Tradisi dan Budaya

[tradisi][threecolumns]

Sosial dan Komunitas

[sosial][list]

Pariwisata dan Rekreasi

[pariwisata][threecolumns]

Ekonomi

[ekonomi][list]

Politik

[politik][twocolumns]

Olahraga

[olahraga][bleft]

Pendidikan

[pendidikan][list]

Kesehatan

[kesehatan][list]

Hiburan

[hiburan][threecolumns]

Lingkungan

[lingkungan][list]

Teknologi

[teknologi][list]

Administrasi Pemerintahan

[pemerintah][twocolumns]

Laporan Otonomi Baru

[pemekaran][list]

Laporan Otonomi Khusus

[otonomi khusus][list]

Hukum dan Kriminal

[hukum][threecolumns]

Kecelakaan

[kecelakaan][list]

Bencana Alam

[bencana][list]

Friday, 30 October 2015

Warga Kamoro Diminta Syukuri Pembangunan Pabrik Sagu Rakyat

KEKWA (MIMIKA) - Uskup Timika Mgr John Philip Saklil Pr mengingatkan warga Kamoro untuk bersyukur atas pembangunan pabrik sagu rakyat  yang terletak di Kampung Keakwa, Distrik Mimika Tengah, Kabupaten Mimika oleh LPMAK, sebuah lembaga nirlaba yang mengelola dana kemitraan dari PT Freeport Indonesia.

"Pabrik sagu ini membawa suatu terang baru karena manusia butuh hidup, butuh makan dan minum. Ini menjadi harapan baru bagi semua orang," ujarnya saat peresmian pabrik sagu pada Selasa (27/10).

Ia meminta warga Keakwa untuk dapat menggunakan fasilitas yang dibangun dengan dana puluhan miliar itu guna membangun kehidupan mereka yang jauh lebih berkualitas.

"Kita punya pohon sagu tidak ada yang tanam. Tuhan yang tanam. Kalau pohon sagu dipotong terus maka lama kelamaan akan habis. Tugas kita semua untuk menanam sagu di lahan-lahan tidur untuk diwariskan ke anak cucu kita nanti," tutur Uskup Saklil mengingatkan warga Suku Kamoro.

Uskup menegaskan bahwa warga Suku Kamoro di wilayah pesisir Mimika hingga kini masih miskin di atas kekayaan alam mereka yang sangat berlimpah. Potensi sagu yang sangat luas, hasil-hasil laut dan sungai dan hutan yang melimpah hendaknya dapat diolah secara lestari dan berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas hidup warga setempat.

"Sebgaimana sagu, hasil laut seperti siput, karaka (kepiting), udang, dan ikan yang berlimpah-limpah itu menjadi berkat sehingga anak-anak bisa sekolah sampai jenjang perguruan tinggi, dapur tetap berasap dan masyarakat tidak sakit dan mati karena tidak mampu membayar biaya pengobatan. Kalau semua kekayaan alam yang Tuhan berikan secara cuma-cuma ini tidak mampu kita olah, kita tetap miskin di atas kekayaan alam kita," tuturnya.

Sekretaris Kampung Keakwa Wiro Potereyauw mewakili masyarakat setempat mengucapkan terima kasih atas perhatian LPMAK dan PT Freeport Indonesia karena telah membangun pabrik sagu di kampungnya.

"Mudah-mudahan fasilitas ini dapat menopang perekonomian rakyat Kampung Keakwa dan masyarakat Kamoro umumnya," harap Wiro.

Wiro mengatakan warga Keakwa dan kampung-kampung pesisir Mimika selama ini hanya mengandalkan hasil tangkapan ikan, udang, kepiting dan kelapa untuk bisa menghidupi keluarga maupun untuk menyekolahkan anak-anaknya.

Dengan adanya pabrik sagu rakyat di Keakwa, katanya, warga setempat memiliki tambahan sumber penghasilan. Warga Keakwa yang terbagi atas tiga marga akan secara berkelompok menjual batang-batang sagu dari lahan atau dusun sagu mereka ke pabrik sagu rakyat Keakwa.

Hal itu, katanya, merupakan angin segar bagi warga Keakwa dan kampung-kampung sekitar yang memiliki hamparan sagu yang sangat luas dan selama ini tidak termanfaatkan secara optimal untuk menunjang perekonomian rakyat.

Secara turun-temurun, katanya, warga Kamoro hanya memanfaatkan sebagian kecil sagu untuk konsumsi sehari-hari. [Antara]
Silahkan berkomentar
  • Blogger Berkomentar dengan Blogger
  • Facebook Berkomentar dengan Facebook
  • Disqus Berkomentar dengan Disqus

No comments :