Tradisi dan Budaya

[tradisi][threecolumns]

Sosial dan Komunitas

[sosial][list]

Pariwisata dan Rekreasi

[pariwisata][threecolumns]

Ekonomi

[ekonomi][list]

Politik

[politik][twocolumns]

Olahraga

[olahraga][bleft]

Pendidikan

[pendidikan][list]

Kesehatan

[kesehatan][list]

Hiburan

[hiburan][threecolumns]

Lingkungan

[lingkungan][list]

Teknologi

[teknologi][list]

Administrasi Pemerintahan

[pemerintah][twocolumns]

Laporan Otonomi Baru

[pemekaran][list]

Laporan Otonomi Khusus

[otonomi khusus][list]

Hukum dan Kriminal

[hukum][threecolumns]

Kecelakaan

[kecelakaan][list]

Bencana Alam

[bencana][list]

Saturday, 1 April 2017

YP2KP Nilai Kebiasaan Membawa Anak Mencari Nafkah Pengaruhi Tingkat Literasi

loading...
TIMIKA (MIMIKA) - Kebiasaan warga pesisir Kabupaten Mimika, Provinsi Papua, yang mencari nafkah dengan membawa serta anak-anak pergi mencari sagu atau kepiting selama berhari-hari atau berminggu-minggu sangat mempengaruhi tingkat literasi, khususnya siswa SD di kelas awal.

Program Manager Literasi Yayasan Pembangunan Pendidikan dan Kesehatan Papua (YP2KP), Angga Trio Wahana di Timika, Jumat, mengatakan hal tersebut disimpulkan berdasarkan evaluasi program literasi di 20 sekolah yang ada di pesisir dan pinggiran Kota Timika selama dua tahun terakhir.

"Selain itu ada beberapa faktor lain yang mempengaruhi yaitu tingkat kehadiran guru di sekolah dan kurangya tenaga guru di sekolah-sekolah. Kadang guru itu baru mengajar pada bulan kedua atau ketiga pascalibur panjang dan ini juga menjadi soal," tuturnya.

Namun menurut Angga faktor yang paling berpengaruh yaitu tingkat partisipasi orang tua dalam mendukung pendidikan anak-anak mereka.

"Anak-anak sekolah ini juga dibawa orang tua, apa yang sudah diajarkan pasti mereka lupa setelah berminggu-minggu tidak pernah masuk sekolah dan kita mulai lagi dari nol," ujarnya.

Angga mengakui jika hal yang sudah menjadi kebiasaan masyarakat pesisir yang mayoritasnya adalah suku Kamoro sulit untuk diubah dan membutuhkan waktu serta proses yang panjang menyadarkan orang tua akan pentingnya pendidikan.

"Kadang kita mita orang tua tidak bawa anak-anak ke dusun sagu tetapi mereka balik mebertanya kalau anak-anak ini ditinggalkan apakah guru-guru yang berikan mereka makan?" ujarnya.

Untuk mengatasi peroslan ini, Angga berharap agar pemkab Mimika dapat mencari solusi terkait model pendidikan di wilayah pesisir seperti membangun asrama atau model lain yang sesuai.

Ia mengakui jika persoalan dasar tersebut telah disampaikan kepada Dispendasbud Mimika untuk ditindaklanjuti bersama lantaran telah ditemukan kasus pada tes penerimaan siswa SMP di Timika didapati anak-anak yang tidak dapat membaca dan menulis dengan baik.

YP2KP merupakan yayasan yang bekerja sama dengan Unicef, Pemerintah Austalia dan Dinas Pendidikan Dasar dan Kebudayaan Mimika untuk menjalankan program peningkatan kemampuan literasi kelas awal (1-3 SD) khususnya baca dan tulis di 20 SD sasaran wilayah pesisir dan pinggir kota.

Sebanyak 20 sekolah yang menjadi sasaran program literasi ini terdiri dari 11 sekolah yayasan dan sembilan sekolah inpres dan negeri yang tersebar di wilayah pesisir pantai Mimika dan pinggiran kota. (antara)

Silahkan berkomentar
  • Blogger Berkomentar dengan Blogger
  • Facebook Berkomentar dengan Facebook
  • Disqus Berkomentar dengan Disqus

No comments :


Loading...