-->

Pastor Paroki St Stefanus Sempan Minta Umat Kriten Jadikan Paskah sebagai Pemulihan

TIMIKA (MIMIKA) - Pastor Paroki Santo Stefanus Sempan, Pater Gabriel Ngga OFM mengatakan Paskah yang dirayakan umat Kristiani seharusnya dijadikan momen untuk memulihkan Firdaus yang hilang akibat ulah dan dosa-dosa manusia.Tuhan menciptakan dunia dan segala isinya, baik adanya. Bahkan manusia diciptakan secitra dan segambar dengan Allah. Suatu martabat yang dikenakan bagi manusia oleh Tuhan sang pencipta.
Demikian antara lain isi kotbah Pastor Gabriel pada misa malam Paskah di Gereja Katolik St Stefanus Sempan, Sabtu (4/4).

Namun dalam perjalanannya, manusia sering tidak hidup sesuai dengan amanat Tuhan, sehingga membuat martabatnya tidak lagi memperlihatkan ia secitra dengan Allah. Dalam segala hal, manusia sebagai citra Allah mengalami kemunduran karena lebih mementingkan pribadi dan kelompok yang membuat sesama sering menjadi korban.

Meski demikian, Allah tidak pernah berhenti mengasihi manusia. Puncaknya adalah Ia mengutus putera-Nya Yesus Kristus yang rela menderita dan wafat dikayu salib untuk menebus dosa manusia. “Hal ini memperlihatkan bahwa Allah tidak pernah berhenti mengasihi kita. Yesus mempertaruhkan nyawa-Nya dan menang akan maut dan bangkit dari kematian. Karena itu, Paskah ini harus memulihkan Firdaus yang hilang dari diri, keluarga dan masyarakat kita,” ujarnya.

Pastor Gabriel mengatakan, Paskah bagi umat Kristiani adalah bangkit dan membangun kebersamaan awal, membangun kekeluargaan, persaudaraan, karena disanalah umat manusia akan berjumpa dengan Tuhan. Dalam Paskah, umat Kristiani diundang untuk kembali pada semangat awal masing-masing. “Berkeluarga kembali ke semangat awal dimana hidup saling mengasihi dan saling mencintai. Imam dan dan hidup membiara juga harus kembali ke semangat awal dalam menjalani panggilannya hidup membiara,” pesannya.

Lebih jauh Pastor Gabriel berpesan secara khusus kepada umat Katolik Paroki St Stefanus Sempan agar kembali pada semangat awal, karena saat ini semangat hidup menggereja sudah mulai kendur. Kebersamaan, kekeluargaan dan komitmen harus kembali ke semangat awal. “Melalui Paskah ini kita harus betul-betul membangun sebuah kehidupan yang baru dari berbagai macam kelemahan dan dosa. Yesus adalah Sang Juruselamat menjadi puncak Paskah. Dia memulihkan Firdaus yang hilang, relasi manusia dengan manusia dan manusia dengan Tuhan rusak, sehingga kehadiran Yesus hendak memulihkan Firdaus yang hilang itu,” kata Pastor Gabriel.

Sementara itu, ribuan umat Katolik juga menghadiri perayaan misa malam Paskah di Gereja Katedral Tiga Raja yang dipimpin Uskup Keuskupan Timika Mgr John Philip. “Suka cita Allah disampaikan oleh Putra-Nya yang tunggal, maka kebangkitan Tuhan Yesus Kristus telah mengapus semua dosa-dosa manusia bahwa suka cita Paskah dapat dialami oleh setiap orang dan semua orang diperkenankan merayakan suka cita Paskah ini,” kata Uskup John Philip dalam kotbahnya pada misa Paskah itu.

Uskup John Philip mengatakan dengan suka cita Paskah dan bangkitnya Yesus dari alam maut, telah menghapus dosa umat manusia. “Suka cita Paskah dapat dialami oleh mereka yang bertobat. Dia menderita dan wafat di kayu salib telah bangkit supaya semua orang percaya bahwa Tuhan yang wafat di kayu salib dan Tuhan yang bangkit pada hari ketiga, sehingga hidup kita telah mengalami kebangkitan baru,” ungkapnya.

Menurut Uskup John Philip, peristiwa suka cita Paskah harus disampaikan kepada semua orang agar semua orang bisa mengalami keselamatan. “Iman adalah percaya kepada Tuhan dan melaksanakan ajaran-ajaranya. Karena manusia dinilai bukan hanya pada imannya saja, tetapi juga pada perbuatan-perbuatannya,” jelasnya.
Uskup John Philip menyebut tujuh hal yang harus diperangi oleh setiap orang yaitu kesombongan, kemalasan, hawa nafsu, keserakahan, ketamakan, iri hati, dan balas dendam. Namun banyak orang belum bisa merayakan suka cita Paskah karena banyak alasan dan kesulitan hidup.

Untuk itu Uskup John Philip mengajak semua umat Katolik untuk mengabarkan suka cita Paskah kepada semua orang, yang dimulai dari dalam keluarga, tetangga, dan masyarakat, serta mengajak seluruh umat Katolik untuk bersama-sama menjaga keharmonisan hidup dengan seluruh umat beragama di Kabupaten Mimika tercinta ini. [HarianPapua]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Iklan Bawah Artikel