Tradisi dan Budaya

[tradisi][threecolumns]

Sosial dan Komunitas

[sosial][list]

Pariwisata dan Rekreasi

[pariwisata][threecolumns]

Ekonomi

[ekonomi][list]

Politik

[politik][twocolumns]

Olahraga

[olahraga][bleft]

Pendidikan

[pendidikan][list]

Kesehatan

[kesehatan][list]

Hiburan

[hiburan][threecolumns]

Lingkungan

[lingkungan][list]

Teknologi

[teknologi][list]

Administrasi Pemerintahan

[pemerintah][twocolumns]

Laporan Otonomi Baru

[pemekaran][list]

Laporan Otonomi Khusus

[otonomi khusus][list]

Hukum dan Kriminal

[hukum][threecolumns]

Kecelakaan

[kecelakaan][list]

Bencana Alam

[bencana][list]

Tuesday, 21 July 2015

Security Vihara Buddha Sorong Boswezen Tewas Tergantung di Pohon Kelapa

KOTA SORONG – Setelah beberapa hari  tidak pulang ke rumah dan dikabarkan hilang sejak Rabu (15/7), Elias Marani (30), security Vihara Buddha Sorong Boswezen ditemukan tak bernyawa, Jumat (17/7) pukul 11.00 WIT. Korban ditemukan dalam kondisi tergantung di atas pohon kelapa di areal vihara dengan posisi kepala dibawah, sedangkan kakinya terjepit di pelepah kelapa.

Setelah ditemukan, jenazah yang ditemukan adik kandungnya sendiri, Marten Marani itu dibawa ke kamar mayat RSUD Sorong guna dilakukan otopsi untuk mengetahui penyebab kematiannya. Paman Korban, Anton Isir yang ditemui Radar Sorong di kamar mayat RSUD Sorong mengungkapkan, jika korban sudah tidak pulang beberapa hari dan ditemukan sudah meninggal dunia. Keluarga meminta jenazah diotopsi agar memastikan penyebab kematiannya.

Proses otopsi yang dimulai pukul 16.45 WIT oleh dr. Denny Saleh, Sp.B, seorang dokter dari pihak kepolisian, serta 5 petugas kamar mayat. otopsi juga disaksikan keluarga korban.

Sementara itu, Pimpinan Vihara Buddha Sorong Boswezen, Rudi Wijaya yang dikonfirmasi Radar Sorong melalui telepon seluler me­ngakui jika korban merupakan security vihara yang sudah bekerja kurang lebih 3 tahun. Semasa hidupnya, korban dipercaya menjadi security bersama ayahnya yang mulai bekerja bersamaan.

“Karena bapaknya sakit sehing­ga dia jaga sendirian, mere­ka ini satu paket artinya masuk kerja sama-sama. Saya sekarang lagi di luar kota tapi saya terima informasi dari sana (Sorong,red),”katanya.

Menurutnya, semasa hidup, korban dikenal baik, jujur dan bekerja dengan disiplin. Bahkan korban juga dikenal suka membantu jemaat saat hendak beribadah.

Sementara itu, jenazah almarhum Elias Marani telah dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Rufei Sorong Sabtu (18/7) pukul 13.00 WIT.

Menurut Samuel Marani selaku keluarga, almarhum selesai diotopsi sekitar pukul 19.30 WIT, Jumat lalu.“Setengah 8 malam itu sudah selesai dimandikan dan dipakaikan baju, setengah jam kemudian baru kita bawa kembali ke rumah di daerah Pasar Boswesen dengan Ambulance dari RSUD,”paparnya.

Kemudian, pada Sabtu sekitar pukul 12.00 WIT, almarhum dibawa ke TPU Rufei Sorong dan dimakamkan pukul 13.00 WIT. Untuk sementara belum ada hasil otopsi dari pihak RSUD Kabupaten Sorong mengenai sebab kematian dari almarhum mengingat hal tersebut harus sesuai dengan prosedur.

“Nanti dari pihak RSUD menyampaikan hasil otopsinya ke pihak penyidik, dan dari pihak penyidik yang nanti akan memberikan penjelasan mengenai hasilnya ke pihak keluarga,” ungkap Samuel.

Ia juga belum bisa memastikan kapan hasil otopsi tersebut akan diberikan kepada pihak keluarga, dan sampai saat ini, pihak keluarga menyerahkan kasus ini seluruhnya kepihak kepolisian untuk membantu pihak keluarga mengungkap sebab kematian dari almarhum.“Kita keluarga hanya menunggu hasilnya, dan apakah kasus ini akan diselesaikan atau dilanjutkan  sesuai prosedur hukum yang berlaku,”tambahnya.

Setelah almarhum dimakamkan, pihak keluarga bergegas menuju tempat kematian almarhum di Vihara Boswezen, untuk melakukan upacara adat Serui agar almarhum dapat pergi dengan tenang.

“Tadi dari kuburan kita langsung kesini buat acara adat dulu, baru habis itu kita pulang ke rumah. Karena almarhum ini kan meninggalnya tidak wajar jadi, menurut kita arwahnya masih akan datang ke sini. Tadi sudah ditabur kapur oleh keluarga di sekeliling pohon kelapa itu, setelah itu pohon kelapanya ditebang, dan daunnya nanti dibawa pulang ke rumah dan dipukul-pukul ke rumah untuk tanda biar arwahnya tidak datang-datang lagi ke rumah,”ungkapnya. Selain itu juga membagikan pinang ke keluarga yang menyaksikan upacara adat tersebut.

Berdasar pantauan Radar Sorong, ketika pohon kelapa yang menjadi tempat kematian almarhum ditumbangkan, terlihat sebagian keluarga memukul-mukul seng, sebagiannya lagi mengambil beberapa dahan pohon dan dipukulkan ke pohon kelapa yang tumbang itu, alasannya menurut Samuel mereka mengundang arwah almarhum, dan menyuruhnya untuk pergi dengan tenang.

Posisi pohon kelapa tersebut berada tidak jauh dari lapangan tenis. Terdapat beberapa pohon kelapa yang ada disekitar pohon kelapa tempat almarhum meninggal. Ukuran pohon kelapa yang menjadi tempat korban meninggal pun tidak begitu tinggi dibandingkan dua pohon yang mengapitnya dari kanan dan kiri. Pihak keluarga menyerahkan sepenuhnya kasus ini ke pihak kepolisian.

Sementara itu, Kapolsek Sorong Barat AKP Zaini Abdilah Zainuri,S.Kom mengatakan, pihaknya masih melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab kematian Elias Marani. Meski dugaan penyebab kematian korban belum diketahui, namun Kapolsek mengatakan bahwa tidak ada tanda-tanda kekerasaan dari tubuh korban saat dilakukan visum.“Tidak ada tanda-tanda kekerasaan. Untuk penyebab kematiannya masih lidik (di­selidiki,Red),”kata Kapolsek dalam keterangannya, Minggu (19/7). [RadarSorong]
Silahkan berkomentar
  • Blogger Berkomentar dengan Blogger
  • Facebook Berkomentar dengan Facebook
  • Disqus Berkomentar dengan Disqus

No comments :