Tradisi dan Budaya

[tradisi][threecolumns]

Sosial dan Komunitas

[sosial][list]

Pariwisata dan Rekreasi

[pariwisata][threecolumns]

Ekonomi

[ekonomi][list]

Politik

[politik][twocolumns]

Olahraga

[olahraga][bleft]

Pendidikan

[pendidikan][list]

Kesehatan

[kesehatan][list]

Hiburan

[hiburan][threecolumns]

Lingkungan

[lingkungan][list]

Teknologi

[teknologi][list]

Administrasi Pemerintahan

[pemerintah][twocolumns]

Laporan Otonomi Baru

[pemekaran][list]

Laporan Otonomi Khusus

[otonomi khusus][list]

Hukum dan Kriminal

[hukum][threecolumns]

Kecelakaan

[kecelakaan][list]

Bencana Alam

[bencana][list]

Thursday, 8 August 2013

Pendatang Rebut Pasar, Pedagang Asli Papua Semakin Tersingkir dari Persaingan Ekonomi

KOTA JAYAPURA – Pedagang asli Papua dikuatirkan akan tersingkirkan dari persaingan ekonomi global akibat kedatangan para imigran yang ‘merebut’ pasar dengan mengambil alih praktek jual-beli sederhana yang sudah lama dilakukan mama-mama pedagang asli.

“Jika hal ini tidak diatur secara baik, maka 10 tahun lagi mama-mama akan tersingkir dari persaingan ekonomi. Banyak mall, ruko (rumah toko), agro, hypermarket dan swalayan yang sudah menjual barang- barang yang dijual oleh mama-mama serta maraknya gerobak motor yang sudah mengangkut barang-barang jualan hingga ke gang-gang,” kata aktivis Solidaritas Pedagang Asli Papua (SOLPAP) Robert Jitmau kepada tabloidjubi.com di Jayapura, Papua, Selasa (06/08/2013).

Karena itu, dia meminta dukungan Majelis Rakyat Papua (MRP) agar dapat berperan aktif untuk mengawal pembangunan pasar mama-mama, serta ingin mengadu ke MRP akan nasib mama-mama yang diusir di Jalan Irian.

Robert mengatakan, mengingat pentingnya pasar itu, sebagai langkah nyata pembangunan ekonomi untuk mandiri, sedinya pemerintah menanggapinya secepat mungkin. Karena itu, pihaknya, kepada gubernur Papua, Lukas Enembe, sudah mengirim surat bulan kemarin (29/07/2013) untuk menjelaskan faktor penyebab tidak dibangunnya pasar permanen bagi mama-mama pedagang asli di Jalan Percetakan Negara, Kota Jayapura.

SOLPAP juga meminta audit oleh BPK soal alokasi anggaran pembangunan pasar mama-mama yang dilakukan sejak tahun 2009, serta meminta tim pembangunan pasar agar memasukan unsur- unsur dari SOLPAP seperti, perwakilan gereja, LSM, mahasiswa dan pers (Aliansi Jurnalis Independen)

Dalam surat SOLPAP kepada gubernur bernomor 09/SOLPAP/07/2013, mereka juga meminta Perdasus (peraturan daerah khusus) perlindungan mama-mama dan komoditas yang dijualnya dan pembentukan tim pembangunan pasar yang dimaksud. [TabloidJubi]
Silahkan berkomentar
  • Blogger Berkomentar dengan Blogger
  • Facebook Berkomentar dengan Facebook
  • Disqus Berkomentar dengan Disqus

No comments :