Tradisi dan Budaya

[tradisi][threecolumns]

Sosial dan Komunitas

[sosial][list]

Pariwisata dan Rekreasi

[pariwisata][threecolumns]

Ekonomi

[ekonomi][list]

Politik

[politik][twocolumns]

Olahraga

[olahraga][bleft]

Pendidikan

[pendidikan][list]

Kesehatan

[kesehatan][list]

Hiburan

[hiburan][threecolumns]

Lingkungan

[lingkungan][list]

Teknologi

[teknologi][list]

Administrasi Pemerintahan

[pemerintah][twocolumns]

Laporan Otonomi Baru

[pemekaran][list]

Laporan Otonomi Khusus

[otonomi khusus][list]

Hukum dan Kriminal

[hukum][threecolumns]

Kecelakaan

[kecelakaan][list]

Bencana Alam

[bencana][list]

Sunday, 7 July 2013

Cinta Dari Wamena Siap Diputar di Penjuru Papua

loading...
JAKARTA - Sejak diputar di jaringan bioskop, pada pertengahan Juni lalu, film Cinta Dari Wamena yang disutradarai Lasja Fauzia Susatyo tidak lagi memutar film di bioskop-bioskop tanah air karena masa peredarannya habis. Film tentang kehidupan remaja Wamena ini tetap akan ditampilkan ke sepuluh kabupaten dan kota di Papua.

Ditemui saat pemutaran film Cinta Dari Wamena bersama Mari Elka Pangestu, menteri pariwisata dan ekonomi kreatif, awal Juli lalu, Lasja mengatakan, ia merasa terpanggil membuat film yang dilatari kisah kasus HIV dan AIDS di Papua.

Pembuatan film pada 2010 ini bermula dari pemerintah daerah yang peduli pada peningkatan jumlah penderita HIV dan AIDS yakni, 3.004 ribu penderita. Lasja berkolaborasi karena media film dinilai mampu menampilkan sisi cerita dan persoalan kasus tersebut kepada masyarakat.

Bila film itu bisa ditonton tiga tahun lagi, diakui Lasja karena produksi ini mengalami masalah dana. Lalu, ada dewa penolong pihak AUSAID dan Ford Foundation. Sayang, peredaran film ini terhenti, karena animo penonton lebih memilih film asing.

Namun Lasja dan tim produksi tetap menayangkan kisah tiga anak Wamena ini ke sepuluh kabupaten dan kota Papua. "Untuk meningkatkan kesadaran dan jangan sampai bertambah korban," kata Lasja.

Pemain film diambil dari orang asli Papua, diantaranya, Maximus Itlay (Litius), Madonna Marrey (Martha), dan Benyamin Lagowan (Tembi). “Madonna sudah populer di kalangan masyarakat Papua, Maximus berasal dari anak kepala suku dan Benyamin itu mahasiswa di universitas Cendrawasih,” kata Lasja.

Film ini menjadi pembawa pesan moral tentang persahabatan sejati, cara menghindari penyakit HIV dan AIDS dan peran guru dalam kehidupan. [Tempo| CintaDariWamena]

Silahkan berkomentar
  • Blogger Berkomentar dengan Blogger
  • Facebook Berkomentar dengan Facebook
  • Disqus Berkomentar dengan Disqus

No comments :


Loading...