Tradisi dan Budaya

[tradisi][threecolumns]

Sosial dan Komunitas

[sosial][list]

Pariwisata dan Rekreasi

[pariwisata][threecolumns]

Ekonomi

[ekonomi][list]

Politik

[politik][twocolumns]

Olahraga

[olahraga][bleft]

Pendidikan

[pendidikan][list]

Kesehatan

[kesehatan][list]

Hiburan

[hiburan][threecolumns]

Lingkungan

[lingkungan][list]

Teknologi

[teknologi][list]

Administrasi Pemerintahan

[pemerintah][twocolumns]

Laporan Otonomi Baru

[pemekaran][list]

Laporan Otonomi Khusus

[otonomi khusus][list]

Hukum dan Kriminal

[hukum][threecolumns]

Kecelakaan

[kecelakaan][list]

Bencana Alam

[bencana][list]

Saturday, 18 March 2017

Inilah Enam Satwa Endemik Papua Paling Sering Diperdagangkan

loading...
TIMIKA (MIMIKA) - Ancaman penangkapan dan perdagangan satwa liar dilindungi masih sangat mengkhawatirkan. Terutama di wilayah Papua yang terkenal dengan berbagai satwa endemik dan eksotis.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Timika, Balai Besar KSDA Papua, Bambang H. Lakuy, mengungkap lima spesies prioritas Papua yang paling banyak diperdagangkan. Diantaranya Burung Cenderawasih, Kaka Tua Jambul Kuning, Kaka Tua Raja, Nuri, Kangguru Pohon dan Kura-kura Moncong Babi.

"Ini spesies yang menjadi primadona di Papua. Ini termasuk dalam 25 spesies prioritas yang harus dikawal," kata Bambang di Timika, Minggu (12/3/17).

Salah satu satwa yang berada di ambang kepunahan akibat perburuan liar adalah burung cenderwasih. Burung yang memiliki buluh indah dan perilaku mengagumkan ini banyak diburuh dan dijual dengan harga yang fantastis.

"Kalau kita lihat sejauh ini, memang spesies ini masih diperdagangkan. Makanya, jangan sampai punah," ujar Bambang.

Untuk itu, BBKSDA berupaya melakukan sosialisasi dan penyebaran informasi untuk melindungi kekayaan alam Papua ini. Semua pihak harus terlibat menekan perburuan liar dan penyelundupan ilegal.

"Ada begitu banyak kasus perburuan dan penyelundupan. Sudah banyak kami berhasil amankan kembali. Ini berkat kerjasama informasi dari masyarakat," kata dia.

Sementara itu, Bambang mengatakan kelestarian burung cenderawasih juga terancam akibat pemanfaatannya yang menyimpang. Bahkan burung sebagai lambang Papua ini dijadikan cindera mata dan dimanfaatkan sebagai hiasan para penari.

"Sebetulnya hanya org tertentu saja yang bisa pakai cenderawasih di kepala. Yaitu kepala suku dalam sebuah kegiatan adat. Tidak sembarang digunakan," tegasnya.

Menurut dia, pemanfaatan menyimpang satwa eksotis ini harus dihentikan. Sebab satwa liar ini sulit dikembangkan jika tidak secara alami pada ekosistemnya.

"Burung cenderawasih tidak seperti mengembangkan ayam potong di rumah. Dia harus secara alami," tukasnya.  (antara)

Silahkan berkomentar
  • Blogger Berkomentar dengan Blogger
  • Facebook Berkomentar dengan Facebook
  • Disqus Berkomentar dengan Disqus

No comments :


Loading...