Tradisi dan Budaya

[tradisi][threecolumns]

Sosial dan Komunitas

[sosial][list]

Pariwisata dan Rekreasi

[pariwisata][threecolumns]

Ekonomi

[ekonomi][list]

Politik

[politik][twocolumns]

Olahraga

[olahraga][bleft]

Pendidikan

[pendidikan][list]

Kesehatan

[kesehatan][list]

Hiburan

[hiburan][threecolumns]

Lingkungan

[lingkungan][list]

Teknologi

[teknologi][list]

Administrasi Pemerintahan

[pemerintah][twocolumns]

Laporan Otonomi Baru

[pemekaran][list]

Laporan Otonomi Khusus

[otonomi khusus][list]

Hukum dan Kriminal

[hukum][threecolumns]

Kecelakaan

[kecelakaan][list]

Bencana Alam

[bencana][list]

Thursday, 6 December 2018

Terkait Pembantaian di Nduga, DPRP Harap Jokowi Cari Solusi Perdamaian

loading...
Terkait Pembantaian di Nduga, DPRP Harap Jokowi Cari Solusi Perdamaian
JAYAPURA, LELEMUKU.COM - Anggota Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP) Laurenzus Kadepa menyatakan dukanya atas peristiwa penyerangan dan pembantaian terhadap sejumlah pekerja PT Istaka Karya pada Minggu (2/12) dilakukan saat mereka tengah membangun jembatan di Kali Yigi dan Kali Aurak, Distrik Yigi, Kabupaten Nduga

"Saya turut berduka yang paling dalam kepada 31 orang yang tewas di Nduga," ujar Kadepa melalui seluler pada Selasa (4/12) malam.

Dikatakan ini merupakan tindakan keji yang tidak manusiawi, sebab para pekerja itu merupakan sesama yang harus dihormati dan dihargai keberadaanya. Apalagi guna membantu pembangunan daerah.

"Sesuai informasi, mereka (31 orang) hanya pekerja kontraktor. dan dugaan sementara pelaku adalah kelompok sipil bersenjata. Saya ingin kasih tahu ya. Apa pun tujuannya, menghilangkan nyawa manusia adalah berdosa. Tetap berdosa. Apa lagi pembunuhan terhadap warga sipil," ujar dia.

Dikatakan, tindakan yang dilakukan oleh kelompok bersenjata ini harus ditelusuri kebenarannya, sehingga informasi yang pasti terkait peristiwa ini dapat diketahui bersama, termasuk para pelakunya.

"Saya belum tahu penyebab kelompok sipil bersenjata ini dengan segampang ini menghilangkan nyawa sebanyak 31 orang. Apa kah 31 orang ini bersenjata ??," tanya dia.

Kadepa berharap agar pihak manapun untuk tidak menggunakan Papua sebagai arena bertarung yang malah merugikan masyarakat Indonesia secara umum.

"Saya mau katakan kepada kelompok yang memilih jalan kekerasan (senjata) untuk mencapai suatu tujuan. Apakah untuk tujuan NKRI harga mati bagi (TNI Polri) maupun Papua Merdeka Harga Mati untuk (TPN- OPM). Tolong jangan korbankan rakyat sipil. Di tanah ini sudah banyak nyawa rakyat tak berdosa korban. Sayang sekali warga masyarakat Nduga yang terus menerus hidup dalam ketakutan trauma akibat kehadiran dua kelompok militer disana," ungkap dia.

Ia juga meminta agar Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai pemimpin yang kian fokus memperhatikan Tanah Papua agar selalu melihat sisi-sisi yang selama ini diabaikan, termasuk diantaranya pendekatan melalui solusi perdamaian.

"Demi kemanusiaan. Saya usul kepada Negara harus mencari solusi perdamaian jangka panjang. Sudah banyak rakyat sipil baik orang pendatang maupun orang asli Papua korban. Mohon dukungan doanya agar situasi kembali kondusif dan tidak ada masyarakat sipil yang jadi korban," harap dia.

Informasi terbaru yang dihimpun lelemuku.com, dari 31 orang yang dilaporkan dibunuh, sebanyak 15 orang yang diduga karyawan PT Istaka Jaya telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia setelah aparat gabungan TNI/Polri melakukan penyisiran diarea puncak Tabo Distrik Yigi Kabupaten Nduga, Rabu (5/12).

Pihak keamanan gabungan TNI/Polri berhasil mencapai lokasi pembantaian dan melakukan penyisiran di lokasi dan mendapati sebanyak 15 jenazah yang diduga dibantai oleh KKSB pada tanggal 2 Desember lalu dan mendapati seorang korban bernama Johny Arung yang ditemukan dalam kondisi lemas saat berada didalam pos Mbua.

Secara keseluruhan korban yang telah dievakuasi selama dua hari sudah berjumlah 28 orang. Diantaranya,13 korban telah dievakuasi dalam kondisi selamat lada Selasa (4/12) kemarin dan 15 orang telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia  dalam penyisiran yang dilakukan oleh arapat keamanan TNI/Polri. (Albert Batlayeri)

Silahkan berkomentar
  • Blogger Berkomentar dengan Blogger
  • Facebook Berkomentar dengan Facebook
  • Disqus Berkomentar dengan Disqus

No comments :


Loading...