-->

Pastor Jhon Jonga Rilis Nama-nama Korban Meninggal di Samenage

WAMENA (JAYAWIJAYA) - Peraih  Yap Thiam Hien Award 2009, Bidang Penegakan Hak Asasi  Manusia, Pastor Jhon Jonga akhirnya mempublikasikan nama-nama korban meninggal akibat sakit penyakit 61 warga Distrik Samenage di Kabubaten   Yahukimo kepada wartawan,  Jumat (19/04/2013) sore di  Aula Pastoran Katolik  Wamena. Ternyata tidak hanya 61 orang yang meninggal, namun ada 62 nama  yang tercatat telah meninggal dan mayatnya telah dibakar. Ini merupakan tradisi budaya setempat.

Pastor  Jhon Jonga tidak sendiri dalam memberi keterangan kepada wartawan,  ia ditemani Tim Investigasinya yaitu Damianus Wetapo, Ferry Aso, Patris  Watipo, Theo Hesegem,  Dorcas Kossay, Lidia  Siep, Ida Huby, Asri  Elisabeth.

“Rendahnya pelayanan di bidang kesehatan ini membuat banyak warga yang  sakit tidak tertolong bahkan banyak di antaranya meninggal. Jika ada  yang sakit berat dan keluarga memiliki biaya untuk transportasi, maka  pasien tersebut akan di bawa ke Wamena. Namun banyak juga yang dibiarkan  begitu saja dan akhirnya meninggal. Selama kurang lebih tiga bulan yaitu bulan Januari-Maret 2013, sudah 61 warga distrik Samenage yang meninggal  dunia,”ujarnya.

Kata Pastor, laporan masyarakat dan juga para kader, petugas kesehatan  (mantri) sudah lama tidak berada di Kampung sehingga pelayanan tidak  berjalan dengan baik. Masyarakat tidak bisa sepenuhnya berharap pada  kader, karena kemampuan kader sangat terbatas dan membutuhkan pendampingan.  Ada juga laporan dari masyarakat bahwa saat memberikan pelayanan, ada  kader yang meminta bayaran kepada masyarakat.

Kata dia, bahkan pada saat tim baru sampai di Lapangan terbang Sawageit  pada 26 Maret 2013, tim mendapati masyarakat membawa dengan tandu seorang  perempuan muda dari kampung Hugi lokon karena sudah dalam kondisi gawat  untuk kemudian diterbangkan ke Wamena. Yang bersangkutan menderita perut, kaki, tangan bengkak dan kulit kekuning-kuningan. Pada saat tim kembali  dari Distrik Samenage pada tanggal 2 April, pasien tersebut masih berada  di ruang Unit Gawat Darurat (UGD) Rumah Sakit Umum Daerah Wamena.

Semetara itu Dorcas Kossay, mengungkapkan pelayanan kesehatan untuk Ibu dan  anak seperti Posyandu, pemeriksaan ibu hamil, penimbangan bayi balita, imunisasi di tempat ini  juga tidak berjalan. “Sementara di Puskesmas,  obat-obatan berhamburan di dalam ruangan dan tidak terpakai. Kami hanya  melihat dari balik jendela dan tidak berani masuk.”ujarnya.

Berdasarkan hasil wawancara dengan para kader dan melihat diagnosa penyakit  selama tim mengadakan pengobatan gratis, dominan penyakit yang banya  diderita oleh masyarakat adalah limpah, malaria klinis, scabies, diare,  asma, cacingan, dan kekurangan gizi, flu, demam panas.

Tidak adanya program pendampingan untuk kesehatan ibu dan anak membuat  kualitas kesehatan ibu dan anak menjadi sangat rendah. Kehamilan yang  tidak terkontrol juga menjadi masalah yang sangat mudah terlihat. Saat  tim berkunjung, sebagian besar ibu-ibu yang ditemui dalam kondisi hamil.

“Kami sudah bertemu Wakil Bupati, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Yahukimo.  Kepada kami  Wakil  Bupati menegaskan  dirinya gagal  melakukan pengawasan  sedangkan Kepala Dinas  Kesehatan mengakui dirinya gagal  menangani para  petugas medis disana. Dia mengaku  gagal menjalankan  tugasnya selama  tiga tahun dan sudah berencana akan mengundurkan diri,”ujarnya. [SuaraPembaruan| ]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Iklan Bawah Artikel


Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari  Papua Untuk Semua di Grup Telegram Papua Untuk Semua. Klik link https://t.me/PapuaCom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.

Papua Untuk Semua - Jendela Anak Tanah