Tradisi dan Budaya

[tradisi][threecolumns]

Sosial dan Komunitas

[sosial][list]

Pariwisata dan Rekreasi

[pariwisata][threecolumns]

Ekonomi

[ekonomi][list]

Politik

[politik][twocolumns]

Olahraga

[olahraga][bleft]

Pendidikan

[pendidikan][list]

Kesehatan

[kesehatan][list]

Hiburan

[hiburan][threecolumns]

Lingkungan

[lingkungan][list]

Teknologi

[teknologi][list]

Administrasi Pemerintahan

[pemerintah][twocolumns]

Laporan Otonomi Baru

[pemekaran][list]

Laporan Otonomi Khusus

[otonomi khusus][list]

Hukum dan Kriminal

[hukum][threecolumns]

Kecelakaan

[kecelakaan][list]

Bencana Alam

[bencana][list]

Sunday, 7 June 2015

Dansa Tumbuk Tanah, Tarian dari Suku Arfak yang Kian Terkenal

MANOKWARI - Dansa Tumbuk Tanah ini sangat terkenal di Manokwari dan seluruh wilayah Kepala Burung di Provinsi Papua Barat. Tarian ini menarik dan unik karena gerakannya meniru gerakan ular yang meliuk-liuk di atas tanah. Tarian ini juga dikenal dengan istilah tari ular, karena bagi mereka ular merupakan simbol dan kebesaran mereka.

Hal ini disebabkan gerak dan tari serta gerakan dalam dansa tumbutana menyerupai liukan ular mengikuti irama lagu yang dinyanyikan para penari. Tarian tumbu tana ini hanpir menyebar di seluruh wilayah Kepala Burung, Papua. Terutama Suku besar Arfak di Manokwari (Mnu Kwar), terdiri dari beberapa sub suku Hattam, Meyakh, Sough dan Moile(Moskona). Ada juga beberapa rumpun suku antara lain Karon, Saukorem sampai ke Ayamaru, Aitinyo dan Aifat di Kabupaten Maybrat dan Sorong Selatan. Umumnya suku-suku ini mengenal tarian tumbutana hanya saja versi dan cara yang berbeda sesuai dengan karakter dari masing-masing suku di Kepala Burung Tanah Papua.

Orang Hattam menyebut dansa tumbutana dengan bahasa setempat “Ibihim”, bagi orang Meyakh, “Muuka” sedangkan orang Sough menyebit “Lenyohora”. Bagi mereka tarian ini biasanya digelar saat menyambut tamu, perkawinan, kemenangan perang dan lain-lain.

Dansa tumbutana merupakan tarian kesukuan yang dibawakan secara massal yang tidak terbatas pada jumlah peserta tari. Tarian ini sifatnya spontan bisa melibatkan warga satu kampung atau pun gabungan kampung-kampung. Artinya tarian ini bisa dikuti secara berkelompok oleh semua lapisan masyarakat tua dan muda berbaur dalam dansa tumbu tana.

Walau demikian dalam mementaskan dansa tumbu tana dibatasi pula menurut usia, dari anak-anak, remaja, pemuda dan dewasa hingga orang tua. Dalam penyambutan tamu anak-anak bisa ikut menari dansa tumbu tana. Jika dansa tumbutana dipperuntukan bagi ajang pencarian pasangan atau cari jodoh anak-anak dilarang ikut menari.

Idealnya tari ini dibawakan secara berpasangan laki-laki dan perempuan, bergandengan tangan, sambil menghimpit,melompat dan menghentakan kaki di atas tanah seperti menumbuk tanah sambil bernyanyi. Sambil bernyani para penari bergerak dalam formasi berbentuk ular mengikuti irama lagu dengan gerakan monoton (satu).

Berbeda dengan tarian Yosim Pancar atau lemon nipis di Kabupaten Sarmi dan Teluk Cenderawasih, tarian tumbu tana dinyanyikan tanpa alat musik seperti gitar, tifa dan jukulele ,gitar dan stendbass. Menari hanya diiringi dengan suara nyanyian syair lagu yang dilantunkan secara kanon atau pun bersahut sahutan. Nanyian dan syair lagu berdasarkan kepahlawanan, romantisme dan simbol keberhasilan masyarakat semua dilantunkan dalam nyanyian dan syair.

Dansa tumbutana, biasanya ditarikan berpasangan pria dan wanita, bergandengan tangan, saling menghimpit, melompat dan menghentakan kaki ke tanah sambil bernyanyi.
Lagu yang didendangkan dalam dansa tumbutana bervariasi dan dinyanyikan secara kanon atau berbalasan antara pria dan wanita. Ada juga bersama-sama menyanyikan lagu secara kompak dengan salah seorang derigen atau pemimpin di depan.

Lagu-lagu dalam tarian disesuaikan dengan kondisi dalam mementaskan dansa tumbutana, kalau ajang pernikahan. Jelas syair lagu mengisahkan tentang rumah tangga, keluarga, masehat dalam perkawinan dan penarinya harus orang dewasa atau yang sudah menikah.

Kalau tentang perang, maka syair lagunya mengisahkan keperkasaaan dan kepahlawan para pemberani. Biasanya yang menari hanya laki-laki dewasa yang pernah ikut perang atau pemuda calon pemimpin perang.

Misalnya syair lagu Mereng Oga Tenteni, menceritakan tentang kemenangan perang masa lalu. Begitupula lagu Jiga Oga Tenteni artinya bersama maju berperang. Masih banyak lagu-lagu berkisah tentang pembayaran denda perang, dan juga bersama sama menyambut perdamaian.

Kini tarian tumbu tana lebih populer sebagai tarian persahabatan yang melibatkan semua etnis, suku dan budaya termasuk anak-anak dan orang tua. Mungkin tarian ini lebih mirip dengan tarian pergaulan Uosim Pancar dan lemon nipis di Tanah Papua. [Jubi]
Silahkan berkomentar
  • Blogger Berkomentar dengan Blogger
  • Facebook Berkomentar dengan Facebook
  • Disqus Berkomentar dengan Disqus

No comments :