Tradisi dan Budaya

[tradisi][threecolumns]

Sosial dan Komunitas

[sosial][list]

Pariwisata dan Rekreasi

[pariwisata][threecolumns]

Ekonomi

[ekonomi][list]

Politik

[politik][twocolumns]

Olahraga

[olahraga][bleft]

Pendidikan

[pendidikan][list]

Kesehatan

[kesehatan][list]

Hiburan

[hiburan][threecolumns]

Lingkungan

[lingkungan][list]

Teknologi

[teknologi][list]

Administrasi Pemerintahan

[pemerintah][twocolumns]

Laporan Otonomi Baru

[pemekaran][list]

Laporan Otonomi Khusus

[otonomi khusus][list]

Hukum dan Kriminal

[hukum][threecolumns]

Kecelakaan

[kecelakaan][list]

Bencana Alam

[bencana][list]

Saturday, 31 August 2013

Masyarakat Tubang Diminta Berhenti Makan Daging Manusia

WAMBI (MERAUKE) - Bupati Merauke, Drs. Romanus Mbaraka, MT menegaskan, saat ke Distrik Tubang beberapa tahun silam, dirinya mengumpulkan masyarakat dari Kampung Woboyu, Dodalim, Woelbuti, Yowit, Dokip serta Wamal dan mengultimatum agar tidak boleh  ada  yang mengkonsumsi  daging manusia lagi.

Hal itu disampaikan Bupati Mbaraka ketika melakukan dialog bersama masyarakat di Kampung Wambi, Distrik Okaba, Rabu (28/08/2013). Menurutnya, ketika masyarakat dari beberapa kampung tersebut di Distrik Tubang datang, langsung diultimatum agar tak boleh mengkonsumsi daging manusia. Juga berhenti membocorkan kuburan orang, sekaligus menghisap minyak manusia. “Saya berkomitmen saat  itu untuk membuka  keterisolasian di kampung-kampung di Distrik Tubang terutama infrastruktur jalan maupun jembatan,” ungkap Bupati Mbaraka.

Bupati Mbaraka menegaskan, begitu juga saat pulang dari kegiatan turun kampung (Turkam) di distrik tersebut, menyampaikan kepada Uskup Agung Merauke, Mgr. Nicolaus Adi Seputra agar segera menempatkan pastor disana, sehingga orang bisa berhenti makan manusia. “Saat itu, Uskup katakan, tenaga pastor kurang dan langsung saya sampaikan bahwa dalam dua tahun kedepan, jalan akan dibangun agar dapat dijangkau,” katanya.

“Sekali lagi saya ingatkan juga agar stop dengan suanggi orang. Saya pernah berceritra pengalaman  kepada masyarakat saat Turkam bahwa, ketika orang Jawa akan membuka warung makan, yang dicari adalah pelayan dengan paras cantik. Setelah didandani dengan baik, maka akan melayani setiap tamu yang hendak makan. Dengan cara demikian, orang akan berdatangan terus disitu. Karena ada ketertarikan tersendiri. Nah, kalau orang Marind pakai cara seperti itu, tentunya usaha yang dijalankan, akan mengalami kemajuan sangat pesat,” tandasnya.

“Sampai sekarang, saya tidak pernah melihat orang Marind menggunakan cara seperti demikian. Tetapi pakai cara yang lain untuk membuat orang meninggal.  Cara-cara seperti demikian, tidak boleh dilakukan lagi. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Merauke telah berkomitmen  untuk memberikan perhatian terhadap masyarakat di kampung-kampung terutama dalam bidang perbaikan infrastruktur seperti jalan maupun jembatan serta pemberdayaan ekonomi kerakyatan,” katanya.

Ditambahkan, daerah-daerah seperti Distrik Tubang yang dahulunya sangat terisolir, kini sudah mulai terbuka. “Kalian semua juga sudah melihat dan merasakan secara langsung keadaan di Kampung Wambi, Distrik Okaba sekarang. Dulunya daerah ini sangat terisolir dan seperti tak ada penghuni. Namun sekarang, kendaraan sudah bisa masuk baik roda dua maupun empat, termasuk Damri,” tuturnya. [PapuaPos]
Silahkan berkomentar
  • Blogger Berkomentar dengan Blogger
  • Facebook Berkomentar dengan Facebook
  • Disqus Berkomentar dengan Disqus

No comments :