Tradisi dan Budaya

[tradisi][threecolumns]

Sosial dan Komunitas

[sosial][list]

Pariwisata dan Rekreasi

[pariwisata][threecolumns]

Ekonomi

[ekonomi][list]

Politik

[politik][twocolumns]

Olahraga

[olahraga][bleft]

Pendidikan

[pendidikan][list]

Kesehatan

[kesehatan][list]

Hiburan

[hiburan][threecolumns]

Lingkungan

[lingkungan][list]

Teknologi

[teknologi][list]

Administrasi Pemerintahan

[pemerintah][twocolumns]

Laporan Otonomi Baru

[pemekaran][list]

Laporan Otonomi Khusus

[otonomi khusus][list]

Hukum dan Kriminal

[hukum][threecolumns]

Kecelakaan

[kecelakaan][list]

Bencana Alam

[bencana][list]

Thursday, 30 March 2017

Jasa Hotel di Mimika Terpukul Sejak Krisis Freeport Indonesia

loading...
TIMIKA (MIMIKA) - Usaha jasa perhotelan di Timika, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua menjadi salah satu sektor yang ikut terpukul semenjak krisis melanda PT Freeport Indonesia sejak medio Februari 2017.

Hampir seluruh hotel di Kota Timika kini ikut mengalami keterpurukan lantaran jumlah tamu yang menginap turun drastis.

Penurunan tingkat hunian (okupansi) hotel-hotel di Kota Timika itu karena selama ini mereka begitu bergantung pada tamu karyawan-karyawan PT Freeport dan perusahaan-perusahaan subkontraktornya.

Setelah sejumlah perusahaan subkontraktor Freeport mulai melakukan Pemutusan Hubungan Kerja sebagian karyawannya, pendapatan hotel-hotel di Timika pun ikut anjlok.

Manajer Hotel Kamoro Tame Timika Agustinus Kiloona mengakui tingkat hunian di hotelnya menurun hingga 60 persen.

Penyebabnya karena sebagian besar karyawan PT Trakindo Utama, PT Sanggar Sarana Baja (SSB) yang sebelumnya mengontrak kamar di Hotel Kamoro Tame Timika sudah dipulangkan oleh perusahaan tempat mereka bekerja.

"Waktu bulan Januari tingkat hunian di hotel kami 100 persen. Tapi begitu memasuki bulan Februari hingga Maret menurun hingga 60 persen karena karyawan Trakindo dan SSB sudah banyak yang dipulangkan," ujar Agustinus.

Hotel yang terletak di kawasan Jalan Cenderawasih Timika itu memiliki 94 kamar dengan lima tipe yaitu honai standart room, the lux standart room, the lux balconi room, honai the lux room serta honai family.

Tarif menginap di Hotel Kamoro Tame Timika berkisar dari Rp500 ribu per malam hingga Rp800 ribu per malam.

Pihak hotel memberikan potongan harga bagi pengunjung atau tamu yang menginap dalam waktu cukup lama (long stay guest) seperti kepada karyawan perusahaan-perusahaan subkontraktor Freeport yang sudah lama menjadi pelanggan tetap.

Dengan semakin banyaknya jumlah karyawan yang di-PHK atau dirumahkan oleh perusahaan-perusahaan tempat mereka bekerja di area PT Freeport, pihak Hotel Kamoro Tame Timika kini hanya bisa mengandalkan tamu-tamu lain di luar karyawan seperti para pelaku bisnis, pejabat dari beberapa kabupaten di pedalaman Papua, dan wisatawan yang melakukan petualangan mendaki Puncak Cartensz.

"Kami bekerja sama dengan Biro Perjalanan Adventure Indonesia dan Adventure Cartensz. Kalau ada tamu dari luar negeri yang ingin melakukan pendakian ke Puncak Cartensz, mereka selalu reservasi di Hotel Kamoro Tame. Tahun ini sudah tiga kelompok wisatawan dari China dan Hungaria yang melakukan perjalanan mendaki Puncak Cartensz. Mereka semuanya menginap di Hotel Kamoro Tame," jelas Agustinus.

Kondisi yang lebih memprihatinkan dialami Hotel dan Restoran Cenderawasih 66 Timika.

Manajer Hotel dan Restoran Cenderawasih 66 Timika Alfredo Geronimo Raweyai mengatakan tingkat hunian di hotel tersebut kini turun drastis hingga 40-35 persen.

