-->

Dua Jenazah Korban Penembakan TNI Mimika Dimakamkan di TPU SP1

TIMIKA (MIMIKA) - Dua jenazah korban Koperapoka Berdarah di sepanjang jalan Bhayangkara hingga pertigaan Gorong-gorong, Kelurahan Koperapoka pada Jumat (28/8) lalu dikuburkan di Pemakaman Umum, SP1, Kelurahan Kamoro Jaya, Distrik Wania, Timika.

Pemakaman diawali dengan misa requiem atau misa arwah, yang berlangsung di Gedung Gereja St. Fransiskus Koperapoka pada Minggu (30/8) pukul 14.00 WIT, dan dihadiri sekitar 500 umat.

Pastor Paroki Katedral Tiga Raja Timika, Amandus Rahadat, Pr., mengajak umat untuk menjadi contoh nyata kedamaian dengan cara mengampuni siapa saja yang melakukan kejahatan.

“Kita semua adalah orang beriman. Jadi, nyatakanlah iman kalian bahwa kita ini sudah ditebus oleh Yesus yang mengampuni dan Yesus yang mengasihi kepada musuh dan orang menyakiti kita,” ujar Pastor Amandus.

Dikatakan kedamaian melalui pengampunan yang nyata haruslah berlandas pada ajaran kasih Kristus.

“Kita harus menunjukkan sikap baik kita kepada siapapun. Dalam konteks saat ini kita harus menunjukkan sikap baik kita kepada militer, sebagai korps. Kita boleh benci kepada oknum anggota yang melanggar, tetapi Tuhan Yesus mengajarkan kita hal lain, maka kita harus mengikuti perilaku Tuhan kita,” tuturnya.

Pastor menyatakan, rasa duka dan sedih yang dirasakan oleh keluarga, rekan dan warga di Koperapoka tidak dapat dengan cepat dihilangkan. Namunharus disertai dengan penghiburan dan pengharapan serta janji penuntasan masalah yang seadil-adilnya sehingga, tidak ada beban yang terasa di kemudian hari.

“Kita bawa dua anak ini dengan hati yang pedih dan duka. Istri, anak-anak dan keluarganya yang kehilangan mengharapkan adanya keadilan dari hal ini,” ujarnya.

Sembari mengajak jemaat untuk mendoakan siapa saja yang berlaku jahat kepada sesama. Termasuk kepada oknum anggota TNI yang melakukan tindak kejahatan dengan menghilangkan warga sipil.

“Kita berdoa untuk para prajurit, kita berdoa untuk kejahatan yang terjadi. Ada banyak tentara di negara ini. Mereka adalah aparat negara yang mengabdi untuk rakyat,” ujar dia.

Sembari mengingatkan para petinggi TNI di Provinsi Papua terutama Panglima Komando Daerah Militer (Kodam) XVII Cenderawasih, Mayjen Hinsa Siburian yang melakukan kunjugan korban luka dan melayat para korban meninggal pada Sabtu (29/8) lalu agar menepati janjinya untuk menuntaskan kasus tersebut secara seadil-adilnya.

“Kita akan tetap minta Bapak Pangdam nyatakan keadilan rakyat, nyatakan keadilan orang yang lemah, nyatakan keadilan orang yang bersalah. Seharusnya mereka amankan anggota yang menyakit hati rakyat. Tapi mengapa para pengaman ini harus membunuh rakyat. Hal ini tidak bisa dibiarkan dan pangdam sudah tahu hal itu,” ujar.

Sembari mengajak warga agar tidak melakukan tindakan kekerasan dan balas dendam kepada warga lain. Sebab sebagai pengikut Kristus harus menjaga perdamaian ditengah kericuhan yang terjadi.

“Hari ini dan seterusnya, tidak boleh ada ribut. Kalo ada ribut, berarti kalian bukan orang Katolik,” ujar dia.
Misa diakhiri dengan sambutan oleh keluarga korban dan tarian adat pengantar jenazah oleh warga suku Kamoro. Selain anggota jemaat misa ini dihadiri oleh Komadan Resor Militer (Dandrem) 174/ATW, BrigjenTNI Supartodi, Irwasda Polda Papua Kombes Pol Petrus Waine, Sekretaris Komisi A DPRP Mathea Mameyau, Dandim Mimika Letkol Inf Andy Kusworo dan Sekda Mimika Ausilius You.

Selanjutnya jenazah yang dipikul oleh anggota Barisan Merah Putih dan anggota Kodim 1701 ini diantar dengan iring-iringan kendaraan oleh keluarga dan ribuan warga ke tempat pemakaman umum (TPU) SP1, Kelurahan Kamoro Jaya.

Beberapa anggota keluarga dari Herman Mairimau dan Yulianus Okoare yang sangat berduka dengan tragedi ini mengalami tekanan yang begitu besar, diantaranya ibu dari Yulianus Okoare yang jatuh pingsan saat akan mengantar jenazah. Ia kemudian dilarikan ke rumah sakit. Beberapa saat kemudian adik bungsu dari Yulianus menyusul jatuh pingsan. Sedangkan keluarga lainnya menangis tersedu-sedu saat mengantar jenazah.

Saat di pemakaman, misa arwah di TPU dilanjutkan dengan memberikan eulogi kepada keluarga dan para pengantar dengan menegaskan bahwa segala peristiwa yang terjadi dalam beberapa hari terakhir adalah sebuah tanda pengasihan Tuhan kepada keluarga dan juga masyarakat Kamoro agar selalu mengandalkan Tuhan disetiap waktu.

Suasana haru kembali terjadi ketika kedua peti mayat dari Herman dan Yulianus diturunkan ke dalam liang lahat. Keluarga dan rekan menangis histeris melepaskan kedua jenazah untuk dikubur. Misa diakhiri dengan taburan bunga dan peletakan krans bunga. [Jubi]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Iklan Bawah Artikel


Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari  Papua Untuk Semua di Grup Telegram Papua Untuk Semua. Klik link https://t.me/PapuaCom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.

Papua Untuk Semua - Jendela Anak Tanah