-->

Lindungi Warga Pendatang, Pendeta Eliaser Baye Ditembak Kelompok Separatis Nduga

Lindungi Warga Pendatang, Pendeta Eliaser Baye Ditembak Kelompok Separatis.lelemuku.com.jpg

JAKARTA PUSAT, LELEMUKU.COM - Ketua Sinode Pusat Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) Pendeta Daniel Ronda menyampaikan kesedihan mendalam atas kehilangan atas meninggalnya Pendeta Eliaser Baye yang menjadi satu dari 10 warga sipil yang tewas dalam aksi penyerangan oleh kelompok separatis di Kabupaten Nduga, Papua.

Daniel menyebut tewasnya Pendeta Eliaser Baye telah membuktikan kepada semua masyarakat Indonesia, bahwa masyarakat Papua tidak membeda-bedakan siapapun. Sebab, Eli ditembak kelompok bersenjaa tersebut akibat melindungi warga pendatang.

"Ini konfirmasi dari lapangan," kata Daniel dalam konferensi pers, Selasa, 19 Juli 2022.

Minggu depan, Daniel juga berencana untuk berangkat langsung ke Papua untuk menengok keluarga Eli di daerah Wamena. Daniel pun ikut mengecam aksi KKB yang menewaskan sejumlah warga sipil ini.

Hal senada diungkapkan keluarga dari Pendeta Baye yang menyatakan bahwa pihaknya menyerahkan peristiwa ini kepada Tuhan Yang Maha Esa.

"Biar Tuhan saja yang mengadili serta membalas perbuatan orang yang menembak bapak pendeta," kata Nikolas Heluka kepada Lelemuku.com.

Pihaknya juga mengharapkan agar para tokoh gereja di Nduga tetap terus memberikan pelayanan Injil sehingga peristiwa seperti ini tidak terjadi lagi.

"Doa-doa dan Injil yang diberikan para hamba Tuhan melahirkan para pemimpin birokrasi dan politik di Ndugama serta berbagai keberhasilan di Tanah Ini. Jadi jangan lagi menembak hamba tuhan diatas Tanah Ndugama. Cukup terjadi pada Pendeta Eliaser Baye saja," ujar dia.

Sebelumnya, Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua kembali melakukan penyerangan terhadap warga sipil. Penyerangan dan penembakan terjadi pada Sabtu, 16 Juli, sekitar pukul 9.15 WIT di Kampung Nogolait Kabupaten Nduga.

Polda Papua mengatakan jumlah penyerang itu sekitar 20 orang. Menurut polisi insiden berawal saat para korban dalam perjalanan dari Kampung Kenyam tujuan ke batas batu dengan menggunakan truk Dyna warna merah orange. Korban posisi duduk di bak belakang.

Saat melintas di Kampung Nogulait, tiba-tiba para korban dihadang di tengah jalan kurang lebih berjarak 50 meter oleh KKB dengan jumlah sekitar 20 orang.

"Tiga orang membawa senjata api panjang, dan satu orang terlihat membawa senjata pendek warna silver,” kata Kepala Bidang Humas Polda Papua Komisaris Besar Ahmad Musthofa Kamal dalam keterangan tertulisnya, Ahad, 17 Juli 2022.

Saat mobil berhenti, kata dia, KKB langsung melepaskan tembakan ke arah mobil dengan jarak kurang lebih 50 meter. Sopir berusaha memundurkan mobil dengan jarak kurang lebih 100 meter. Namun, tembakan tetap mengarah ke mobil hingga mengenai supir.

Para korban kemudian ditemukan di empat TKP, seperti di jalan dekat truk dan di motor ditemukan tiga korban. Lalu tiga meter dari tempat pertama menuju ke arah batas batu dekat warung kelontongan ditemukan enam korban dan satu di belakang warung.

"Selanjutnya di tanjakan satu orang korban ditemukan di pinggir jalan, dan yang terakhir ditemukan di jalan dekat dengan mobil bupati,” kata Kama.

Walhasil, penyerangan ini mengakibatkan 11 meninggal dunia, yang salah satunya adalah Eli. Menurut Kamal, anggota Polres Nduga yang di backup Satgas Damai Cartenz dan anggita TNI masih terus mendalami latar belakang dari perbuatan keji KKB tersebut dan melakukan pengejaran terhadap pelakunya.

“Sangat keji, tidak pandang bulu, seorang pendeta yang harusnya kita hargai dan kita hormati harus menjadi korban pembantaian KKB,” kata Kamal

Kamal menuturkan kegiatan sehari-hari Eli adalah sebagai pelayan gereja di Kampung Yereitma, Distrik Pija, Kabupaten Nduga. Eli ke Nduga dalam rangka kegiatan konfrensi Gereja kemah Injil di Wamena pada 26-28 Juli 2022. “Pak Pendeta meninggalkan seorang istri dan enam orang anak,” kata dia,

Kamal melaporkan jenazah Eli diserahkan ke keluarganya di Kenyam. “Jenazah Pendeta Eliaser Baye rencananya akan disemayamkan di Gereja GKI Kenyam,” kata Kamal.

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko juga mengutuk keras aksi KKB, menilainya sebagai perbuatan kejam dan tidak berprikemanusiaan, karena menyerang warga yang sama sekali tidak berdaya. “Apalagi ada tokoh agama yang ikut menjadi korban. Secara pribadi saya menyampaikan duka mendalam atas peristiwa ini,” kata dia. (Tempo)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Iklan Bawah Artikel


Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari  Papua Untuk Semua di Grup Telegram Papua Untuk Semua. Klik link https://t.me/PapuaCom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.

Papua Untuk Semua - Jendela Anak Tanah