"Yang paling terdampak usaha restoran. Kalau sebelumnya restoran kami selalu ramai setiap hari, sekarang sudah sepi sekali. Kondisi ini terjadi sejak awal Maret. Bisa jadi setelah Freeport goyang, semua orang mulai berhemat alias mulai mengetatkan ikat pinggang," tutur Alfredo.

Hotel dan Restoran Cenderawasih Timika yang berlokasi di bilangan Jalan Cenderawasih Timika itu memiliki 87 kamar dengan tiga tipe yaitu kamar standar, the lux serta VIP.

Tarif menginap di Hotel Cenderawasih Timika berkisar Rp450 ribu per malam hingga Rp1 juta per malam.

Alfredo mengakui penurunan tingkat hunian hotel maupun pelanggan restorannya berkaitan dengan kondisi perekonomian yang lesu di Kota Timika maupun Kabupaten Mimika pada umumnya sebagai dampak langsung dari situasi krisis yang terjadi di PT Freeport.

Utamakan Kualitas Pelayanan Di tengah situasi kritis yang menimpa hotel-hotel di Kota Timika, Hotel dan Restoran Cenderawasih 66 terus berupaya meningkatkan kualitas pelayanannya agar para pelanggan tetap menginap dan menikmati fasilitas di hotel tersebut.

"Bagi pelanggan kami yang menginap cukup lama, kami memberikan harga spesial dan lainnya. Itu yang kami lakukan selama ini seperti kepada teman-teman dari penerbangan (pilot). Kami juga berupaya memberikan pelayanan maksimal kepada semua tamu yang datang agar mereka merasa nyaman selama berada di hotel ini. Itu yang terus kami pertahankan," jelas Alfredo.

Pihak Hotel dan Restoran Cenderawasih Timika berharap situasi krisis yang melanda PT Freeport bisa secepatnya berlalu agar geliat ekonomi di Kota Timika dan Kabupaten Mimika kembali tumbuh, termasuk usaha jasa perhotelan.

"Kami hanya bisa pasrah bagaimana baiknya pemerintah dengan pihak perusahaan untuk mencari titik tengah dari permasalahan yang terjadi. Kami percaya bahwa di balik permasalahan ini tentu pemerintah memikirkan yang terbaik untuk masyarakat Papua dan pemerintah daerah yang ada di sini. Sekalipun sekarang situasinya kurang bagus, kami yakin ke depan pasti jauh lebih baik dari kondisi yang ada selama ini," tutur Alfredo.

Alfredo meyakini bisnis perhotelan di Kota Timika akan kembali semarak setelah semua persoalan yang terjadi di PT Freeport bisa diselesaikan oleh pemerintah.

Apalagi ke depan Kota Timika akan menjadi salah satu kota penyelenggara event nasional yaitu PON ke-20 pada tahun 2020.

Pesta olahraga terbesar di Indonesia itu diyakini akan menyedot banyak tamu dan kontingen dari seluruh daerah di Indonesia mengingat ada sejumlah cabang olahraga akan dipertandingkan di Timika seperti Atletik, Bulu Tangkis, Bola Voli, Golf, Tinju dan lainnya.

Buka Akses Wisata Sementara itu Manajer Hotel Noken Timika Wisnu Aji mengharapkan Pemkab Mimika membuka seluas-luasnya akses pariwisata ke daerah ini agar dapat menarik kehadiran wisatawan baik dalam negeri maupun mancanegara.

Menurut Wisnu, Mimika sangat kaya dengan potensi pariwisatanya. Potensi pariwisata Mimika terhampar luas mulai dari kampung-kampung pesisir dengan wisata bahari, pantai berpasir putih, sungai-sungai besar yang kaya ikan dan habitat air lainnya serta hutan mangrove yang sangat lebat hingga wisata pegunungan seperti pendakian ke Puncak Cartensz.

"Timika itu tidak hanya soal PT Freeport Indonesia dengan pertambagannya yang sudah dikenal sampai ke manca negara. Masih ada banyak potensi wisata andalan Mimika seperti Puncak Cartensz, Taman Nasional Lorentz yang kaya vegetasi hutan bakau dan berbagai macam satwa langkanya. Belum lagi wisata bahari di sepanjang pesisir Mimika dengan keindahan pasir putihnya yang tidak kalah dengan daerah lain serta seni budaya masyarakat Amungme dan Kamoro yang unik," ujarnya.

