Tradisi dan Budaya

[tradisi][threecolumns]

Sosial dan Komunitas

[sosial][list]

Pariwisata dan Rekreasi

[pariwisata][threecolumns]

Ekonomi

[ekonomi][list]

Politik

[politik][twocolumns]

Olahraga

[olahraga][bleft]

Pendidikan

[pendidikan][list]

Kesehatan

[kesehatan][list]

Hiburan

[hiburan][threecolumns]

Lingkungan

[lingkungan][list]

Teknologi

[teknologi][list]

Administrasi Pemerintahan

[pemerintah][twocolumns]

Laporan Otonomi Baru

[pemekaran][list]

Laporan Otonomi Khusus

[otonomi khusus][list]

Hukum dan Kriminal

[hukum][threecolumns]

Kecelakaan

[kecelakaan][list]

Bencana Alam

[bencana][list]

Wednesday, 22 July 2015

Jaringan Damai Papua (JDP) Nilai Kericuhan di Karubaga Buktikan Perhatian Semua Pihak

loading...
KOTA JAYAPURA - Koordinator Jaringan Damai Papua (JDP) Pater Neles Tebay menilai tanggapan pada kericuhan di Karubaga, Kabupaten Tolikara, Papua, membuktikan semua pihak simpati dan perhatian pada kehidupan beragama di Papua.

"Peristiwa Tolikara memunculkan banyak reaksi dan tanggapan dari seantero Nusantara. Itu semua membuktikan simpati dan perhatian, karena itu saya berharap perhatian itu juga untuk mencegah hal-hal yang tidak dikehendaki dan mendorong perdamaian," katanya di Kota Jayapura,  Selasa.

Berbagai tanggapan yang banyak beredar lewat pemberitaan atau pun media sosial, menurut Ketua Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Fajar Timur Kota Jayapura itu, patut dihargai karena menunjukkan kepedulian yang luar biasa terhadap kehidupan umat beragama di Tanah Papua.

Guna mencegah hal-hal yang tidak diinginkan oleh semua pihak, pihaknya mengharapkan kepada sesama anak bangsa di seluruh Nusantara agar mendoakan keselamatan dan perdamaian bagi semua penduduk di Kabupaten Tolikara dan di seluruh Tanah Papua.

"Janganlah pertentangkan kami dalam doamu, dengan memohon kepada Allah perlindungan dan keselamatan bagi satu kelompok dan kutukan bagi kelompok yang lain. Itu tidak tepat," katanya.

Dengan begitu, lanjut peraih penghargaan dari Yayasan Keadilan dan Perdamaian Tji Hak-soon di Korea Selatan pada 2013 itu, masyaraka Papua tidak dipisah-pisahkan dalam doa yang dipanjatkan.

"Biarlah kami senantiasa dipersatukan dalam doamu. Tidak ada pihak yang bergembira atas penderitaan sesama kami di Tolikara. Kami semua prihatin dan menyesali atas peristiwa ini, maka doakanlah keselamatan dan perdamaian bagi kami semua yang hidup di Bumi Cenderawasih," katanya.

Dengan mendukung kami, masyarakat Papua dalam kebersamaan, lanjut Tebay, agar tetap mengarahkan seluruh perhatian kami pada satu titik atau visi yang sama yakni Papua Tanah Damai.

"Kami tahu bahwa perdamaian tidak akan tercipta sendiri. Perdamaian menuntut kerja cerdas dan keterlibatan dari semua pihak, baik secara individu maupun secara kolektif. Oleh sebab itu, doakan kami, agar kami selaku warga Papua senantiasa memelihara persekutuan dan persaudaraan yang sudah lama kami alami, serta dapat memperjuangkan perdamaian secara bersama melalui doa, dialog dan kerja cerdas," katanya.

Sahabat almarhum Muridan, salah seorang peneliti LIPI yang mendedikasikan hidupnya untuk perdamaian di Papua itu, mengatakan perlunya memberikan dukungan bagi pihak Kepolisian dan Komnas HAM untuk melakukan investigasi di Tolikara guna menemukan fakta sebenarnya yang terjadi di lapangan pada 17 Juli 2015.

"Semoga investigasi itu dapat memperjelas, apakah mushalla itu dibakar atau terbakar? Kalau dibakar, siapa pelakunya dan apa motivasi dan tujuan dari pelaku pembakaran terhadap mushalla tersebut," katanya.

"Lalu, apa penyebab utama yang mendorong pembakaran kios dan rumah? Apa penyebab dari penembakan yang dilakukan terhadap warga sipil," lanjutnya.

Karena, kebenaran informasi yang disampaikan oleh Polri dan Komnas HAM sangat penting dan berguna.
"Karena hanya informasi yang benar-lah yang dapat membantu kami untuk melihat masalah secara jernih dan memperoleh pemahaman yang benar tentang peristiwa Tolikara," katanya.

Hal ini pada gilirannya, kata Tebay, akan membantu masyarakat Papua untuk secara bersama membangun perdamaian yang diidamkan oleh setiap dan semua orang, bukan hanya di Tolikara, tetapi di seluruh Tanah Papua dan Indonesia. [Antara]

Silahkan berkomentar
  • Blogger Berkomentar dengan Blogger
  • Facebook Berkomentar dengan Facebook
  • Disqus Berkomentar dengan Disqus

No comments :


Loading...