Tradisi dan Budaya

[tradisi][threecolumns]

Sosial dan Komunitas

[sosial][list]

Pariwisata dan Rekreasi

[pariwisata][threecolumns]

Ekonomi

[ekonomi][list]

Politik

[politik][twocolumns]

Olahraga

[olahraga][bleft]

Pendidikan

[pendidikan][list]

Kesehatan

[kesehatan][list]

Hiburan

[hiburan][threecolumns]

Lingkungan

[lingkungan][list]

Teknologi

[teknologi][list]

Administrasi Pemerintahan

[pemerintah][twocolumns]

Laporan Otonomi Baru

[pemekaran][list]

Laporan Otonomi Khusus

[otonomi khusus][list]

Hukum dan Kriminal

[hukum][threecolumns]

Kecelakaan

[kecelakaan][list]

Bencana Alam

[bencana][list]

Monday, 12 October 2015

Pemkab Asmat Diminta Fasilitasi Wisatawan ke Agats

AGATS (ASMAT) - Panitia Festival Budaya Asmat meminta Pemerintah Kabupaten Asmat menyediakan transportasi yang lebih banyak lagi dalam pagelaran budaya yang setiap tahunnya dilaksanakan ini. Salah satunya untuk mempermudah wisatawan lokal atau mancanegara dalam mengunjungi Asmat.

Maklum saja untuk tiba di kota dengan sebutan Kota Papan ini, hanya dapat dilalui dengan jalur transportasi udara dan transportasi laut.

“Untuk transportasi udara, pesawat yang saat ini melayani rute Timika-Asmat selalu penuh. Apalagi pesawat tersebut hanya bisa ditumpangi maksimal 8 orang. Sementara saat ini baru ada satu kapal milik pemkab setempat yang melayani Timika-Asmat dengan tarif subsidi dari pemerintah Rp 500.000 yang dikenakan per kepala,” jelas Ketua Panitia Festival Budaya Asmat tahun ini, Erick Sarkol, ketika dihubungi GATRAnews di Agats, ibukota Kabupaten Asmat.

Rata-rata wisatawan mancanegara yang sempat mengunjungi Asmat men-carter pesawat atau kadang menggunakan kapal pesiar untuk berwisata di kota itu. “Kalau mereka bepergian seorang diri, ini yang sangat dikhawatirkan untuk tak mendapatkan angkutan transportasi, jika tak dipesan jauh hari sebelumnya,” ujarnya.

Menahan diri

Walaupun Festival Budaya Asmat tahun ini tertunda, hampir 1000-an pengisi acara dalam pesta budaya itu sudah menyiapkan berbagai macam pertunjukkannya. Ribuan pengisi acara ini terdiri dari para pengukir, pemahat, penganyam dan penari yang harus bersabar terlebih dahulu hingga dijadwalkannya kembai festival ini pada Januari tahun depan.

Rata-rata kampung pengukir dan pemahat yang lebih aktif terletak di pesisir pantai, dibandingkan di pedalaman. Walaupun kampung dipedalaman bisa juga dilibatkan dalam pagelaran ini, namun warga yang terleetak di pedalaman ini kurang tertarik pada pesta itu.

“Ada sekitar 20 kampung yang masih aktif dalm melakukan aktifitas pehatan dan ukirannya. Kampung-kampung itu terletak di distrik sekitar Pantai Selatan, salah satunya Distrik Pantai Kasuari,” kata Erick yang juga menjabat sebagai Kurator Museum Asmaat.

Dalam pesta budaya, biasanya menarik tontonan banyak orang. Tak hanya dari masyarakat local, tetapi juga para tamu undangan dan pengisi acara lainnya. Apalagi sampai saat ini hujan belum juga turun di Agats dan dikhawatirkan makin banyaknya orang berkumpul, akan menyebabkan wabah diare atau penyakit lainnya, karena kurangnya air bersih itu. "Kami lebih baik membatalkan pesta budaya daripada ada musibah besar lainnya jika pesta ini dipaksakan,” pungkasnya. [Gatra]
Silahkan berkomentar
  • Blogger Berkomentar dengan Blogger
  • Facebook Berkomentar dengan Facebook
  • Disqus Berkomentar dengan Disqus

No comments :