Ia berharap Pemkab Mimika melalui instansi terkait ke depan dapat membuat paket-paket wisata ke lokasi-lokasi wisata andalan itu untuk dijual ke luar sekaligus menata potensi-potensi wisata yang ada bekerja sama dengan semua pihak, termasuk perhotelan.

Wisnu menyoroti kurangnya peran serta Pemkab Mimika maupun organisasi PHRI serta ASITA di Timika dalam mendorong pertumbuhan bisnis atau usaha perhotelan di wilayah itu.

Pelaku usaha perhotelan di Timika selama ini terkesan jalan sendiri, tanpa pernah ada dukungan riil dari pemerintah daerah setempat.

"Selama delapan tahun kami membuka usaha perhotelan di Timika, belum ada pernah ada kegiatan pembinaan dari pemerintah daerah. Terkesan selama ini kami jalan sendiri-sendiri alias cari hidup masing-masing. Kalau mau jujur, Pemkab Mimika hanya berkepentingan dengan perhotelan saat menarik pajak saja, di luar itu sama sekali tidak ada," kritik Wisnu.

Pengembangan potensi wisata dalam upaya menarik sebanyak mungkin kunjungan wisatawan manca negara ke Mimika juga mendapat dukungan penuh dari jajaran Kantor Imigrasi Tembagapura, Timika.

Kepala Kantor Imigrasi Kelas II Tembagapura Jesaja Samuel Enock mengatakan Pemerintah Indonesia telah memberikan kebijakan bebas Visa kunjungan kepada 169 negara guna mendongkrak arus kunjungan wisatawan.

Kebijakan itu, katanya, sudah seharusnya dimanfaatkan secara optimal oleh semua pemerintah daerah termasuk Pemkab Mimika guna mendatangkan sebanyak mungkin wisatawan dari manca negara.

"Memang benar pontensi yang ada di Mimika bukan hanya PT Freeport Indonesia. Potensi pariwisata yang begitu banyak di Mimika bisa memainkan peran untuk menarik arus kunjungan wisatawan sekaligus menambah income bagi daerah. Mimika memiliki begitu banyak potensi wisata di kampung-kampung pesisir. Belum lagi potensi wisata pendakian ke Puncak Cartensz dengan hamparan salju abadinya," kata Samuel.

Sesuai data Kantor Imigrasi Tembagapura, katanya, hampir setiap bulan selalu ada kelompok-kelompok pendaki yang datang ke Puncak Cartensz melalui Timika.

Para pendaki yang rata-rata berasal dari negara Eropa dan Amerika itu tidak ingin melewatkan kesempatan langka mendaki Puncak Cartensz, salah satu dari tujuh puncak tertinggi di dunia dan merupakan satu-satunya puncak tertinggi di daerah tropis yang masih tertutup salju.

"Beberapa bulan lalu ada sekitar 20 orang dari Rusia menginap di Hotel Osa Devila dan Hotel Kamoro Tame Timika yang melakukan pendakian ke Puncak Cartensz. Sesuai data yang ada pada kami, hampir setiap bulan selalu ada orang asing yang datang ke sana," jelasnya.

Menurut dia, pengembangan sektor kepariwisataan di Mimika saat ini sangat diperlukan sebagai solusi alternatif mengantisipasi gejolak ekonomi akibat kisruh pertambangan PT Freeport Indonesia yang sudah berlangsung lebih dari dua bulan belakangan.

"Sekarang ini tingkat okupansi hotel-hotel di Timika menurun drastis semenjak ada masalah di PT Freeport. Kalau sektor-sektor lain tidak bergerak, tentu ini menimbulkan masalah. Padahal ada banyak potensi yang bisa digarap dan dikelola, bukan hanya Freeport," kata Samuel.

Di tengah situasi kelesuan ekonomi di Kota Timika yang kini berimbas pada usaha perhotelan, diharapkan peran aktif Pemkab Mimika melalui Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata setempat untuk menggerakkan sektor kepariwisataan setempat yang selama ini terkesan "mati suri".

Sudah saatnya Pemkab Mimika tidak lagi hanya mengandalkan ketergantungan ekonomi kepada perusahaan tambang PT Freeport tetapi membuka seluas-luasnya akses dan potensi pariwisata guna membangkitkan perekonomian rakyat. (antara)

Silahkan berkomentar
  • Blogger Berkomentar dengan Blogger
  • Facebook Berkomentar dengan Facebook
  • Disqus Berkomentar dengan Disqus

No comments :


Loading...