-->

Orang Papua Harus Kritis Pahami Pemberitaan Tentang Tanah Papua

YOGYAKARTA - "Orang Papua saat ini sangat membutuhkan sikap kritis untuk memahami media dengan pemberitaanya," begitu komentar Lukas S Ispandriarno, dosen FISIP Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) ini kepada mahasiswa Papua dalam seminar bertema 'Berita' di Balik Berita, hari ini, Sabtu (08/02/2014) dari aula asrama Kamasan I Papua di Yogyakarta.

Dalam pengantarnya, Frans Kasipmabin, mantan ketua FKPMKP yang menjadi ketua panitia penyelenggara seminar ini mengatakan, seminar memeringati hari pers nasional ini diselenggarakan oleh Forum Komunikasi Pelajar dan Mahasiswa Katolik Seluruh tanah Papua (FKPMKP) bersama Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Aifat, Mare dan Karoon (IKPM-AMK) di Yogyakarta.

Lukas menjadi pemateri bersama Agustinus Dogomo, mantan ketua FKPMKP, mahasiswa semester akhir di Sekolah Tinggi Pemerintahan Masyarakat Desa (STPMD 'AMPD') Yogyakarta.

Mengamati Berita


Menurut Lukas, yang harus diperhatikan untuk menilai dan mengamati pemberitaan, terutama di Papua adalah dinamika internal dan eksternal sebuah media.

"Dinamika Internal meliputi sistem kerja media, strategi media dalam mengonstruksi realitas, ideologi setiap individu dalam media dan idealisme sebuah media," jelas Lukas.

Sementara dinamika eksternal adalah cakupan dan dinamika pasar media, dan kenyataan politik negara, dan sikap negara terhadap sebuah permasalahan yang disoroti.

"Jadi jelas, pihak-pihak yang mengelilingi pers, yang ikut membentuk inti berita adalah khalayak, pengiklan, pemilik, narasumber, kondisi sosial politik dan ekonomi, pemerintah, investor atau yang menyokong dana, dan kelompok penekan,"  kata Lukas menjelaskan.

Sementara isi berita, kata Lukas, dipengaruhi oleh individu jurnalis, rutinitas media, organisasi atau perusahaan penyokong, dan ideologi media.

Kebebasan Pers di Papua Dibungkam

Agustinus Dogomo yang berbicara lebih kepada kenyataan pembungkaman pers di Papua menceritakan banyak fakta pembungkaman pers.

Agus menilai, ada semacam usaha-usaha dari pihak pemerintah Indonesia agar kenyataan di Papua, khususnya yang bersentuhan dengan pelaggaran HAM dan kontraversi sejarah Papua agar tidak dikonsumsi pihak luar, di luar dari Papua.

"Majalah Pelita Papua diteror, disita, hanya karena memuat bendera Bintang Kejora di sampul depan. Pihak militer telah banyak menjadi wartawan, hingga pemberitaan menjadi tidak fair. Media nasional tidak memberitakan kenyataan yang riil. Sementara larangan jurnalis dan pekerja HAM dari luar tetap diblokade," jelas Agus.

Wartawan selalu diteror, dipukul, bahkan nyawa menjadi taruhan, kala mereka menulis realitas.

"Ada semacam kekuatan yang kuat, yang sepertinya datang dari pusat, yang berusaha menekan pers mengangkat pemberitaan yang sifatnya mengungkap dosa pemerintah."

Andy Pigai, mahasiswa Papua di Yogyakarta,dalam seminar tersebut mengatakan kekecewaannya.

"Kalau mengenai Papua, media-media nasional di Jakarta mereka kurang tegas dalam pemberitaan. mereka kadang merekayasa berita," kata Andy berpendapat."Apalagi kalau itu soal penembakan, kontak senjata TNI dan OPM, masalah HAM Papua pada umumnya," kata Andi menambahkan.

Sementara Kosmas, salah satu mahasiswa asal Sorong usai seminar malah mengatakan muak dengan semua pemberitaan media nasional di Jakarta soal Papua.

"Mereka beritakan kadang tra benar satu. Padahal dog punya berita itu yang dikonsumsi banyak dan jangkauan luas," katanya.

"Semua kembali kepada teori, siapa pihak-pihak yang mengelilingi sebuah media. Siapa penyokong media. Apa ideologinya. Bagaimana kepatuhan dan kedekatannya dengan sistem yang ada," jelas Lukas menanggapi dua penanya di atas.

Kebebasan Pers Mesti Dihargai

"Kebebasan pers d Papua mesti dihormati. UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers mesti ditegakkan di Papua. Tidak boleh ada blokade untuk jurnalis asing. Ini negara demokrasi," kata Agus.

Sementara Lukas menilai, bisa jadi pers di Papua dalam kondisi yang memprihatinkan seperti di atas, karena bisa jadi kenyataan itu adalah akibat dari kesalahan dari para aktor yang mengelilingi sebuah media, atau karena situasi politik yang berkaitan dengan pemerintah pusat dan kebijakannya, dan militer, pemerintah daerah, dan investor di Papua.

"Saya pikir, generasi muda Papua harus dididik menjadi jurnalis. Anak Papua harus banyak yang jadi jurnalis yang berkualitas. Agar bisa kerja suarakan kebenaran yang dibungkam," kata Lukas.

Lukas berharap, media-media di Papua dan organisasi di bidang pers dan organisasi lainnya mulai berpikir untuk membuat pelatihan-pelatihan jurnalistik bagi anak muda Papua,dan bergabung ke media-media independen milik orang Papua sendiri, yang posisinya netral, untuk menyuarakan kebenaran.

"Pikirkan juga, kalian bisa bentuk media sendiri untuk mengimbangi pemberitaan yang tidak fair itu. Atau  memperkuat media-media yang kredibel yang saat ini ada di Papua, dengan menjadi wartawan di sana, atau mendukungnya dengan menyumbang tulisan," kata Lukas mengakhiri.

Seminar dimulai pukul 10.00 WIB, dan berakhir pukul 12.15 WIB.[MajalahSelangkah]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Iklan Bawah Artikel


Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari  Papua Untuk Semua di Grup Telegram Papua Untuk Semua. Klik link https://t.me/PapuaCom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.

Papua Untuk Semua - Jendela Anak Tanah