Tradisi dan Budaya

[tradisi][threecolumns]

Sosial dan Komunitas

[sosial][list]

Pariwisata dan Rekreasi

[pariwisata][threecolumns]

Ekonomi

[ekonomi][list]

Politik

[politik][twocolumns]

Olahraga

[olahraga][bleft]

Pendidikan

[pendidikan][list]

Kesehatan

[kesehatan][list]

Hiburan

[hiburan][threecolumns]

Lingkungan

[lingkungan][list]

Teknologi

[teknologi][list]

Administrasi Pemerintahan

[pemerintah][twocolumns]

Laporan Otonomi Baru

[pemekaran][list]

Laporan Otonomi Khusus

[otonomi khusus][list]

Hukum dan Kriminal

[hukum][threecolumns]

Kecelakaan

[kecelakaan][list]

Bencana Alam

[bencana][list]

Sunday, 11 December 2016

Mahasiswa Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Papua Miliki Talenta Terpendam

WAENA (KOTA JAYAPURA) - Mahasiswa Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Papua memiliki banyak talenta yang terpendam di bidang seni, karena budayanya yang bervariasi. Hal ini diungkapkan Rektor ISBI Papua, Prof. Dr. I Wayan Rai, usai kegiatan pentas seni budaya di kampus setempat, Sabtu (10/12/2016).

"Banyak bakat-bakat mereka yang terpendam di dalam dirinya. Nah, sebagai dosen, kami tak mungkin memaksakan kehendak kami agar anak-anak Papua ini mengikuti kemauan kami," kata I Wayan, saat ditemui usai gelar acara pentas seni budaya.

ISBI di Papua yang berpusat di Kota Jayapura, dengan usia berjalan dua tahun dua bulan ini, menurutnya, sangat bagus untuk melahirkan seniman-seniman yang dapat mengangkat budaya secara umum dan secara khusus di Tanah Papua. "Usia ISBI Papua baru dua tahun dua bulan. Pada 6 Oktober 2016 lalu, Dies Natalis atau ulang tahun yang kedua. Di ulang tahunnya kedua kemarin temanya Tradisi dan Inovasi," tuturnya.

Pihaknya terus-menerus berupaya memberikan yang terbaik kepada anak didiknya, agar setiap mahasiswa dapat berinovasi dengan karya-karya yang didapat dari tenaga pengajar yang ada di kampus tersebut. "Di kampus ini ada 30 tenaga pengajar kontrak, dan baru saya saja yang dosen tetap," ujarnya.

Dari 255 mahasiswa dan mahasiswi di kampus itu, menurut I Wayan, tenaga pengajar bisa dibilang sangat kurang. Idealnya, 100 tenaga pengajar. "Kalau di kampus lain bisa satu dosen mengajar 20 orang, sedangkan di kampus seni ini satu banding lima, agar anak-anak dapat menerima dengan baik pelajaran yang diberikan," kata mantan Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Bali selama dua periode itu.

Menurutnya, tradisi budaya Papua yang tertanam di setiap mahasiswa membuat mereka percaya diri untuk mengangkat daerahnya. "Itulah mengapa, saya merasa mendapatkan sesuatu yang positif. Mereka harus terus berkreasi," ujarnya.

Seperti dalam pentas seni yang digelar malam ini, kata I Wayan, semuanya tampil sangat serius dengan hasil yang memuaskan. Reaksi mereka sangat luar biasa. Sampai ada yang secara tiba-tiba mengeluarkan talentanya yang tak ada dalam skenario kegiatan. "Seperti tiba-tiba menari dalam sebuah tarian baris budaya Papua dan Bali. Itu positif dan saya kaget," ujarnya.

Kampus ISBI Papua yang berada di kompleks Expo, Waena, Kota Jayapura, sejak dua tahun terakhir mulai ramai dikunjungi masyarakat yang ingin melihat lebih dekat aktifitas seni asal Papua. (cendananews.com)
Silahkan berkomentar
  • Blogger Berkomentar dengan Blogger
  • Facebook Berkomentar dengan Facebook
  • Disqus Berkomentar dengan Disqus

No comments :