Tradisi dan Budaya

[tradisi][threecolumns]

Sosial dan Komunitas

[sosial][list]

Pariwisata dan Rekreasi

[pariwisata][threecolumns]

Ekonomi

[ekonomi][list]

Politik

[politik][twocolumns]

Olahraga

[olahraga][bleft]

Pendidikan

[pendidikan][list]

Kesehatan

[kesehatan][list]

Hiburan

[hiburan][threecolumns]

Lingkungan

[lingkungan][list]

Teknologi

[teknologi][list]

Administrasi Pemerintahan

[pemerintah][twocolumns]

Laporan Otonomi Baru

[pemekaran][list]

Laporan Otonomi Khusus

[otonomi khusus][list]

Hukum dan Kriminal

[hukum][threecolumns]

Kecelakaan

[kecelakaan][list]

Bencana Alam

[bencana][list]

Tuesday, 17 February 2015

Lapter Perintis Jadi Jalur Penyeludupan Benda-Benda Budaya ke Luar Negeri

KOTA JAYAPURA - Lapangan terbang (lapter) perintis di pedalaman Papua diduga rawan terhadap penyulundupan benda-benda budaya oleh oknum yang tidak bertanggungjawab ke luar negeri

"Lapangan terbang perintis yang rawan penyelundupan benda budaya Papua antara lain lapangan terbang Kapeso, Dabra dan Kasonaweja di Kabupaten Mamberamo Raya serta Kobakma, dan Kelila di Kabupaten Mamberamo Tengah," kata staf peneliti dari Balai Arkeologi Jayapura Suroto di Kota Jayapura, Papua, Senin.

Selain itu, kata Suroto, lapter yang diduga menjadi tempat yang rawan dilakukan penyelundupan adalah lapter Mararena di Kabupaten Sarmi, Bokondini, Apalapsili, dan Oksibil di Kabupaten Pegunungan Bintang.

Lalua, lapter Illaga, Sinak, Tiom dan Ilu di Kabupaten Puncak, Yuruf di Kabupaten Jayawijaya dan Asmat di Kabupaten Asmat.

"Lapangan terbang ini hanya bisa didarati pesawat terbang propeler tipe Twin Otter dan helikopter. Lapangan terbang perintis ini tidak dilengkapi dengan peralatan detektor X-ray," katanya.

Suroto mengemukakan, benda budaya asal Papua memiliki nilai jual tinggi di luar negeri terutama para kolektor benda budaya yang ingin mengoleksi benda-benda budaya.

"Tiga bulan yang lalu tengkorak asal Asmat dilelang di Australia. Bahkan tengkorak manusia di gua-gua Raja Ampat hilang, yang diduga diambil oleh wisatawan asing," katanya.

Sedangkan, artefak kapak batu asal Sentani, Kabupaten Jayapura diperjual belikan di Jerman. "Benda-benda budaya Papua ini bisa lolos ke luar negeri, dari pedalaman Papua diduga dibawa melalui jalur penerbangan perintis, kemudian dilanjutkan jalan darat atau jalur laut ke Papua Nugini," katanya.

Untuk itu, lanjut Suroto, perlu dilakukan pencegahan dengan pengawasan dan pemeriksaan ketat oleh instansi terkait seperti Bea Cukai di wilayah perbatasan dengan Papua Nugini.

"Selain itu perlu sosialisasi Undang-undang nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya ke masyarakat pemilik budaya, agar tidak menjual artefak Papua ke pihak asing," katanya.  [Antara]
Silahkan berkomentar
  • Blogger Berkomentar dengan Blogger
  • Facebook Berkomentar dengan Facebook
  • Disqus Berkomentar dengan Disqus

No comments :