Tradisi dan Budaya

[tradisi][threecolumns]

Sosial dan Komunitas

[sosial][list]

Pariwisata dan Rekreasi

[pariwisata][threecolumns]

Ekonomi

[ekonomi][list]

Politik

[politik][twocolumns]

Olahraga

[olahraga][bleft]

Pendidikan

[pendidikan][list]

Kesehatan

[kesehatan][list]

Hiburan

[hiburan][threecolumns]

Lingkungan

[lingkungan][list]

Teknologi

[teknologi][list]

Administrasi Pemerintahan

[pemerintah][twocolumns]

Laporan Otonomi Baru

[pemekaran][list]

Laporan Otonomi Khusus

[otonomi khusus][list]

Hukum dan Kriminal

[hukum][threecolumns]

Kecelakaan

[kecelakaan][list]

Bencana Alam

[bencana][list]

Tuesday, 3 November 2015

Bastian Salabai Ajak Gereja dan Masyarakat Manokwari Peduli Masalah Sosial

MANOKWARI - Bupati Manokwari, Bastian Salabai mengajak gereja dan masyarakat agar peka dan peduli terhadap perkembangan Kabupaten Manokwari sebagai ibukota Provinsi Papua Barat, yang penduduknya semakin heterogen, banyaknya latar belakang sosial, budaya, agama, suku dan golongan serta jumlah penduduk yang terus mengalami peningkatan.

Perkembangan yang cukup signifikan ini, tentunya akan diikuti pula dengan berbagai problem penyakit sosial kemasyarakat di daerah ini yang patut menjadi perhatian bersama, agar tidak terjadi benturan dan gesekan yang dipicu pola pikir kesukuan atau Primordialisme sempit. Dalam hal inilah, gereja, masyarakat dan pemerintah harus peka dan peduli terhadap situasi perkembangan kehidupan masyarakat. Waspadailah hal ini, gereja harus melayani tanpa sekat, tanpa membedakan suku dan asal usul.

Bupati Bastian Salabai mengimbau kepada seluruh masyarakat, terutama jemaat supaya dalam membangun kemuliaan dan syalom Allah, harus hidup bersama dengan orang lain, itu yang Tuhan kehendaki.

“Kasih itu tidak memandang latar belakang sosial kita. Membangun Manokwari yang kita cintai ini diperlukan kebersamaan kita semua. Karena hanya dengan kebersamaan, kita bisa membangun Manokwari yang damai sejahtera, religius dan bermartabat,” ujar Bupati.

“Biarlah melalui gereja kita bangkit bersama menuju hidup baru yang berkemanangan. Perlu kita sadari bersama bahwa Manokwari sebagai kota injil harus mencerminkan hidup di dalam Kristus. Kota injil bukan semboyan dan bukan atribut. Kita harus dapat mengimplementasikan kehidupan rohani kita menjadi pelaku firman yang menggambarkan sikap perilaku yang beriman,” ujarnya.

Dikatakannya, gereja harus dapat menebar kehidupan yang toleran, rukun dan damai. Gereja harus ramah budaya, tanpa merendahkan gereja dan budaya lain, karena didalamya terkandung satu nilai yang sama yaitu, nilai ketuhanan dan kemanusiaan. Hal ini akan terwujud apabila ada komitmen dan kesungguhan dari denominasi gereja di kota injil ini.

“Saya ajak warga jemaat dan masyarakat Manokwari, mari kita perkuat persaudaraan, persatuan dan kesatuan, sebagai persekutuan orang yang indah buat Tuhan, masyarakat dan bangsa, khususnya dalam menyingsong pesta demokrasi 9 Desember 2015. Mari kita jaga kamtibmas di lingkungan masing-masing, demi kelancaran dan suksesnya Pilkada 9 Desember nanti,” kata Salabai. [mediapapua]
Silahkan berkomentar
  • Blogger Berkomentar dengan Blogger
  • Facebook Berkomentar dengan Facebook
  • Disqus Berkomentar dengan Disqus

No comments :