Tradisi dan Budaya

[tradisi][threecolumns]

Sosial dan Komunitas

[sosial][list]

Pariwisata dan Rekreasi

[pariwisata][threecolumns]

Ekonomi

[ekonomi][list]

Politik

[politik][twocolumns]

Olahraga

[olahraga][bleft]

Pendidikan

[pendidikan][list]

Kesehatan

[kesehatan][list]

Hiburan

[hiburan][threecolumns]

Lingkungan

[lingkungan][list]

Teknologi

[teknologi][list]

Administrasi Pemerintahan

[pemerintah][twocolumns]

Laporan Otonomi Baru

[pemekaran][list]

Laporan Otonomi Khusus

[otonomi khusus][list]

Hukum dan Kriminal

[hukum][threecolumns]

Kecelakaan

[kecelakaan][list]

Bencana Alam

[bencana][list]

Monday, 16 November 2015

Surya Paloh Dukung Pengusutan Pencatutan Nama Jokowi-JK ke KPK

JAKARTA - Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Nasdem Surya Paloh mendorong agar tokoh politik yang mencatut nama Presiden RI Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla ke PT Freeport diusut tuntas. Menurut Paloh, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) juga perlu menyelidiki penuturan Sudirman.

"Usut tuntas (pencatut nama Presiden dan Wapres ke Freeport) dan Nasdem akan dukung sepenuhnya. Saya pikir KPK harus masuk itu," kata Paloh di Kantor DPP Partai Nasdem, Jakarta, Rabu (11/11).

Paloh yakin Menteri ESDM Sudirman Said memiliki bukti kuat soal tokoh politik yang mencatut nama Presiden. Ia menilai, masalah ini akan menjadi polemik yang liar jika tidak diusut tuntas.

"Ini kalau tidak terungkap nanti dikira ada yang main mata. Kalau tidak ada yang proaktif, kita yang proaktif," ungkapnya.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said sebelumnya menyebutkan ada tokoh politik yang sangat berkuasa mencoba menjual nama Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) kepada Freeport. Dengan mencatut nama Presiden dan Wapres, politisi itu menjanjikan ke Freeport agar kontrak bisa segera diberikan.

"Seolah-olah Presiden minta saham. Wapres juga dijual namanya. Saya sudah laporkan kepada keduanya. Beliau-beliau marah karena tak mungkin mereka melakukan itu," ujar Sudirman Said seperti dikutip dalam acara Satu Meja yang ditayangkan Kompas TV dan dikutip Kompas, Selasa (10/11).

Namun, dia mengaku tak bisa menyebut siapa politisi yang coba menjual nama dua pimpinan tertinggi republik itu. Hanya, Sudirman mengatakan bahwa orang itu cukup terkenal. JK, tutur dia, tahu persis siapa orang yang coba menyeret-nyeret nama dua petinggi republik tersebut.

"Keduanya (Presiden dan Wapres) sangat marah. Pak Jokowi mengatakan, 'ora sudi'. Ora sudi kan ungkapan Jawa yang sangat dalam. Begitu pun Wakil Presiden. 'Ini orang kurang ajar dan saya tahu orang itu siapa,' kata Wapres. Jadi, Wapres sudah menduga," ujarnya.

Sudirman mengaku mengetahui semua tindakan licik tokoh-tokoh politik di balik percobaan perpanjangan kontrak Freeport. Sebab, Freeport menceritakan secara rinci permintaan tokoh-tokoh politik tersebut.[Kompas]
Silahkan berkomentar
  • Blogger Berkomentar dengan Blogger
  • Facebook Berkomentar dengan Facebook
  • Disqus Berkomentar dengan Disqus

No comments :