-->

Umat Katolik di Asmat Kenang Kisah Sengsara Yesus Kristus

Umat Katolik di Asmat Kenang Kisah Sengsara Yesus Kristus

AGATS (ASMAT) - “Anakku…., anakku…..! Aku mengandung dan melahirkanMu bukan untuk melihatMu sengsara, bukan membesarkanMu untuk melihatMu mati!” teriak Maria (Bunda Yesus) dan wanita lainnya menjerit seraya menangis meratapi Yesus sebagaimana dilakokan Elisabet dalam drama jalan salib hidup mengenang kisah Sengsara Yesus yang dipersembahkan Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Gereja Kristus Raja  dalam perayaan Jum’at Agung, yang  dimulai dari Halaman SMAN I Agats menuju Gereja Paroki Kristus Raja, Jumat (14/4) siang.

MARIA melupakan, menyerahkan dan mempertaruhkan seluruh hidupnya bagi Yesus. Permenungannya, apakah kita mampu meneladani Maria sebagai orang tua?”. Mengasuh dan membesarkan anak-anak kita dan menerima mereka apa adanya?” Atau mementingkan diri sendiri, karier, pekerjaan dan penampilan kita dari pada anak-anak sendiri?” Atau membesarkan mereka dengan uang, harta, ketidakpedulian dan pemaksaan kehendak sambil menghakimi?”.

Menjawab pertayaan-pertanyaan itu membutuhkan pengorbanan dan penyerahan diri sebagaimana yang dilalui Yesus dalam jalan keselamatan melintasi bukit tengkorak, Golgota. Mengikuti Yesus berarti, kita siap memikul salib dalam hidup kita baik suka maupun duka.

 Mengikuti Yesus berarti menolong orang lain tanpa merasa beban dan melakukannya bukan karena terpaksa. Ataukah kita hanya berbuat baik hanya kepada mereka yang berbuat baik kepada kita?” Berbuat baik,  kepada mereka yang kita kenal?” Berbuat baik sambil meminta imbalan supaya terkenal, dipandang, disegani, dihormati, demi simpati dan penghargaan?”

Mari kita belajar dari teladan hidup Yesus. Ia mempertaruhkan segala-galanya, dirajam, diludahi, dan disalibkan demi membebaskan kita dari kelemahan kita. Betobat dan meminta ampun. Sehingga, kita layak menjadi anak-anak Allah yang tidak beraib dan ternoda seraya berdoa: “Sebab dengan salib suciMU, Engkau telah menebus dunia dan berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.”

Memang bangun dari kejatuhan dan kelemahan membutuhkan keberanian dan kesungguhan. Menolong orang yang jatuh membutuhkan keberanian dan ketulusan jiwa seraya memandang wajah Allah serta menanti tanganNYa yang ajaib menompang kita.  Yang penting, kita tidak menolong dan berkarya membantu orang yang jatuh untuk mengejar pamor, membangun benteng persaingan antar pribadi, antar kelompok demi kebanggaan semua.

Kita jangan membangun umat Allah dipenuhi dengan pribadi dan kelompok yang saling mengalahkan. Karena, memuji Tuhan bukan untuk membangun persaingan antar kelompok dan pribadi. Kita jangan menjatuhkan orang lain dan kelompok lain, karena itu bukan cara kita berdoa. Menolong dan membantu orang lain yang jatuh adalah salah satu cara kita bangkit dari segala kelemahan dan menjadi umat yang bajik, arif dihadapan sesama, termasuk mereka yang berbeda nafas imannya dengan kita sambil berdoa: “Kasihanilah Tuhan, kasihanilah kami. Allah, Ampunilah kami orang berdosa!”

Dari rekaman media ini, drama jalan salib hidup dari perhentian pertama hingga Yesus disalibkan dan dimakamkan bukan hanya meneguhkan dan menobatkan umat kristiani. Tetapi, warga non kristiani menghayati peristiwa jalan salib itu beragam makna. Ada yang mengabadikan peristiwa itu dengan berjuang mengambil gambar tanpa suara. Warga yang lain mengamati dengan wajah terharu. Bahkan, ada pula warga yang berlipat tangan sambil menutup mata dan mereka setia mendengar untain kata yang mengandung makna mengajak bertobat. Setidaknya, ekspresi itu memperlihatkan keharmonisan hidup umat beragama di Asmat patut ditiru.

Pada perhentian ke 12, tepat dihalaman pintu masuk Gereja Kristus Raja Mbait, drama penyalipan dan Yesus wafat disalib. Tampak ribuan umat Katolik berlutut sambil berdoa: “Tuhan kasihanilah kami, sebab dengan salib suciMu, Engkau menebus dunia!” Dan semua terkesima mendengar suara Yesus sebagaimana dilakon pemeran Yesus: “Eli…, Eli…., lama sabakhtani? Ya Bapa, ke dalam tanganMu kuserahkan nyawaKu! Ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat!”

Sahabat adalah orang yang selalu hadir saat-saat paling sulit. Sahabat adalah orang yang setia bahkan dalam kesukaran hingga menemani kita pada saat terakhir. Kita diajak menjadi pengikut setia Yesus. Setia pada saat sahabat mengalami  kesulitan, kesukaran, bahkan saat-saat terakhir dijemput maut. Kita belajar dari murid Yesus setia dan rebah dalam penantian, menjelang kemuliaanNYa, karena akhir dari seluruh sengsaraNya membawa kita kepada kemuliaan. Berarti  menjadi sahabat dalam kesengsaraan akan menjadi teman dalam kebahgiaan. Itulah makna dari balik jalan keselamatan menuju bukit Tengkrak, Golgota meraih keselamatan abadi dari yang kuasa. Dan perayaan itu dilanjutkan dengan umat menyatakaan setia dalam kesengsaraan dengan mencium salib dan menyambut keselamatan dalam puncak ekaristi menerima hostia yang dipersembahkan Pastor Paroki Kristus Raja, Mbait,  Inocensius Retobjaan, Pr.  (salampapua.com)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Iklan Bawah Artikel


Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari  Papua Untuk Semua di Grup Telegram Papua Untuk Semua. Klik link https://t.me/PapuaCom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.

Papua Untuk Semua - Jendela Anak Tanah