Tradisi dan Budaya

[tradisi][threecolumns]

Sosial dan Komunitas

[sosial][list]

Pariwisata dan Rekreasi

[pariwisata][threecolumns]

Ekonomi

[ekonomi][list]

Politik

[politik][twocolumns]

Olahraga

[olahraga][bleft]

Pendidikan

[pendidikan][list]

Kesehatan

[kesehatan][list]

Hiburan

[hiburan][threecolumns]

Lingkungan

[lingkungan][list]

Teknologi

[teknologi][list]

Administrasi Pemerintahan

[pemerintah][twocolumns]

Laporan Otonomi Baru

[pemekaran][list]

Laporan Otonomi Khusus

[otonomi khusus][list]

Hukum dan Kriminal

[hukum][threecolumns]

Kecelakaan

[kecelakaan][list]

Bencana Alam

[bencana][list]

Monday, 3 April 2017

Istri Pekerja di Freeport Kebingungan dengan Istilah Furlough

loading...
TIMIKA (MIMIKA) – Upaya untuk membantu pekerja dengan mensosialisasikan program Furlough atau diistirahatkan sementara ke daerah asal pekerja yang terdengar positif di aula Cenderawasih Hotel Serayu Timika, Rabu (15/03), justru menimbulkan kesan membingungkan pekerja yang diwakili oleh kalangan isteri-isteri pekerja PT Freeport Indonesia.

Kesan kebingungan itu terlihat dalam sejumlah pertanyaan yang disampaikan peserta sosialisasi yang lebih banyak dihadiri isteri para pekerja Freeport Indonesia itu, terutama dalam hal, bagaimana soal kelanjutannya. Apakah nantinya setelah program Furlough ini diikuti, pekerja akan dipanggil kembali atau tidak. Termasuk ada isteri pekerja yang bertanya, bagaimana soal pajak-pajak yang selama ini juga dikenakan pada gaji suami mereka selaku pekerja.

“Apakah dalam menerima program Furlough yang menawarkan paket-paket penerimaan uang kompensasi itu. Kita masih akan dikenai pajak ataukah pajak ditanggung oleh perusahaan,” ujar salah satu isteri pekerja dalam sessi pertama sosialisasi Program Furlough itu.

Sementara isteri pekerja lainnya yang diketahui sebagai isteri dari Luther Kogoya, pekerja staff PT Freeport Indonesia juga menanyakan apakah program Furlough yang dilaksanakan ini memebrikan pembedaan kepada pekerja yang rajin bekerja atau tidak rajin.

“Masalahnya, jika ada suami-suami kami yang rajin dalam bekerja, apakah mereka juga harus dipaksakan untuk mengambil program Furlough ini,” tutur Isteri Luther Kogoya. 

Meskipun dari keterangan Mathilda Kosay, isteri dari Gabriel Kosay yang bekerja pada Bigosan di area Underground Devisi, pelaksanaan sosialisasi ini diakuinya memberikan nilai positif bagi dirinya dan semua isteri pekerja. Namun, saat ditanyai apakah dirinya akan mengusulkan kepada sang suami untuk memilih program Furlough ini, Mathilda Kosay justru diplomatif mengungkapkan kalau dirinya masih menghendaki suaminya masih bisa bekerja.

Situasi PT Freeport saat ini sudah menjadi rahasia umum, masih belum berproduksi dan proses untuk memutuskan hubungan kerja (PHK) terhadap sejumlah pekerjanya masih terus dilakukan. Termasuk dalam melakukan program merumahkan atau Furlough ini. Meskipun hingga kini, dari data yang diberikan oleh manajemen PT Freeport Indonesia, jumlah pekerja yang sudah diPHK dan dirumahkan mencapai jumlah 2300 pekerja..

“Sampai sejauh ini, data yang kami terima dari pihak manajemen sudah berjumlah 2300 pekerja yang di rumahkan dan di PHK. Meskipun PT Freeport sendiri baru sebatas menawarkan program Furlough ini,” ujar Senior manager Papuan Affairs Devisi PT Freeport Indonesia, Soleman Faluk usai sosialisasinya.

Bahkan dalam sesi sosialisasinya, Faluk sendiri yang memfasilitasi acara tersebut mengakui bahwa, dirinya bersama semua pekerja yang sampai saat ini masih bekerja pun berada dalam kondisi tidak menentu. Ungkapannya itu juga dipertegas oleh perwakilan Workplace Complaiance Industrial Relation Departement PT Freeport Indonesia, herman Rumboirussi.

“Sampai saat ini, kami yang ada ini juga tidak berada dalam posisi aman,” tutur Herman Rumboirussi.

Sosialisasi yang dilakukan cukup mendadak ini, direncanakan berlangsung tiga sessi. Pada hari ini, Rabu (15/03/20170 akan berlangsung dalam dua sessi di Aula Cenderawasih Hotel Serayu Timika. Sessi pertama pukul 10.00 sampai pukul 12.00 dan sessi kedua pada pukul 13.30 hingga selesai. Sedangkan sessi ketiga akan digelar pada, Jumaat (17/03/2017) di Multi Purpose Kuala Kencana.

Diharapkan program sosialisasi ini dapat diikuti oleh semua pekerja PT Freeport Indonesia, apakah secara langsung atau bersama para isterinya seperti yang sudah terjadi saat ini. Alasannya, setelah sessi ketiga pada hari Jumaat, maka baik Faluk maupun Rumboirussi mengakui, tak mengetahui bagaimana kelanjutan perkembangan situasi yang akan dialami para pekerja Freeport.

Sosialisasi sessi pertama diikuti hamper olehs ekitar 75 isteri pekerja dan pekerja PT Freeport dan pada sessi kedua diharapkan juga bisa melebihi kapasitas target di sessi pertama. Termasuk pada sessi ketiga, semua pekerja Freeport sudah secara proporsional memahami apa dan bagaimana program Furlough ini. (papualink.com)

Silahkan berkomentar
  • Blogger Berkomentar dengan Blogger
  • Facebook Berkomentar dengan Facebook
  • Disqus Berkomentar dengan Disqus

No comments :