Tradisi dan Budaya

[tradisi][threecolumns]

Sosial dan Komunitas

[sosial][list]

Pariwisata dan Rekreasi

[pariwisata][threecolumns]

Ekonomi

[ekonomi][list]

Politik

[politik][twocolumns]

Olahraga

[olahraga][bleft]

Pendidikan

[pendidikan][list]

Kesehatan

[kesehatan][list]

Hiburan

[hiburan][threecolumns]

Lingkungan

[lingkungan][list]

Teknologi

[teknologi][list]

Administrasi Pemerintahan

[pemerintah][twocolumns]

Laporan Otonomi Baru

[pemekaran][list]

Laporan Otonomi Khusus

[otonomi khusus][list]

Hukum dan Kriminal

[hukum][threecolumns]

Kecelakaan

[kecelakaan][list]

Bencana Alam

[bencana][list]

Tuesday, 30 June 2015

Kabupaten Dogiyai Miliki Rute Penerbangan Terpendek Kedua di Dunia

KOTA JAYAPURA - Mungkin banyak petualang dan penjelajah yang belum tahu, kalau salah satu rute penerbangan pesawat paling pendek di dunia ternyata juga ada di Indonesia, tepatnya di Papua.

Meski hingga saat ini, rekor penerbangan terpendek di dunia masih dipegang oleh maskapai Longanair yang terbang dari Westray ke Papa Westray di Provinsi Orkney, Skotlandia. Waktu tempuhnya hanya 47 detik saja. Namun rupanya, salah satu rute penerbangan terpendek di dunia juga terdapat di Provinsi Papua.

Rute tersebut ada pada penerbangan dari Kampung Kegata ke Kampung Apowo, Distrik Sukikai, Kabupaten Dogiyai yang ditempuh hanya dengan 73 detik.

Seperti yang tertulis pada situs web yang membahas rating pesawat dan penerbangan, Airlineratings.com pada Senin (29/6), adalah maskapai Pilatus Porter yang melayani rute kedua kampung tersebut. Meski berjarak 1,85 km saja.  2 Kampung itu terpisah dengan sebuah lembah yang curam dan hutan yang lebat menyulitkan masyarakat setempat untuk menempuh jalur darat.

Menariknya lagi, rute penerbangan di Pegunungan Weyland itu ternyata sudah jauh hari diceritakan oleh seorang pilot. Namanya Matt Dearden, yang ternyata merupakan pilot pada pesawat Pilatus Porter.

Dari penelusuran di blog pribadinya, Bush Flying Diaries, Matt pada November 2013 telah mengupload video penerbangannya dengan kamera GoPro HD and Canon S110. Dia memperlihatkan, bagaimana bentangan alam di sana dan suasana di dalam pesawat yang hanya bisa menampung sekitar 6 orang saja.

"Kagata dan Apowo dipisahkan oleh lembah yang dalam dan perjalanannya sungguh sulit. Maka, Pilatus Porter datang untuk melayani," tulisnya

Usut punya usut, Matt sudah berada di Papua sejak tahun 2012. Selain menjadi pilot, dia juga suka menulis di berbagai situs internasional seperti Flyer Magazine dan The Huffington Post mengenai dunia penerbangan.

Matt sendiri mengakui kalau penerbangan dari Kegata ke Apowo dihiasi pemandangan indah. Walau, landasan pacunya hanya berupa tanah dan sangat licin jika sudah terkena hujan. Penerbangan 73 detik yang menurutnya menyenangkan!

Sayang, Matt tidak menjelaskan dengan rinci harga tiket penerbangan dari Kegata dan Apowo yang untuk standar penerbangan perintis mencapai kisaran harga Rp 200.000 hingga Rp 500.000.

Berikut, cuplikan video penerbangan Matt dari Nabire - Kegata - Apowo, dan kembali ke Nabire :

 
Silahkan berkomentar
  • Blogger Berkomentar dengan Blogger
  • Facebook Berkomentar dengan Facebook
  • Disqus Berkomentar dengan Disqus

No comments :