-->

Uskup John Saklil Minta Maknai Paskah Sebagai Keselamatan Melalui Penderitaan

TIMIKA (MIMIKA) - Uskup Keuskupan Timika Mgr John Philip Saklil menegaskan keselamatan tidak diraih melalui jalan pintas tapi melalui sebuah penderitaan. Hal ini tercermin dari penderitaan dan kesengsaraan Yesus hingga wafat di kayu salib untuk menebus dosa manusa dan bangkit pada hari ketiga.

Dalam kotbah pada misa kudus Jumat Agung di Gereja Paroki Santo Stefanus Sempan, Jumat (3/4), Uskup John Philip mengatakan, manusia harus mampu membedakan beban dan tanggungannya dalam menjalani kehidupan setiap hari. Kalau dikatakan tanggungan maka semua hal harus bisa mampu dibikin sendiri, segala hal harus dipikul sendiri serta diataur sendiri. Kalau menjadi beban, maka itu membutuhkan orang lain. “Yesus memikul salib sendiri. Namun saat terjatuh, Ia membutuhkan bantuan Yusuf dari Arimatea karena beban kayu salib sangat berat. Kehidupan kita harus demikian, kita harus pikul, tanggung sendiri salib kehidupan. Pada saat terjatuh, baru kita butuh orang lain,” jelasnya.

Menurut Uskup John Philip, dunia saat ini orang tidak bisa membedakan mana yang menjadi tanggungan hidupnya dan mana yang menjadi beban. Hidup ini menjadi hancur karena semua hal yang menjadi tanggungan dijadikan beban bagi orang lain. “Pada saat apa yang menjadi tanggungan sendiri kemudian dibebankan kepada orang lain, maka kehancuran akan terjadi. Apalagi saat ini orang hanya mau cari gampang dan tidak mau kerja keras. Hanya berharap hidup dari bantuan orang lain. Orang ini akan hancur, namun orang yang selalu bekerja keras dan mencucuri keringat untuk mendapatkan sesuatu, maka ia akan mengalami kebangkitan seperti Kristus,” tegasnya.

Uskup John Philip menyebutkan ada empat pesan yang harus diteladani saat Yesus wafat di kayu salib. Pertama adalah saat Yesus berdoa, “Ya Bapa ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”. Hal ini menunjukkan bahwa walaupun Yesus dipukul dan dicaci maki tapi Dia tetap berdoa bagi yang menganiaya-Nya.
“Tuhan mendamaikan siapa saja. Tuhan berpesan kepada kita sebagai orang beriman, bahwa keselamatan hanya bisa dialami semua orang pada saat kita mengampuni, apalagi mengampuni orang-orang yang menjadi musuh kita. Tuhan memberikan contoh bagaimana Ia mengampuni musuh-musuh-Nya. Ia mengampuni siapapun yang bersalah kepada-Nya. Kita bisa alami kehidupan yang luar biasa dan penuh damai, kalau kita bisa memberikan ampunan kepada orang yang menyakiti kita,” kata Uskup John Philip.

Pesan yang kedua adalah saat Yesus memberikan kesempatan kepada salah satu dari dua orang penyamun yang ikut disalibkan bersama-Nya agar bertobat dan memperkenankan orang tersebut masuk dalam kerajaan surga. “Disini Yesus ingin berpesan bahwa seberat apapun dosa dan kesalahan manusia, tapi jika memohon pengampunan dan menyatakan pertobatan, maka Tuhan yang Maha Cinta akan mengampuninya,” jelas Uskup John Philip.

