Tradisi dan Budaya

[tradisi][threecolumns]

Sosial dan Komunitas

[sosial][list]

Pariwisata dan Rekreasi

[pariwisata][threecolumns]

Ekonomi

[ekonomi][list]

Politik

[politik][twocolumns]

Olahraga

[olahraga][bleft]

Pendidikan

[pendidikan][list]

Kesehatan

[kesehatan][list]

Hiburan

[hiburan][threecolumns]

Lingkungan

[lingkungan][list]

Teknologi

[teknologi][list]

Administrasi Pemerintahan

[pemerintah][twocolumns]

Laporan Otonomi Baru

[pemekaran][list]

Laporan Otonomi Khusus

[otonomi khusus][list]

Hukum dan Kriminal

[hukum][threecolumns]

Kecelakaan

[kecelakaan][list]

Bencana Alam

[bencana][list]

Wednesday, 12 August 2015

Kondisi Pasar Sementara Mama-mama Papua Semakin Tidak Terawat

KOTA JAYAPURA - Pemerintah Kota Jayapura dan Pemerintah Provinsi Papua seakan memandang sebelah mata tentang kondisi Pasar Sementara Mama-Mama Papua yang berada di Jl. Percetakan, Kelurahan Imbi, Distrik Jayapura Utara, Kota Jayapura ini.

Ada kurang lebih 300 pedagang di dalam pasar ini dimana semua pedagang adalah masyarakat asli Papua. Perihal keharusan pedagang asli Papua, sesuai dengan data Solidaritas Pedagang Asli Papua (SOLPAP).

Di gedung pasar, ada dua pintu besar yang disediakan. Salah satu pintunya mengarah ke Jayapura Utara. Sekitar 50 meter sebelum masuk pasar, ada tenda permanen berbahan kain campuran plastik bertiang rangka besi. 70 persen bagian tenda telah rusak dan harus segera diganti.

Menurut Sekretaris Solidaritas Pedagang Asli papua (SOLPAP), Roberth Jitmau, tenda tersebut seharusnya sudah diganti, “Tenda ini rusak sekitar bulan februari kemarin (tahun ini),” kata Rojit, demikian ia biasa disapa.

Jitmau juga mengatakan bahwa pemerintah berjanji akan mendirikan satu lokasi pasar tradisional khusus untuk pedagang asli Papua di kota Jayapura. Tapi sayang, janji itu tak pernah terealisasi hingga sekarang.

Hal yang sama juga disampaikan oleh mama Yosepine, salah satu pedagang yang dijumpai Cendana News

"Tenda ini sudah rusak parah. Pemerintah tidak punya mata kah? Ini pusat kota, pedagang harus lari berhamburan cari tempat berteduh jika hujan turun"

Masalah kondisi pasar yang memprihatinkan, menurut Rojit sepenuhnya tergantung pada seberapa besar kepedulian pemerintah khususnya Gubernur. Kondisi pasar seperti ini sudah terjadi sejak Gubernur sebelumnya hingga sekarang, pasar ini tidak sungguh-sungguh diperhatikan.

“Ada perintah Undang Undang 1945 sudah mengatur jelas mengenai kesejahteraan masyarakat. Dan Otonomi Khusus (Otsus) sendiri secara spesifik memerintahkan untuk proteksi orang Papua secara ekonomi,” tutur Rojit sapaan akrabnya.

Rojit menilai, kemungkinan besar belum ada kepercayaan pemerintah kepada orang Papua, karena satu posisi belum bisa berdagang secara profesional. Ia menginginkan ada pasar permanen agar ada pembinaan seperti diadakannya satu program cara berdagang yang baik di Balai Latihan Kerja (BLK).

“Seperti di Solo, Jawa Tengah, ada satu BLK yang khusus melatih pedagang menjadi pedagang profesional, itu saya lihat sendiri, saat saya di Solo. Kami inginkan kalau ada pasar permanen, berikan ruang kepada pedagang asli Papua agar dapat pelatihan cara berdagang yang baik. karena budaya dagang orang Papua belum maksimal seperti pedagang asal Makassar, Aceh dan Jawa,” ungkapnya.

“Orang Papua seperti saya sendiri kan kaget juga, dulunya setelah masa perang dunia kedua, kami di Papua langsung lompat ke zaman moderen, sehingga kami semua harus beradaptasi dengan zaman. Jadi kami memang harus lebih dulu dilatih bagaimana cara berdagang dan kami juga tetap berinteraksi dengan saudara-saudara yang berasal dari luar Papua agar kami semakin memiliki wawasan tentang pola dagang yang baik,” ucap Rojit.

Kepada Cendana News Rojit menyampaikan bahwa pemda sudah siapkan anggaran, menurut Rojit, anggaran yang disediakan sebesar 4,3 miliar untuk pembangunan awal dari pemda Papua, sedangkan anggaran dari pemerintah pusat, ia mengaku tidak tahu persis jumlahnya.

Yang jadi aneh menurut Rojit adalah, pemerintah pusat menginginkan bangun pasar berlantai 3 sedangkan pemda Papua ingin membangun 6 lantai. Dan itu artinya, pedagang masih harus menunggu, pertama menunggu adanya satu suara antara pemerintah Papua dan pusat, pasar akan dibangun berapa lantai. Sesudah itu masih harus menunggu kapan pasar mulai dibangun.

Rojit mengkhawatirkan kondisi pasar, jika tidak segera diperbaiki, dikhawatirkan rangka besi penyangga tenda permanen tersebut roboh dan menimpa pedagang.

"Jika itu terjadi, masalah akan menjadi semakin besar. Itu yang saya lihat pemerintah tidak memahami psikologis orang Papua,“ tegasnya

Tiap tahun, mereka menerima informasi bahwa pasar permanen akan dibangun, sayang penantian mereka tiap tahun terus sirna. Pemerintah daerah dan pusat sama-sama tidak ada yang bisa memberi jawaban pasti. [CendanaNews]
Silahkan berkomentar
  • Blogger Berkomentar dengan Blogger
  • Facebook Berkomentar dengan Facebook
  • Disqus Berkomentar dengan Disqus

No comments :