-->

Polisi Berusaha Cegah Meluasnya Tindak Anarkis di Kota Timika

 
TIMIKA (MIMIKA) - Puluhan personel Polres Mimika, Papua, Senin siang dikerahkan ke Jalan Hasanuddin Irigasi, Pasar Sentral Timika guna mencegah meluasnya tindakan anarkis yang dilakukan oleh sekelompok warga karena tidak puas atas kematian salah seorang anggota keluarga mereka, Luther Magal.

Kehadiran puluhan anggota Polres Mimika dan Polsek Mimika Baru ke lokasi itu karena sebelumnya sekelompok massa dengan bersenjatakan busur panah dan parang menyerang rumah-rumah warga di sepanjang Jalan Hasanuddin menuju Pasar Sentral Timika.

Akibat penyerangan mendadak tersebut, dua orang dilaporkan terkena anak panah.

"Tadi ada dua orang yang terkena anak panah. Satu sopir angkutan kota yang sedang mengantar anak sekolah. Kaca mobilnya dilempar dengan batu, lalu sopirnya dipanah pada bagian leher. Korban lainnya terkena anak panah pada betis kakinya," tutur Ny Rahmini, warga Irigasi Timika.

Massa yang berjumlah sekitar 50-an orang itu juga sempat hendak membakar sebuah warung di Jalan Hasanuddin Irigasi.

Tidak itu saja, mereka memecahkan lemari kaca dan mengobrak-abrik seisi warung tersebut.

"Mereka sudah siram bensin di depan warung dan api sempat menyala tapi kemudian segera dipadamkan oleh warga. Kami tidak tahu mengapa mereka bertindak brutal seperti itu. Kejadiannya begitu cepat, sehingga membuat warga di sini kaget," kata Rahmini.

Kapolres Mimika AKBP Victor Dean Mackbon bersama sejumlah perwira Polres Mimika seperti Kabag Ops Komisaris Polisi I Nyoman Punia, Kapolsek Mimika Baru Komisaris Polisi Gede Putra langsung bergegas menuju ke lokasi kejadian setelah menerima informasi adanya penyerangan oleh sekelompok warga di Irigasi tersebut.

Polisi memblokade massa ke rumah keluarga Magal di Jalan Hasanuddin Irigasi.

Kapolres Mimika Victor Mackbon meminta keluarga besar Magal agar menahan diri dengan tidak melakukan tindakan main hakim sendiri.

"Sampai kapan kita begini terus. Kami sangat memahami keinginan dari bapak-bapak semua, tapi bukan dengan cara seperti ini, nanti akan jatuh banyak korban yang sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan peristiwa pembunuhan saudara Luther Magal," ujar Victor.

Sementara itu massa meminta polisi bertindak adil kepada mereka lantaran salah seorang anggota keluarga mereka, almarhum Luther Magal telah dibunuh oleh orang-orang dari suku tertentu.

"Kami mau semua orang dari suku itu segera tinggalkan Timika. Selama ini orang-orang dari suku itu-itu saja yang selalu membuat keributan di Timika. Sekarang mereka bunuh lagi kami orang asli di sini. Sejak kejadian pembunuhan Luther Magal sampai sekarang tidak ada keluarga dari pihak pelaku yang datang menemui kami dari pihak korban," ujar salah seorang warga.

Terkait kasus pembunuhan almarhum Luther Magal pada Sabtu (1/4) subuh di belakang Lapangan Jayanti, Sempan, Timika, polisi telah menangkap empat pelakunya.

Salah seorang diantaranya yaitu LW yang diduga sebagai pelaku utama pembunuhan Luther Magal.

Luther Magal diketahui merupakan mantan karyawan Lembaga Musyawarah Adat Amungme (LEMASA).

Ia ditemukan tergeletak tak bernyawa di samping rumahnya yang terletak di belakang Lapangan Jayanti, Sempan, Timika pada Sabtu (1/4) subuh.

Saat ditemukan, korban dalam kondisi tanpa mengenakan sehelai pakaianpun dengan dua luka tusukan benda tajam pada bagian ulu hati dan rusuk kanannya.

Istri korban, Linda mengatakan suaminya pulang ke rumah pada Sabtu (1/4) sekitar pukul 04.20 WIT.

"Dia ketuk pintu sambil berteriak memanggil nama saya. Saat buka pintu, saya kaget melihat baju suami saya penuh darah," ujarnya.

Dalam kondisi panik, Linda bergegas mengambil sepeda motornya lalu melaporkan kasus tersebut ke Kantor Sat Lantas Polres Mimika di Jalan Budi Utomo Timika.

Setelah menerima laporan Linda, aparat Sat Lantas Polres Mimika langsung menuju ke lokasi kejadian. Petugas selanjutnya mengevakuasi jenazah Luther Magal ke RSUD Mimika.

Dokter pada Instalasi Gawat Darurat pada RSUD Mimika yang memeriksa korban menyatakan korban sudah meninggal dunia.

Berdasarkan keterangan sejumlah tetangga korban, pada Jumat (31/3) malam di sebuah rumah kontrakan IL yang bersampingan dengan rumah korban, berlangsung pesta minuman beralkohol yang diikuti beberapa orang.

Selama pesta alkohol berlangsung, penghuni rumah kontrakan IL membunyikan musik sekeras-kerasnya hingga mengganggu kenyamanan warga di lokasi itu.  (antara)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Iklan Bawah Artikel


Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari  Papua Untuk Semua di Grup Telegram Papua Untuk Semua. Klik link https://t.me/PapuaCom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.

Papua Untuk Semua - Jendela Anak Tanah