Tradisi dan Budaya

[tradisi][threecolumns]

Sosial dan Komunitas

[sosial][list]

Pariwisata dan Rekreasi

[pariwisata][threecolumns]

Ekonomi

[ekonomi][list]

Politik

[politik][twocolumns]

Olahraga

[olahraga][bleft]

Pendidikan

[pendidikan][list]

Kesehatan

[kesehatan][list]

Hiburan

[hiburan][threecolumns]

Lingkungan

[lingkungan][list]

Teknologi

[teknologi][list]

Administrasi Pemerintahan

[pemerintah][twocolumns]

Laporan Otonomi Baru

[pemekaran][list]

Laporan Otonomi Khusus

[otonomi khusus][list]

Hukum dan Kriminal

[hukum][threecolumns]

Kecelakaan

[kecelakaan][list]

Bencana Alam

[bencana][list]

Monday, 10 April 2017

Charles Gomar Nilai PSSI Anggap Perseru Serui Bukan Bagian dari Republik Indonesia

 
JAKARTA - Panitia pelaksana (panpel) pertandingan Perseru Serui merasa gusar dengan keputusan asosiasi Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) dan operator kompetisi Liga 1 2017, PT Liga Indonesia Baru (LIB), yang tidak meloloskan Stadion Marora sebagai kandang Kuda Laut Jingga.

Ketua panpel Perseru Charles Ghomar mengatakan, mereka merasa tak dianggap sebagai bagian dari Republik Indonesia, dan mengancam siap keluar dari kompetisi resmi yang digelar PSSI tersebut.

“Perseru itu adalah jati diri masyarakat Papua bersama Persipura, dan saya pikir Stadion Marora sangat layak digunakan untuk Liga 1,” cetus Charles kepada Goal Indonesia.

Charles mendapat informasi salah satu alasan yang membuat Marora tidak lolos verifikasi adalah perjalanan menuju Serui. Sejumlah klub sebelumnya mengeluhkan kondisi tersebut.

Charles menyatakan, akses menuju Serui tak seharusnya menjadi alasan yang membuat mereka harus pindah homebase. Sebab, saat ini sudah ada pesawat Trigana dengan kapasitas 49 penumpang yang melayani rute Jayapura ke Serui atau Biak ke Serui.

Selain itu, ada moda transportasi laut yang setiap harinya banyak jadwal kapal cepat melayani penyeberangan dari Biak ke Serui. Jika biasanya Biak-Serui ditempuh enam hingga tujuh jam, kini bisa dijangkau empat sampai lima jam.

“Jadi artinya transportasi bukanlah masalah. Kalau tim lain menyebut transportasi sulit ke Serui, menurut kami tidak etis. Bagaimana kalau kami yang berangkat 17 kali bertandang ke klub lain, tapi kami tidak mengeluh,” pungkas Charles.

Sebelumnya Anggota Komite Eksekutif PSSI, Gusti Randa menyatakan PSSI meminta kepada Perseru untuk pindah kandang. Sebab  PSSI mengklaim banyaknya keluhan soal transportasi yang datang dari klub-klub yang akan berpartisipasi di Liga 1.

"Hasil keputusan rapat Exco PSSI meminta Perseru untuk pindah homebase. Namun, mereka tetap akan bermain di Papua," ucap Gusti Randa.

"Permintaan ini karena adanya keluhan dari klub-klub. Ada beberapa kendala yang mereka hadapi, satu di antaranya tertahan di bandara," ia menambahkan.

PSSI mengklaim jarak dan waktu tempuh bagi setiap tim yang bertandang ke Serui dianggap melelahkan. Hal ini dikarenakan setiap tim yang ingin bermain di Stadion Marora harus dua kali melakukan transit di Makassar dan Biak untuk mencapai Kepulauan Yapen.

Jika mengacu permintaan PSSI, Perseru dipaksa untuk menjadikan Stadion Mandala markas Persipura Jayapura atau Stadion Barnabas Youwe markas Persidafon, sebagai alternatif. Sebab dua stadion tersebut dianggap mudah dijangkau karena berada di Jayapura. (antara/bola.com)
Silahkan berkomentar
  • Blogger Berkomentar dengan Blogger
  • Facebook Berkomentar dengan Facebook
  • Disqus Berkomentar dengan Disqus

No comments :