Tradisi dan Budaya

[tradisi][threecolumns]

Sosial dan Komunitas

[sosial][list]

Pariwisata dan Rekreasi

[pariwisata][threecolumns]

Ekonomi

[ekonomi][list]

Politik

[politik][twocolumns]

Olahraga

[olahraga][bleft]

Pendidikan

[pendidikan][list]

Kesehatan

[kesehatan][list]

Hiburan

[hiburan][threecolumns]

Lingkungan

[lingkungan][list]

Teknologi

[teknologi][list]

Administrasi Pemerintahan

[pemerintah][twocolumns]

Laporan Otonomi Baru

[pemekaran][list]

Laporan Otonomi Khusus

[otonomi khusus][list]

Hukum dan Kriminal

[hukum][threecolumns]

Kecelakaan

[kecelakaan][list]

Bencana Alam

[bencana][list]

Friday, 6 November 2015

Nenu Tabuni Luncurkan Buku ‘Demokrasi Tanpa Bercak Darah, Pesan Damai Pilkada Perdana Intan Jaya’

loading...
KOTA JAYAPURA – Buku berjudul: ‘Demokrasi Tanpa Bercak Darah, Pesan Damai Pilkada Perdana Intan Jaya’ menjadi salah satu potret pilkada damai yang pernah dilakukan pada tahun 2012 di Kabupaten Intan Jaya. Saat itu, untuk pertama kalinya kabupaten itu baru menjadi kabupaten defenitif, dari sebelumnya bergabung di Kabupaten Nabire.

Nenu Tabuni, sang penulis buku yang saat ini menjabat sebagai Sekretaris Dewan DPRD Kabupaten Intan Jaya menuturkan buku setebal lebih dari 300 halaman yang dirampungkan 1 tahun lamanya  itu merupakan sejarah baru di Intan Jaya dan Papua pada umumnya. Sebab biasanya potret penyelenggaraan Pemilukada di Papua dan nasional menjadi pilkada identik dengan pertumpahan darah.

“Tahapan per tahapan dari proses pendaftaran hingga pencoblosan dan penghitungan suara, tak dicederai dengan pertumpahan darah ataupun gesekan antara massa kandidat dan para kandidat lainnya. Bagi kami ini adalah pilkada perdana yang berkualitas bagi kabupaten yang baru berdiri ini,” katanya kepada sejumlah wartawan di Kota Jayapura, Selasa (3/11).

Buku yang kata pengantarnya ditulis oleh Prof Jimly Asshiddiqie, Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu ini akan dilauncing dalam waktu dekat yang akan dihadiri langsung oleh Jimly Asshiddiqie, Natalis Pigay selaku komisioner Komnas HAM dan beberapa dosen dari Universitas Cenderawasih yang akan menjadi pembicara.

“Buku ini sengaja dibagikan kepada mahasiswa dan pemuda yang menuntut ilmu di Kota Jayapura, agar anak muda paham akan demokrasi tanpa harus ada bercak darah dan buku ini diharapkan dapat menjadi motivasi,” paparnya. 

Dirinya pun menjelaskan  kesulitan dalam penyusunan buku adalah banyaknya data yang diolah dalam penggarapannya. Data yang dimiliki oleh penulis, bukan hanya dari pandangan mata langsung dilapangan selama proses tahapan pilkada, namun juga dilakukan dari referensi pengambilan bahan lainnya seperti di intyernet dan perpustakaan.

“Sejumlah bahan lain dalam penulisan buku ini adalah penulisan dari teman-teman media juga,” kata Nenu yang juga telah merampungkan tiga buku lainnya yakni Sejarah Intan Jaya, Demokrasi Tanpa Bercak Darah, Freeport, antara Kapitalis Global dan Golongan serta buku yang sedang dalam proses penggarapan Setelah  25 tahun Otsus Papua.

Dirinya pun berharap, 11 kabupaten di Papua yang akan mengikuti pilkada serentak pada 9 Desember mendatang dapat mencontoh proses tahapan pilkada di Intan Jaya.  “Pilkada jangan dinodai dengan kekacauan dan konflik, tetapi harus kembali kepada penyelenggara pilkada yang harus berkoordinasi dengan pemerintah, masyarakat dan semua pihak ditempat itu,” pungkas Nenu. [PapuaKita]

Silahkan berkomentar
  • Blogger Berkomentar dengan Blogger
  • Facebook Berkomentar dengan Facebook
  • Disqus Berkomentar dengan Disqus

No comments :


Loading...