-->

Bevie Marcho Nahumury, Insinyur Muda yang Aktif dalam Perencanaan Tambang Papua

KOTA JAYAPURA - Lelaki bernama lengkap Bevie Marcho Nahumury ini lahir di Sorong, Papua Barat pada 21 April 1981, dan semasa kecil telah bercita-cita meraih gelar insinyur, yang kini disebut sarjana teknik.

Ia menamatkan pendidikan dasar hingga menengah di Sorong, Provinsi Papua Barat, dan meraih gelar sarjana Teknik Pertambangan dari Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (USTJ) pada 2004.

Sempat menjadi dosen luar biasa di USTJ hingga diterima menjadi dosen tetap di Universitas Cenderawasih (Uncen) dan kini menjabat sebagai Ketua Program Studi Teknik Pertambangan Uncen.

Dua tahun kemudian, ia melanjutkan studi S2 di Program Studi Rekayasa Pertambangan ITB, Bandung, Jawa Barat dan meraih gelar Magister Teknik pada 2012.

Sebagai Ketua Program studi Teknik Pertambangan kampus Uncen, ia juga aktif sebagai dosen pembina mahasiswa teknik pertambangan, sehingga pernah mendampingi beberapa mahasiswa tambang untuk mengikuti sejumlah kegiatan dan pelatihan, seperti pelatihan tambang bawah tanah di Sawalunto, Padang, Sumatera Barat dan beberapa daerah di Papua dan luar Papua.

Bevie yang masih melajang ini juga aktif dalam pekerjaan perencanaan tambang, seperti perencanaan tambang batubara di Kabupaten Sorong, Papua Barat, Pemetaan batubara di Kabupaten Waropen, Papua, dan berbagai penelitian di bidang pertambangan.

Lelaki yang memiliki motto "tidak perlu memberitahukan siapa saya kepada orang lain, tapi orang harus tahu siapa saya lewat karya", ini juga  pernah beberapa kali menjadi narasumber pada acara "Topik Kita" di TV One, dan aktif menulis pada beberapa tabloid nasional dan juga memberikan komentar berupa opini tentang perkembangan dunia pertambangan di Papua maupun Indonesia secara umum.

Berbekal pengetahuan dan pengalamannya, pria yang hobi menyanyi ini  menyadari potensi yang dimiliki Provinsi Papua dan Papua Barat dari sektor pertambangan sangat potensial.

Ia menyebut sebaran potensi endapan mineral cukup beragam, misalnya potensi emas terdapat di Senggi, Kabupaten Keerom, Nabire, Mimika, Waropen, dan Pegunungan Bintang.

Sedangkan potensi Nikel terdapat di Kabupaten Jayapura, Sarmi, Waropko di Kabupaten Boven Digul dalam persentase yang kecil, potensi bijih besi dan pasir besi di Sarmi dan potensi mineral batuan terdapat di Kota dan Kabupaten Jayapura, Keerom, Biak Numfor dan beberapa daerah pegunungan.

Potensi minyak dan gas bumi sebarannya terdapat di Provinsi Papua Barat yaitu Sorong dan Manokwari.

"Untuk batubara potensinya sangat kecil terdapat di Kabupaten Waropen, Kabupaten Jayapura dan beberapa wilayah di Papua Barat seperti di Sorong, Tamanrauw, Sorong Selatan," ujar mantan penyiar RRI Jayapura ini.

Mantan pengurus mahasiswa dan aktivis sejumlah LSM ini menilai Pendapatan asli daerah Provinsi Papua masih didominasi oleh sektor pertambangan.

Ia pun menyimpulkan bahwa dalam pengelolaan sumberdaya alam sering terjadi "resources blessing" atau berkah sumberdaya apabila dampak dari pengelolaan sumber daya positif, dan sebaliknya bila pengelolaan sumber daya berdampak buruk pada negara maka disebut "resources curse" atau kutukan sumberdaya.

Bevie juga mengatakan bahwa konsep 'good mining practice' haruslah diterapkan dalam kegiatan pertambangan, hal ini dapat memberikan dampak yang untuk kegiatan pertambangan di Papua.

Selain itu konsep penambangan yang berwawasan lingkungan dengan cara menerapkan kewajiban reklamasi, pemberdayaan masyarakat di sekitar tambang dalam bentuk Coorporate Social Responsibility (CSR) dan kewajiban divestasi untuk perusahaan asing.

Dalam pengembangan pengelolaan pemanfaatan sumberdaya mineral tidak terlepas dari kebijakan pemerintah, keharusan terjadinya tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) pada pemanfaatan sumberdaya ekstarktif.

Demikian pula prinsip transparansi yang amat diperlukan yakni meliputi keterlibatan para pemangku kepentingan, keterbukaan, dan prinsip pembangunan yang berkelanjutan,  serta untuk peningkatan daya saing iklim investasi di bidang industri ekstraktif.

"Tentunya pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya mineral di Papua harus bersifat 'sustainable development', demi generasi penerus bangsa," ujar mantan Ketua Persekutuan Anggota Muda (PAM) Gereja GKI Siloam Waena periode 2005-2011 ini. [Antara]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Iklan Bawah Artikel