Tradisi dan Budaya

[tradisi][threecolumns]

Sosial dan Komunitas

[sosial][list]

Pariwisata dan Rekreasi

[pariwisata][threecolumns]

Ekonomi

[ekonomi][list]

Politik

[politik][twocolumns]

Olahraga

[olahraga][bleft]

Pendidikan

[pendidikan][list]

Kesehatan

[kesehatan][list]

Hiburan

[hiburan][threecolumns]

Lingkungan

[lingkungan][list]

Teknologi

[teknologi][list]

Administrasi Pemerintahan

[pemerintah][twocolumns]

Laporan Otonomi Baru

[pemekaran][list]

Laporan Otonomi Khusus

[otonomi khusus][list]

Hukum dan Kriminal

[hukum][threecolumns]

Kecelakaan

[kecelakaan][list]

Bencana Alam

[bencana][list]

Thursday, 26 February 2015

Papua Nugini Nomor 1 Pencari Kata Kunci 'Porno' dan 'Pornografi'

SYDNEY (AUSTRALIA) - Papua Nugini merupakan negara yang paling terobsesi dengan pornografi di dunia maya. Seperti dipublikasikan Google Trends pada Senin lalu, negara yang memiliki populasi kurang dari 8 juta orang dan tingkat rendah penggunaan internet ini ternyata memiliki persentase terbesar dari pencarian untuk kata "porno" dan "pornografi" dibandingkan dengan total pencarian dari negara-negara lain.

Dari rilis tersebut, 8 dari 10 negara dalam daftar hitam itu merupakan negara berkembang yang berada di Afrika, yakni Zimbabwe (2), Kenya (3), Botswana (4), Zambia (5), Ethiopia (6), Malawi (7), Uganda (8) dan Nigeria (10). Sedangkan 2 negara lainnya merupakan Papua Nugini (1) dan Fiji (9).

"Para pelakunya rata-rata adalah laki-laki muda. Mereka sangat gampang menemukan hal-hal porno. Ada di laptop dan ponsel mereka. Mereka sering melihatnya di kamar, juga saat mereka berdiri di jalan-jalan dan menontonnya - Saya sendiri telah melihat mereka melakukannya," kata Thelma Kavanamur, petugas komunikasi dengan organisasi pemuda The Voice Inc.

Menurutnya, dalam beberapa tahun terakhir, ponsel pintar telah memungkinkan PNG untuk lompat pada teknologi komputer dan menghubungkan masyarakat yang sebelumnya terisolasi, dengan dunia baru termasuk gambar-gambar porno yang semakin berkembang.

"Internet telah memfasilitasi batas ruang dan waktu," kata Dr Michael Flood, seorang dosen senior di Sosiologi di University of Wollongong yang telah menerbitkan makalah tentang pornografi.

"Saat ini, sangat mungkin untuk sebagian orang yang berada dibagian manapun didunia dapat terkoneksi internet. Guna melihat sendiri berbagai bentuk materi pornografi. Dan itu terlepas dari hukum atau peraturan rezim di negara mereka sendiri," tuturnya.

Meskipun tidak ada penelitian akademis yang berfokus pada kebiasaan internet porno PNG, situasi di bagian lain dunia menunjukkan nilai-nilai Kristen konservatif mungkin benar-benar akan mendorong keinginan untuk pornografi.

"Misalnya di Amerika Serikat, Utah, yang merupakan negara yang sangat konservatif, adalah nomor satu negara untuk meminta pornografi," kata Dr Milton Diamond, profesor emeritus di University of Hawaii Pacific Centre for Sex and Society.

Pornografi dan kekerasan seksual

PNG memiliki beberapa tingkat tertinggi kekerasan seksual dan domestik di dunia. Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah The Lancet menemukan bahwa 59 persen dari pria PNG telah melakukan kekerasan seksual kepada pasangannya dan 41 persen dari mereka telah melakukan kekerasan seksual kepada wanita yang bukan pasangan mereka. Tetapi hubungan antara pornografi dan kekerasan seksual tetap hangat diperdebatkan oleh para peneliti.

"Saya tidak terlalu melihat adanya kaitan antara pornografi dan kekerasan seksual, saya pikir ada penyebab lain untuk kekerasan dan agresi ini," kata Dr Diamond dengan melanjut, "Kebanyakan pornografi tidak memiliki agresi - ya , mungkin sekarang ada film 'Fifty Shades of Grey' atau apa pun itu... tapi kebanyakan website bentuk lama dari seks."

Dilain sisi Dr Flood berpikir bahwa ada kaitan antara porno dan kekerasan seksual.

"Ada bukti nyata bahwa  pornografi, khususnya yang berisi kekerasan tertentu dapat dikaitkan dengan niat untuk melakukan kekerasan seksual dan pemerkosaan," katanya dengan menyambung, "Bukan hanya itu saja, tetapi pornografi juga terkait dengan peningkatan partisipasi dalam kekerasan seksual, termasuk peningkatan perbuatan."

Meski demikian, Dr Flood menyatakan bahwa pornografi juga bukan satu-satunya penyebab terjadinya kekerasan seksual, terutama di negara seperti PNG. Sebab menurutnya ketidaksetaraan gender yang lebih luas, sikap budaya terhadap seks dan tingkat kekerasan secara keseluruhan yang memberikan kontribusi nyata dari kekerasan itu.

"PNG adalah sebua negara dengan tingkatan tertinggi untuk semua bentuk kekerasan, terutama kekerasan antar-pribadi. Sehingga kemungkinan untuk melihat tingginya tingkat kekerasan terhadap perempuan akan ada. Lalu ketika kita menggunakan pornografi untuk masuk ke dalam itu semua, saya pikir itu cenderung meningkat atau bentuk bentuk-bentuk kekerasan seksual dengan berbagai cara, namun pornografi itu sendiri bukan satu-satunya penentu tingkat kekerasan seksual."

Menanggapi hal ini Pemerintah PNG berencana untuk memperkenalkan filter internet untuk menyaring dan memblokir situs-situs porno.

"Kami tidak mencoba untuk mengendalikan media komunikasi namun kami mencoba untuk menyaring sampah yang disediakan secara online gratis yang merusak pola pikir anak-anak muda Papua Nugini," ujar kepala Badan Sensor PNG, Steven Mala kepada media.

Mala mengatakan bahwa penyaring internet ini akan memakan biaya sekitar USD 2 juta, namun dikatakan bahwa pihaknya belum mengetahui kapan kepastian penerapan sistem penyaringan ini. Sebab bulan ini, Badan Sensor PNG baru saja melarang peredaran film Fifty Shades of Grey yang rencananya akan diputar di Bioskok di Port Moresby.

Sebuah kampanye online juga diluncurkan guna melarang peredaran film tersebut dengan judul, "Lima puluh Kina, Bukan 50 Shades" telah mendorong orang untuk menyumbangkan uang mereka yang berencana akan digunakan untuk melihat film untuk membantu korban kekerasan dalam rumah tangga sebagai gantinya.

"Saya benar-benar sedih melihat bahwa ada sebuah film yang memuja-muja dan menyarankan atau merasa nyaman dengan sebuah hubungan seksual yang keras seperti ini," kata koordinator kampanye, Kari Taviri denan melanjut, "Ini adalah bukti nyata, bukannya sesuatu yang hanya kita baca melalui statistik dan angka. Dan di Papua Nugini, inilah kenyataannya kita sehari-hari." [RadioAustralia]
Silahkan berkomentar
  • Blogger Berkomentar dengan Blogger
  • Facebook Berkomentar dengan Facebook
  • Disqus Berkomentar dengan Disqus

No comments :