Tradisi dan Budaya

[tradisi][threecolumns]

Sosial dan Komunitas

[sosial][list]

Pariwisata dan Rekreasi

[pariwisata][threecolumns]

Ekonomi

[ekonomi][list]

Politik

[politik][twocolumns]

Olahraga

[olahraga][bleft]

Pendidikan

[pendidikan][list]

Kesehatan

[kesehatan][list]

Hiburan

[hiburan][threecolumns]

Lingkungan

[lingkungan][list]

Teknologi

[teknologi][list]

Administrasi Pemerintahan

[pemerintah][twocolumns]

Laporan Otonomi Baru

[pemekaran][list]

Laporan Otonomi Khusus

[otonomi khusus][list]

Hukum dan Kriminal

[hukum][threecolumns]

Kecelakaan

[kecelakaan][list]

Bencana Alam

[bencana][list]

Sunday, 19 June 2016

Budidaya Jeruk di Moibaken Seluas 25 Hektar

BIAK (BIAK NUMFOR) - Kepala Dinas Peternakan dan Pertanian Tanaman Pangan (Kadisnaktan) Kabupaten Biak Numfor, Provinsi Papua I Made Suaryadana mengatakan budidaya tanaman jeruk di kampung transmigrasi Moibaken Distrik Yendidori seluas 25 hektare pada tahun 2016 akan menjadi sentra penghasil buah jeruk manis.

Kedisnaktan I Made Suaryadana di Biak, Sabtu, mengatakan program pengembangan sentra jeruk manis sudah berjalan diharapkan mampu meningkatkan pendapatan petani transmigrasi dan warga lokal asli Biak.

Ia mengakui, selama beberapa tahun belakangan ini di wilayah kampung Moibaken dikenal memiliki lahan pertanian yang cocok ditanami berbagai jenis sayur mayur, buah jeruk, bangkuang serta tanaman palawija lain.

Kepada petani lokal, lanjut Made, dapat mendapat keuntungan dengan dijadikan Moibaken pusat budidaya tanaman jeruk manis.

Menyinggung pendanaan untuk pengadaan bibit tanaman jeruk, menurut Made, akan dibantu dengan anggaran tugas perbantuan pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian Republik Indonesia.

"Untuk dukungan pendanaan sudah diprogramkan pada 2016, ya jajaran Disnaktan berharap petani yang lahanya sudah ditanami buah jeruk dapat melakukan program pengembangan budidaya dengan baik sehingga mampu memperoleh pendapatan dari menjual buah jeruk," katanya.

Pemkab Biak Numfor melalui visi misi Bupati Thomas Ondy untuk mewujudkan Biak bangkit mandiri untuk perubahan, menurut Kadisnaktan Made, jajaran dinas perternakan dan pertanian telah membuat program pembinaan petani lokal untuk membuka lahan ekonomi produktif di kampung.

"Dinas peternakan dan pertanian terus mendorong warga berbagai kampung untuk berperan aktif mewujudkan perubahan di dalam lingkungan dengan mendukung berbagai program pemerintah daerah," ujarnya.

Berdasarkan data wilayah transmigrasi Kampung Moibaken dihuni sekitar 45 kepala keluarga dari Jawa dan warga lokal asli Biak hidup harmonis dalam mengelola lahan pertanian untuk berkebun dan pengembangan ternak sapi dan kambing. (antara)
Silahkan berkomentar
  • Blogger Berkomentar dengan Blogger
  • Facebook Berkomentar dengan Facebook
  • Disqus Berkomentar dengan Disqus

No comments :