Pesan ketiga adalah waktu Yesus disalib tapi para murid-Nya sudah lari. Yesus melihat di bawah salib hanya Maria ibu-Nya dan Yohanes. Yesus melihat Maria dan mengatakan Ibu, ini Yohanes adalah anakmu. Kemudian Ia melihat Yohanes dan mengatakan Yohanes, ini Maria adalah ibumu. “Pesan ini sangat luar biasa. Ditengah ketegangan itu, Yesus ingin berpesan bahwa manusia harus mencintai ibu, ayah, anak dalam hidup keluarga. Keselamatan apapun dalam hidup kita hingga mati, apa yang kita buat dan warisi untuk keluarga. Yesus berpesan bahwa kita harus hidup saling mengasihi dalam satu keluarga. Apalagi Maria menyaksikan anak-anaknya disiksa dan murid-muridNya lari. Hanya dengan kasih, kita hidup dalam kekuatan dan penuh berkat. Dan kasih Tuhan yang ditunjukkan Yesus saat dikayu salib adalah kasihilah keluargamu,” kata Uskup John Philip.

Pesan keempat adalah pada waktu Yesus hendak wafat, Dia minta minum karena Ia kehausan setelah memikul beban salib. Namun saat itu Ia dikasih anggur asam. Disini Tuhan berpesan bahwa Ia tidak mengeluh tapi minum saja walau keinginan-Nya untuk minum air yang bagus tidak terpenuhi. “Hidup manusia seperti ini, memang terkadang manusia berbuat baik tapi mendapat cemoohan dari orang lain. Manusia sering jatuh dalam kekurangan dan meminta pertolongan, tapi kadang tidak mendapatkannya. Karena itu apapun yang terjadi, serahkan semuanya kepada Tuhan,” jelasnya.

Uskup John Philip mengungkapkan, secara manusia Yesus tidak mampu memikul salib, tapi pada akhirnya Ia menyerahkan semuanya kepada Tuhan. “Biarkanlah cawan ini berlalu dari-Ku, tapi bukan kehendak-Ku melainkan kehendak-Mu yang terjadi. Dalam kehidupan, tidak semua terjadi sesuai dengan keinginan, sering terjadi diluar kemauan kita. Namun sebagai orang beriman, kita harus mengatakan bahwa semua itu adalah kehendak Tuhan. Dalam setiap penderitaan, Tuhan mempunyai rencana untuk kehidupan kita,” tandas Uskup John Philip.

Sebelumnya, ribuan umat Katolik Paroki St Stefanus Sempan mengikuti perayaan pekan suci dalam rangka merayakan Paskah tahun ini. Pada misa Kamis Putih, Kamis (2/4), ribuan umat Katolik hadir mengikuti misa yang berlangsung hikmat. Perayaan misa itu dipimpin Pater Bert Hagendoorn OFM. Kemudian pada Jumat (3/4) pagi, umat Katolik Paroki St Stefanus Sempan mengikuti jalan salib, dan mengambil bagian dalam misa Jumat Agung pada sore harinya yang dipimpin Uskup Keuskupan Timika, Mgr John Philip.

Sementara pada perayaan malam Paskah, Sabtu (4/4), misa dimulai pukul 19.00 WIT, umat Katolik kembali mengikuti misa malam paskah yang dipimpin oleh Pastor Paroki St Stefanus Sempan, Pater Gabriel Ngga OFM.
Kemudian perayaan Minggu Paskah, (5/6), misa dipimpin Pater Bert HagendoornOFM. Pantauan Harian Papua selama pecan suci, tampak ribuan umat Katolik Paroki St Stefanus Sempan mengikuti perayaan misa dengan penuh hikmat. Selain memenuhi gedung gereja, umat juga memenuhi tenda-tenda yang disiapkan panitia Paskah yang berada di samping gedung gereja.

Sementara di luar gereja, tampak aparat keamanan melakukan penjagaan dan mengatur arus lalu lintas yang melintas di Jalan Busiri depan Gereja Paroki Sempan. Selama perayaan pecan suci tahun ini, tidak ada gangguan keamanan di sekitar area Gereja Paroki St Stefanus Sempan. Semua berjalan lancar dan umat Katolik pun beribadah dengan tenang dan khusuk. [HarianPapua]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Iklan Bawah Artikel