengambil kebijakan di tingkat Pemerintah Provinsi Papua untuk peningkatan pelayanan lebih lanjut.

"Dari hasil ini kami akan mencoba untuk bisa melakukan koordinasi denga Pemerintah Provinsi untuk sedapat mungkin pelayanan kesehatan ditempat ini akan dibuka apakah itu dalam bentuk pelayanan kesehatan rawat jalan atau bisa dibuka dalam bentuk pelayanan kesehatan rawat inap," tambah dia.

Pada Oktober 2015 Distrik Mbua, Kabupaten Nduga, Provinsi Papua berstatus kejadian luar biasa (KLB) penyakit pertusis (batuk rejan). (antara)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Iklan Bawah Artikel