Tradisi dan Budaya

[tradisi][threecolumns]

Sosial dan Komunitas

[sosial][list]

Pariwisata dan Rekreasi

[pariwisata][threecolumns]

Ekonomi

[ekonomi][list]

Politik

[politik][twocolumns]

Olahraga

[olahraga][bleft]

Pendidikan

[pendidikan][list]

Kesehatan

[kesehatan][list]

Hiburan

[hiburan][threecolumns]

Lingkungan

[lingkungan][list]

Teknologi

[teknologi][list]

Administrasi Pemerintahan

[pemerintah][twocolumns]

Laporan Otonomi Baru

[pemekaran][list]

Laporan Otonomi Khusus

[otonomi khusus][list]

Hukum dan Kriminal

[hukum][threecolumns]

Kecelakaan

[kecelakaan][list]

Bencana Alam

[bencana][list]

Saturday, 21 November 2015

Silas Natkime Nilai Perilaku Setya Novanto Memalukan

TIMIKA (MIMIKA) – Pemilik Hak Ulayat Gunung Tembagapura, Silas Natkime menilai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Setya Novanto telah memalukan negara terutama Presiden Joko Widodo, Wakil Presiden Jusuf Kalla dan semua wakil rakyat di gedung terhormat.

“Dia seharusnya paham sebagai wakil rakyat yang harusnya memberi contoh baik kepada warga Indonesia dia juga bukan orang susah seperti yang ada di banyak-banyak kampung di Timika khususnya dan Papua pada umumnya,” ujar Silas Natkime kepada Salam Papua, Jumat (20/11).

Ia melanjutkan, Setya Novanto atau sering dipanggil Setnov harusnya dapat menghormati statusnya sebagai wakil rakyat yang memiliki peranan untuk menolong masyarakat secara umum, bukannya kepada perusahaan tertentu apalagi memeras untuk keuntungan pribadi.

“Dia adalah manusia terpelajar yang dinilai pantas mewakili rakyat, karena dipilih untuk masuk ke Senayan. Jadi tidak ada alasan pantas untuk dia melakukan praktik penodongan kepada perusahaan PT Freeport seperti itu,” tegas dia.

Selaku pemilik hak ulayat di wilayah Grassberg, areal lokasi tambang PTFI, Silas merasa aneh dan lucu karena pemerintah pusat justru memelihara oknum seperti Setnov yang mengaku sebagai pemimpin bangsa. Tetapi kelakukannya malah lebih buruk dari masyarakat kampung yang datang kemudian mengemis dan minta hak-hak mereka.

Ia menilai masyarakat kampung yang meminta itu masih wajar karena mereka tidak tahu apa-apa dan melakukannya secara spontan dibanding tindakan seorang politisi sekelas Ketua DPR RI yang merupakan pemimpin dari perwakilan 250 juta jiwa warga Indonesia. Sehingga tindakan ini adalah aksi yang mengada-ada dan tidak dapat dibiarkan begitu saja.

“Presiden Jokowi dan Wapres JK harus pecat dia atau Dewan Kehormatan DPR RI juga tidak perlu serahkan masalah pecat atau tidak ini ke kepolisian. Itu kan hak dan kewenangan dari DK DPR RI dan sudah jelas manusia begini bikin malu negara dan rakyat,” tandas Silas Natkime.

Menurut tokoh masyarakat pemilik gunung yang diolah PT Freeport Indonesia sejak tahun 1979 ini, bagaimana mungkin karakter seorang pemimpin bersikap koruptif seperti itu, karena Setnov yang ketahuan memanfaatkan nama presiden dan wapres malah  meminta jatah 20 persen dari saham perusahaan. Hal ini berbanding tebalik dengan masyarakat asli Mimika yang kesulitan sekali meminta jatah 1 persen dari PTFI hingga memakan waktu bertahun-tahun.

“Manusia sepeti Setya Novanto itu tidak layak men jadi pemimpin negara. Dia hanya bisa bikin masalah buat rakyat banyak. Presiden tidak boleh pelihara manusia seperti ini . Mari kita dukung presiden dan wapres agar pemerintahan ini tidak dikotori oleh manusia-manusia macam begini. Pecat saja dia karena masih banyak orang Indonesia lain yang jauh lebih hebat dan punya hati nurani,” tukas Silas. [SalamPapua]
Silahkan berkomentar
  • Blogger Berkomentar dengan Blogger
  • Facebook Berkomentar dengan Facebook
  • Disqus Berkomentar dengan Disqus

No comments :