Tradisi dan Budaya

[tradisi][threecolumns]

Sosial dan Komunitas

[sosial][list]

Pariwisata dan Rekreasi

[pariwisata][threecolumns]

Ekonomi

[ekonomi][list]

Politik

[politik][twocolumns]

Olahraga

[olahraga][bleft]

Pendidikan

[pendidikan][list]

Kesehatan

[kesehatan][list]

Hiburan

[hiburan][threecolumns]

Lingkungan

[lingkungan][list]

Teknologi

[teknologi][list]

Administrasi Pemerintahan

[pemerintah][twocolumns]

Laporan Otonomi Baru

[pemekaran][list]

Laporan Otonomi Khusus

[otonomi khusus][list]

Hukum dan Kriminal

[hukum][threecolumns]

Kecelakaan

[kecelakaan][list]

Bencana Alam

[bencana][list]

Tuesday, 30 June 2015

Sunat Modern di Kota Jayapura, Kabupaten Jayawijaya, Kabupaten Paniai dan Kabupaten Manokwari

KOTA JAYAPURA - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua dan Papua Barat mulai melakukan sirkumsisi prepex atau sunat modern kepada warganya. Sirkumsisi prepex secara gratis ini dalam tahapan awal dilakukan di empat daerah yakni Kota Jayapura, Kabupaten Jayawijaya, Kabupaten Paniai dan Kabupaten Manokwari.

Di Kota Jayapura, sunat ini mulai dilaksanakan pada 29 Juni hingga 3 Juli. Sekitar 110 orang yang telah mendaftar di hari pertama tersebut. Salah satunya adalah Bupati Keerom, Yusuf Wally dan Sekretaris Komisi Penanggulangan Aids Daerah (KPAD) Papua, Constant Karma.

"Sirkumsisi ini aman dan nyaman, tanpa rasa sakit dan usai melakukan sirkumsisi, kami bisa langsung beraktifitas seperti biasanya. Teman-teman lihat saya kan? Saya enjoy," kata Karma sambil tersenyum, usai melakukan sirkumsisi yang dilaksanakan disalah satu ruangan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Jayapura, Senin (29/6).

Lanjut Karma, untuk di Kota Jayapura, ditargetkan akan terkumpul 310 orang yang sudah mendaftar sirkumsisi, sementara untuk pembagian di Wamena, Kabupaten Jayawijaya akan dilakukan kepada 190-an orang, di Enarotali, Kabupaten Paniai 150 orang dan Kabupaten Manokwari, sekitar 200-an orang.

Provinsi Papua merupakan provinsi pertama dalam melakukan sirkumsisi prepex di Indonesia. Untuk tahapan awal, Tanah Papua diberikan jatah 1800 unit prepex dari Bill Clinton Foundatioan melalui Clinton Health Access Initiative (CHAI).

Jika tahap awal ini berhasil, Tanah Papua akan mendapatkan jatah kembali dari lembaga donor sekitar 10 ribu prepex. Sirkumsisi prepex awal ini dibantu oleh 4 dokter yang telah mengikuti pelatihan di Rwanda dan dibantu dengan 4 orang mantri.

Nantinya para dokter dan mantri ini akan mobile memberikan pelatihan kepada petugas medis lainnya.

"1800-an prepex tahap awal ini harus dihabiskan dalam jangka waktu 2 bulan. Untuk sementara prepex ini belum diperjual-belikan. Jika dihargai satu prepex senilai 25 dolar. Prepex diproduksi untuk memenuhi program dengan tujuan bisa menekan penyebaran HIV AIDS,'' jelas Karma.

Prepex juga memiliki ukuran A-E. A merupakan ukuran terkecil, sedangkan E merupakan ukuran terbesar. Rata-rata masayarakat Papua yang melakukan sirkumsisi hari ini memakai ukuran C dan D. "Dalam sirkumsisi, satu orang hanya membutuhkan waktu sekitar 5 menit," ujarnya.

Langsung dapat beraktivitas seperti biasa

Cara kerja sirkumsisi prepex Sirkumsisi prepex bekerja dengan sederhana. Diawali dengan cara membersihkan penis laki-laki, kemudian di ukur, setelah ujung penis dibaluri cream anastesi untuk membuat kekebalan kulit dan juga berfungsi agar tidak muncul rasa geli.

Selanjutnya dipasang perpex yang berbentuk dua buah ring. Ring berwarna hitam dan putih di masukkan ke penis sesuai dengan ukuran. Ring warna putih dimasukkan di bagian dalam kulit penis, kemudian ring hitam diluangkan di kulit luar.

Ring tersebut akan menjepit kulit penis sehingga mematikan aliran darah, saraf, nutrisi makanan ke kulit penis yang akan dipotong.

"Dengan terhentinya aliran darah, saraf dan nutrisi ke kulit tersebut, dengan sendirinya kulit akan mati dan jika kulit mati itu dipotong tak akan terasa sakit dan mengeluarkan darah. Setelah kulit mati dipotong, maka pasien dapat beraktifitas seperti biasanya," kata Dokter Suwardi ditempat yang sama.

Sirkumssisi dengan prepex bisa dilakukan bagi anak berusia 15 tahun keatas. KPAD optimis dengan antuasias warga yang mendaftar, target bisa terpenuhi. "Kamu lihat kan, banyak ibu-ibu yang datang mengantarkan anaknya bahkan suaminya untuk dilakukan sirkumsisi hari ini. Semoga usaha sosialisasi selama 6 tahun tentang sirkumsisi ini dapat dipahami warga," ucap Karma kembali.

Reynold Suwae (16) salah seorang siswa asal Papua yang sedang melanjutkan SMA di Kota Malang sengaja memilih sirkumsisi hari ini, salah satunya karena dirinya sedang liburan dan tak mau masa liburan itu terganggu karena sunat yang sedang dijalaninya.

"Ini juga anjuran dari kakek saya yang menyarankan sunatan dengan sirkumsisi, sebab katanya ini merupakan sunat modern, tanpa rasa sakit dan mmengeluarkan darah. Apalagi saya sedang liburan dan tak mau masa liburan ini harus terhenti karena proses sunat. Awal diberitahukan saya memanng gugup, tapi setelah dilakukan sirkumsisi tak rasakan apa-apa dan biasa saja. Apalagi dengan kita sunat dapat lebih hidup sehat dan bersih," ucapnya mantap.

Sirkumsisi di Papua merupakan hal baru, kalau di daerah lain di Indonesia anak laki-laki yang sudah berusia 7 tahun di sirkumsisi. Tetapi di Papua proses sirkumsisi tidak dikenal, hanya beberapa suku di Papua yang mengenal sirkumsisi.

''Kami di Maybrat Sorong, anak laki-laki sebelum usia remaja disunat secara tradisional, menggunakan bilah bambu,'' jelas Jimmy Idjie warga Sorong. [Gatra]
Silahkan berkomentar
  • Blogger Berkomentar dengan Blogger
  • Facebook Berkomentar dengan Facebook
  • Disqus Berkomentar dengan Disqus

No comments :