-->

Pernyataan Ketua Himpunan Pelajar Mahasiswa Distrik Illuga, Freddy Doga Dinilai Menyesatkan

KOTA JAYAPURA - Adanya tanggapan Ketua Himpunan Pelajar Mahasiswa Distrik Illuga (HPMDI) Freddy Doga yang membantah tak pernah menggelapkan dana bantuan studi akhir bagi mahasiswa asal Distrik Illuga atau HPMDI senilai Rp 420 juta  dan dengan adanya tudingan itu tidak benar serta dirinya yang merasa dirugikan.

Selain itu, juga ada pernyataan dari Plt. Ketua Himpunan Mahasiswa Pelajar Mamberamo Tengah (HMPMT) Jutius Jikwa yang menegaskan bahwa Sonny Mabel bukanlah Ketua HPMDI dan Nelly Gombo, Semi Mabel, Yaklim Mabel, Lanek Endama, Pilipus Karoba, Fekis Endama dan Dianus Mabel adalah orang - orang yang berasal dari Kabupaten Yalimo dan kenapa mereka mau ikut mencampuri persoalan di Kabupaten Mamberamo Tengah (Mamteng).

Hal itu mendapatkan bantahan langsung dari Sonny Mabel selaku pendiri HPMDI dan senior dari mahasiswa asal Distrik Illuga, Kabupaten Mamberamo Tengah didampingi sejumlah mahasiswa Distrik Illuga, Kabupaten Mamberamo Tengah seperti Pilipus Karoba, Nelly Gombo, Yaklim Mabel, Lanek Endama dan Semi Mabel kepada Bintang Papua di Café Prima Garden Abepura, Jumat (04/10/2013) kemarin siang.

Menurut Sonny Mabel, bahwa Ketua HPMDI Fredy Doga dan Ketua Plt. HMPMT Justius Jikwa bersama rekan - rekannya yang memberikan keterangan pers pada 1 Oktober lalu di Bintang Papua tersebut telah melakukan pembohongan publik dan pernyataan mereka itu sangat keliru.

“Saya bersama adik - adik mahasiswa lainnya yang diklaim oleh mereka Freddy Doga dan Justius Jikwa, Cs) bukan berasal dari Distrik Illuga, Kabupaten Mamberamo Tengah, tapi kami berasal dari Kabupaten Yalimo itu sama sekali tidak benar. Jadi, kami tegaskan bahwa stagmen yang mereka keluarkan itu sangat keliru sekali dan merupakan pembohongan publik. Dikarenakan selama ini adik - adik mahasiswa selalu aktif dalam organisasi HPMDI tersebut,” tegasnya.

Dia mengatakan, bahwa dia (Fredy Doga) itu sendiri yang mengakomodir data dari Distrik Illuga, Kabupaten Mamberamo Tengah untuk pencairan dana bantuan studi akhir, lalu kenapa dia sebaliknya menyampaikan  kalau nama - nama itu bukan berasal dari Distrik Illuga, Kabupaten Mamberamo Tengah tapi berasal dari Kabupaten Yalimo.

“Jadi, kami punya hak yang sama untuk tuntut apa yang telah dilakukannya yakni menggelapkan dana bantuan beasiswa yang telah digelontorkan Pemerintah Kabuapten (Pemkab) Mamberamo Tengah (Mamteng) sebenarnya adalah Rp 495 juta dan bukan Rp 420 juta untuk mahasiswa Distrik Illuga, Kabupaten Mamberamo Tengah (Mamteng) yang berhak menerimanya itu sebanyak 53 orang dan bukan 35 orang. Sehingga kalau mau dilihat kami ini yang merasa dirugikan oleh perbuatannya tersebut,” jelasnya.

Dia juga menyampaikan, pihaknya telah memiliki data yang valid sehingga kalau dia merasa benar dan ingin melaporkannya ke pihak berwajib maka dirinya bersama sejumlah mahasiswa asal Distrik Illuga juga siap menghadapinya.

“Dikarenakan kami telah memiliki data yang valid dari Pemkab Mamteng, yakni untuk mahasiswa D3 sebanyak 10 orang itu berhak menerima dana sebesar Rp 9 juta itu dipotong masing - masing sebanyak Rp 3 juta. Dia itu sudah melanggar aturan, dimana Pemkab Mamteng tidak menyetujui adanya pemotongan tanpa sepengetahuan yang berhak menerimanya tapi kenapa dia hanya bagikan danaa itu sebesar Rp 420 juta dan sisanya itu dikemanakan,” imbuhnya.

“Saya berbicara mewakili adik - adik mahasiswa yang lain itu bukan karena mengejar uangnya, tapi saya bicara disini untuk menengahi persoalan itu dan mencari transparansi serta kebenaran dari pembagian dana tersebut,” tukasnya.

Sementara itu ditempat yang sama salah satu mahasiswa asal Distrik Illuga Nelly Gombo mengatakan, bahwa perhatian besar dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mamberamo Tengah terhadap bidang pendidikan, khususnya pemberian beasiswa dan bantuan studi akhir sebenarnya sangat disambut baik oleh mahasiswa dan pelajar Distrik Illuga, Kabupaten Mamberamo Tengah yang sedang menuntut ilmu di Kota Jayapura yang terhimpun dalam wadah HMPDI.

Nelly demikian sapaan akrabnya mengatakan, sangat kecewa karena dana yang telah di berikan untuk bantuan studi akhir mahasiswa tidak digunakan dengan baik.

“Saya selaku anak dari Distrik Iluga sangat kecewa karena penggunaan dana bantuan studi akhir tidak jelas karena teman - teman dari HMPDI tidak transparan dalam menkomunikasikan dana bantuan ini dengan semua mahasiswa dari Distrik Iluga yang berhak menerima dana tersebut,” tuturnya.

Lebih lanjut Nelly menjelaskan, dana yang diberikan sebesar Rp 420 juta untuk bantuan studi akhir mahasiswa Distrik Iluga. “Dana yang diberikan sebesar Rp 420 Juta untuk bantuan studi akhir dari mahasiswa Distrik Iluga, namun yang dibagikan kepada mahasiswa berkisar Rp 120 juta, sedangkan dana sebesar Rp 300 juta itu diselewengkan Ketua HPMDI. Jadi, kami sangat kecewa dengan kinerja teman - teman pengurus karena telah merugikan teman - teman yang dalam tahap penyusunan studi akhir,” tukasnya. [BintangPapua]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Iklan Bawah Artikel


Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari  Papua Untuk Semua di Grup Telegram Papua Untuk Semua. Klik link https://t.me/PapuaCom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.

Papua Untuk Semua - Jendela Anak Tanah